
Ternyata gue salah. Itu bukan Satriya, tapi masih satu genus dengan Satriya, sama-sama pake seragam ijo royo-royo. Sekitar dua orang prajurit bertamu ke rumah. Gue nggak tau apa yang mereka omongin karena gue cuma ngintip dari dalem. Yang jelas, salah satu diantara keduanya menyampaikan sebuah dokumen dalam sebuah amplop cokelat besar. Menilai dari ekspresi mereka sepertinya ada hal yang sangat penting sedang dibicarakan.
Tidak berapa lama, Kendra meminta sedikit waktu untuk kembali ke dalam. Dia nampak sedikit tergesa-gesa mencari letak keberadaan seragamnya. Ketika gue tanya kenapa, dia cuma jawab, "Aku ke kantor bentar ya" pamitnya seraya memakai baju kebesaran yang beberapa menit lalu baru gue tanggalkan itu.
"Ada apa?"
Dia berhenti sesaat di depan gue, tersenyum manis, tangannya terangkat membelai rambut gue lembut, "Nggak papa. Paling telat sejam lagi aku udah pulang. Kamu mau nitip sesuatu nggak?"
"Em.." gue berpikir, "Martabak telur ya.. pake telur ayam biasa satu butir, telur ayam kampung dua butir, terus telur bebek cerewet satu butir. Awas kalau telurnya ketuker!"
Mas suami ketawa, "Iya iya.. ditunggu ya Mami sayang. Muah.."
Eh tumben dia nggak protes permintaan gue yang suka seenak udel. Pake dikasih bonus cium segala lagi. Kan jadi pengen gue kurungin di kamar aja itu kesayangan.
"Senyam-senyum. Mikir ngeres ya?" si sayang godain gue.
"Ya iyalah.. masak enggak" jawab gue penuh percaya diri.
"Dasar kamu. Ya udah, aku pergi dulu ya. Assalamualaikum" Kendra ngasih tangannya buat gue cium.
"Walaikumsalam" jawab gue seraya menempelkan punggung tangannya di dahi.
Gue menghembuskan nafas kasar melihat mobil suami gue berjalan keluar halaman mengikuti kendaraan roda empat milik dua tamu tadi. Baru aja mau hepi-hepi sama mas Suami, eh udah ditinggal lagi. Gabut kan jadinya.
Haduh.. ngapain ya?
"Omsat..! Yuhuu... Nte Ta..! Gawat ini! Gawat!" gue gedor-gedor pintu rumahnya. "Kalau enggak dibuka gue masuk lewat jendela. Kalau dedek kenapa-kenapa salah kalian ya"
Suara gubrukan dan benda jatuh gue denger dari luar.. Ternyata ancaman gue berbobot juga. Hihi...
"Iya..iya.. apaan lagi sih?" Suara sebal Satriya membukakan pintu rumah. Tampak rambutnya masih acak-acakan, nafas ngos-ngosan, bibir bengkak sebelah, dan kaos yang kebalik makainya.
"Tuh restleting dinaikin dulu." ucap gue seraya melenggang santai masuk ke dalam rumah.
"Hah?" Satriya menunduk mengecek celananya, "Sialan. Udah gue naikin woy"
Gue duduk santai di sofa rumah tengah, kaki gue naikin, dan tangan gue meraih toples kuaci di sebelah. "Ena ena mulu. Udah **** kan? Jadi gue nggak ngerasa terlalu bersalah gitu menganggu ritual kalian"
"Sok-sokan bilang merasa bersalah. Nggak peduli gue udah crot apa belum lo pasti juga bakalan tetep nyelonong masuk" sahutnya menggebu-nggebu.
Duh, belum crot ini kalau gini ceritanya. Tapi biarinlah, Mamas gue tadi juga belum ****. Katanya sahabat, jadi harus senasib sepenanggungan dong.
"Kupasin gue kuaci!" seperti bu bos, gue menyodorkan toples isi kuaci ke hadapan mukanya.
"Iya nyah.. Ndoro kakung kemana ini nyah? Kok rakyat jelata nan gateng mempesona yang suruh ngupasin?" dia duduk di lantai bawah sambil ngupasin kulit kuaci buat gue, mana duduknya gegayaan kayak abdi dalem keraton lagi. Gue sukurin kalo entar kakinya kram.
"Biasa. Ngapelin mbak Pertiwi" jawab gue sekenanya.