Horizon

Horizon
Episode 84



Sebagai istri dimadu negara, gue nggak mungkin bisa protes dong kalau mas Suami harus menghabiskan waktunya buat kerja. Meskipun kadang kesel, tapi mana mungkin gue melarang mas Suami kalau sewaktu-waktu dibutuhkan negara. Emang sih si seksi nggak jadi pergi ke tanah antah berantah di sana, tapi sejak ketemu lagi sama Satriya hampir dua belas dari dua puluh empat jam setiap harinya habis bareng tuh kambing congek. Gue tahu suami gue tuh cerdas, menawan, dan mempesona. Tapi apa iya Satriya nggak bisa ngerjain semua-muanya sendiri tanpa bantuan ayang gue? Dikit-dikit nyariin si sayang, dikit-dikit nelponin si ayang. Hello... yang dapet promosi jabatan siapa yang repot siapa? Nggak nyadar apa di sini istrinya juga butuh belaian kasih sayang.


"Yaaang.. Ayo bobok!" gue merengek ke mas Suami yang lagi serius mantengin leptopnya bareng Satriya di ruang tamu.


"Kamu bobok duluan aja. Nanggung banget ini laporan udah harus jadi besok"


"Tapi ini dedek di perut nggak mau bobok kalau nggak dikelonin Papinya" gue beralasan.


"Ya udah sini. Kamu bobokan di paha aku." lelaki itu memberikan jalan tengah agar dia bisa tetap menyelesaikan pekerjaanya.


"Kok gitu? Nggak mau. Maunya bobok di kamar" gue mengerucutkan bibir.


"Ini yang pengen dikelonin dedeknya atau ibunya dedek?" Satriya meledek.


"Nggak usah ikut-ikutan ya. Udah dikodein juga biar pamit terus pulang, eh ini malah makin PW gegoleran di karpet." gue balik menyindir. Habis nggak ada peka-pekanya sih ini tetangga sebelah. Tau diri dong kalau istri yang punya rumah udah ngajakin suami bobok tuh artinya dia sudah tidak diinginkan lagi kehadirannya di rumah ini.


"Tuh kelonan sama Talitha aja. Suami lo milik gue malem ini" jijik banget emang tuh kecoa kudisan. Pake dirangkul-rangkul mesra segala lagi suami gue. Gue damprat lo banci kaleng!


"Mau gue sunat lagi lo? Lepasin nggak suami gue? Lepasin!"


"Yeee... galak banget sih ini betina! Cepet keriputan ntar"


"Sorry! Anti-aging gue ampuh, tidak terkalahkan"


"Halah. Cuma Ponds lima puluh rebuan aja" ledeknya nggak abis-abis.


"Sini lo.. sini lo.. Gue operasi burung lo biar buntung" gue langsung menyerang cowok nggak tau diri ini.


"Eh.. ampun-ampun.. Jangan dong nanti nasib istri gue gimana?" Satriya mencoba melepaskan diri dari cakaran kuku-kuku cantik gue. "Iya iya gue pulang" dia angkat tangan.


"Pergi sana. Jauh-jauh!" gue mengusir.


"Dadah bebeb! Jangan kangen gue ya.." pamitnya ala banci Thailand sambil dadah-dadah manja ke suami gue.


Mendapat lemparan kotak tissue, mantan calon suami gue ini langsung tobat, "Iya nyah.. Maaf nyah" dia mohon-mohon ampun sebelum menghilang ke balik pintu.


"Sekarang ayang tutup leptopnya terus bobok" sisa-sisa kegalakan gue masih ada.


"Iya iya ini ditutup. Tapi kamu lucu deh, masa sama Satriya aja gitu."


"Aku kan cemburu!" ujar gue gamblang.


Si seksi malah ketawa, "Kayak kita doyan pedang-pedangan aja"


"Tetep, aku nggak suka bagi-bagi kamu. Mau itu sama cewek atau cowok!"


"Posesifnya istri aku" Mas suami merengkuh badan gue, lalu dibopong ke dalem kamar, "Sini aku kelonin" dia menjatuhkan tubuh gue bersamaan dengan tubuhnya di atas kasur.