Horizon

Horizon
Episode 40



Naik unta ternyata lucu. Cem naik perahu. Naik turun seperti dihempas gelombang laut. Unik memang hewan padang pasir ini. Cara jalannya tuh unik, kaki kanan depan belakang melangkah barengan. Padahal kan biasanya kalau kaki depan kanan yang maju, kaki belakang kiri yang ikut maju.


"Ayang sini deketan" rengek gue.


"Iya ini udah deket" Mas suami makin merapatkan dada bidangnya ke tubuh gue. Haduh, serasa syuting Ayat-Ayat Cinta. "Yang, untanya gedhe banget ya. Kalau dimasak bisa buat makan berapa orang ya?"


"Kamu ini. Pikirannya makanan mulu. Kasihan ini untanya denger. Ntar ngambek kamu diturunin di tengah gurun, mau?"


"Mana bisa unta ngerti bahasa manusia" gue berdalih. Emang ada-ada aja deh suami gue. "Eh yang, waktu kita ngelewatin kota Rabat tadi kok kayaknya aku liat ada jalan namanya Bandung sih"


"Nggak cuma Jalan Bandung, tapi Jalan Soekarno juga ada"


Pupil mata gue membesar mendapati fakta ini, "Emang orang Maroko ada yang namanya Soekarno juga?"


Pletak.. jidat gue kena toyor si sayang.


"Kamu ini kalau pelajaran Sejarah kemana aja sih?" gerutu suami gue. Heleh, situ pelajaran Sejarah juga remidi terus. Curiga gue, jangan-jangan sebelum ngajak gue ke sini si sayang udah belajar duluan tentang kota ini. Biar kelihatan pinteran dikit di depan istrinya. Ck, licik. "Itu diambil dari nama Presiden kita, Pak Karno" lanjutnya menerangkan.


"Kok gitu? Emang Pak Karno keturunan orang Maroko" gue pura-pura bego.


"Aduduh Sa.. beneran ya kamu ini. Masak sejarah bangsa sendiri nggak tau. Dulu kan Pak Karno ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Maroko. Bahkan Indonesia yang pertama kali mengakui kedaulatan Maroko. Makanya untuk mengenang jasa beliau, Raja Maroko menamai salah satu jalannya dengan Soekarno Rue, atau jalan Soekarno. Sedangkan yang jalan Bandung itu karena Maroko merdeka dua tahun setelah diperjuangkan lewat Konferensi Asia-Afrika yang dilaksanakan di Bandung."


"O gitu.." gue mangut-mangut, sementara si seksi makin membusungkan dada merasa taktiknya untuk tampil pinteran dikit di depan gue berhasil.


"Yang di Tanah Abang itu ya?" celutuk gue.


"Nah itu tau. Di dunia ini ada tiga jalan yang dikasih nama jalan Soekarno, satu di Maroko, satu di Pakistan, dan satunya lagi di Mesir."


"Wuah.. bisa gitu ya? Femes banget dong dulu Pak Soekarno" gue termangu.


"Makanya belajar Sejarah. Kita juga punya orang-orang besar yang sangat dihormati dan dibanggakan di kancah Internasional. Mirisnya, generasi muda sekarang udah nggak kenal sama pahlawan-pahlawannya, digantikan sama Ultramen, Baja Hitam, Spiderman, sama Power Rangers. Makanya bocil-bocil jaman sekarang makin nggak kenal tata krama dan sopan santun sama orang yang lebih tua. Nanti kalau kita punya anak, pokoknya jangan sampai kayak gitu. Masak bapaknya banting tulang siang malem demi negara tapi anaknya nggak bisa menghormati negara. Amit-amit jabang bayi" ucapnya sambil menepuk-nepuk perut gue.


"Emm... ngomongin soal anak, kapan ini yang mau bikinnya?" sebuah topik pembicaraan yang sayang untuk dilewatkan.


"Emang kamu udah selesai menstruasinya?" wajah Kendra menegang menunggu jawaban dari gue.


Guenya malah cekikian, "Hehe.. tinggal keramas aja yang"


"Kita puter balik. Aku keramasin kalau perlu"


Adududuh.. bebeb gue ternyata udah nggak sabar. Wahai cacing Alaska yang budiman, siap-siap masuk ke sarangmu.. Uhuy.. 💋