
Sepanjang jalan, gue masih diem aja. Nggak dengerin si Mamas yang ngoceh panjang kali lebar di bangku pengemudi.
"Kamu kok diemin aku sih? Masih marah ya?" tanya si ganteng karena gue tak juga merespon obrolannya.
"Menurut kamu?" balas gue sinis.
"Jangan marah lagi dong yang.. aku kan udah minta maaf. Aku harus gimana ini biar dimaafin kamu?" Mas suami coba baik-baikin gue.
"Dimaafin kalau udah makan kerang" ketus gue.
"Aduh warung seafood mana sih yang masih buka jam segini" ucap Kendra pada dirinya sendiri sambil celingukan ngeliat ke kanan dan ke kiri jalan. "Nah itu ada warung seafood!" nada suaranya berubah semangat mendapati sebuah spanduk besar di tepi jalan dengan gambar udang besar di tengahnya. "Loh kok udah beres-beres aja sih?" antusiasme lelaki itu berubah menjadi kekecewaan melihat penjual warung seafood di hadapannya itu mulai membereskan tenda kecil tempatnya mencari nafkah. "Bentar ya yang aku tanya dulu. Kamu tunggu di sini" Kendra segera menepikan mobilnya lalu meluncur keluar untuk mengecek keadaan.
"Gimana?" tanya gue sekembalinya lelaki itu dari arah warung.
"Habis yang. Udah mau tutup juga warungnya. Kita cari di deket alun-alun coba" jawab Kendra sembari menjalankan mesinnya kembali.
Tiga warung seafood sudah kita datangi, tapi sepertinya dewi fortuna belum berpihak ke gue, kalau nggak abis dagangannya ya udah mau tutup.
"Ada nggak?" tanya gue begitu Kendra kembali dari mengecek warung keempat yang kita datangi.
"Tinggal udang sama cumi. Susah yank cari kerang, lagi nggak musim katanya" jelas Mas suami dengan muka masam.
Gue mewek-mewek, "Tapi pengen makan kerang.."
Kendra mengacak rambutnya kasar, frustasi karena gue semakin merengek-rengek dan nggak bisa diajak kompromi.
"Pokoknya nggak mau pulang kalau belum makan kerang" ancam gue dengan bibir menjab-menjeb.
"Emm.. kalau besok aja gimana yang?"
"Huaaa... nggak mau.. maunya sekarang.. hua huaa" bak anak kecil, gue nangis histeris. Bodo mau diliatin orang-orang yang lewat. Pokoknya gue pengen makan kerang. Titik.
Merasa malu dilihat banyak orang lalu lalang, Mas suami segera membungkam mulut gue dengan telapak tangannya, "Aduh yank jangan nangis keras-keras gini dong. Malu aku diliatin orang. Disangkanya aku ngapa-ngapain kamu lagi"
Bukannya berhenti gue malah nangis makin kejer.
"Iya..iya.. kita makan kerang sekarang ya. Tapi berhenti dulu nangisnya. Aku cariin sampe dapet" tawaran Kendra membuat tangisan gue berangsur reda.
"Beneran?" ucap gue disela-sela isakan.
"Iya bener. Yuk masuk mobil lagi." ajak Mas suami.
"Kemana nyarinya?" gue masih sesenggukan.
"Kamu tunggu dulu bentar. Aku telepon anak-anak dulu"
Sambil mengitari mobil menuju tempat duduk pengemudi, Kendra mencari nomor yang tersimpan di kontak ponselnya dan menelepon nomor itu. Dari kalimat-kalimat yang dilontarkan lelaki itu, bisa gue tebak Mas suami nelpon salah satu anak buahnya yang lagi dapet piket patroli.
"Pokoknya gimana caranya harus ada malem ini" suara tegas bak jenderal tentara menguar dari bibir lelaki yang kini merapatkan sabuk pengaman di sebelah gue. "Saya tunggu kabarnya segera" ucap Kendra sebelum menutup teleponnya.
"Nelpon siapa?" gue basa-basi.
"Itu namanya memanfaatkan jabatan" gue meledek.
"Aku kerja kan buat kamu. Jabatan aku, uang aku, semuanya yang aku punya, cuma buat kamu seorang. Asalkan kamu bahagia, harus jungkir balik lompat jauh lempar lembing senam zumba pun akan aku jalani sayang. Eaaa" dia menaik-turunkan alisnya ngegodain gue, mencoba membuat suasana hati gue lebih baik. Usahanya tidak sia-sia, karena senyum tipis tanpa gue sadari mengembang di sudut bibir gue.
"Iiiih ayang... Makin jago aja sih nggombalinnya. Jadi pengen sun adeknya deh" gue nempel-nempel ke lengannya.
"Nggak ada. Ntar kamu PHP-in lagi. Sakit tau" lelaki itu ngedorong gue jauh.
"Yakin nggak mau? Jarang-jarang loh aku tawarin gini" gue masih bersikukuh.
"Apaan yang jarang? Orang hampir tiap malem kamu nyerang duluan" kilah si seksi bikin gue gigit jari.
Belum sempat menimpali, ponsel Mas suami berdering. Sebuah panggilan masuk dari salah satu anak buahnya.
"Gimana?" Mas suami bertanya dari ujung sambungan, "Udah dapet?... Oh gitu... Nggak jauh kan? Ya udah kalau gitu saya ke kantor aja sekarang.... Iya, kita ketemu di kantor sekitar lima belas menit lagi... Oke." Kendra memutuskan sambungannya.
Gue memandangi lelaki itu penuh harap, menanti penjelasan nasib kerang saos tiram gue.
"Tenang aja, kamu bakalan makan kerang malem ini" ucap Kendra sambil mainin rambut gue.
"Beneran?" mata gue melebar bahagia, "Warung mana yang masih punya kerang?"
"Warung Mas Ganteng" jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Hah? Dimana?" gue bertanya-tanya. Belum pernah gue denger nama itu sebelumnya.
"Warung Mas Ganteng. Dibuka khusus cuma buat Mbak Sasa seorang. Nih kokinya, ganteng kan?" Kendra nunjuk dirinya sendiri.
"Maksudnya? Kamu yang masak gitu?"
"Jadi aku kan tadi nyuruh anak-anak nyariin kerang. Nah kebetulan Pak Dhe-nya salah satu anak buah aku ada yang pebisnis seafood grosiran. Tapi kan masih mentah tuh, nanti aku masakin sendiri buat kamu" jelas Mas suami. "Senyam-senyum" Kendra nyentil bibir gue, "Seneng ya?"
"Seneng banget. Dimasakin kerang sama ayang" gue gelayutan manja di lengannya. "Terus ini kita kemana?"
"Ke kantor. Aku udah suruh anak-anak ngebersihin kerangnya dulu. Sekaligus nyiapin bumbu-bumbunya. Nanti sampai kantor langsung aku masakin. Biar kamu nggak nunggu lama juga"
Aduh.. senangnya hati ini punya Mas suami serba bisa diandalkan. Eh tapi kok kedutan terus gini sih mata gue, jangan-jangan anak buahnya Kendra lagi ngomongin gue ini. Ya maaf, siapa suruh punya komandan yang bucin istrinya. Ikutan kena getahnya kan kalian. Hehehe...
***
Pasukan Batalyon korban istri Pak Komandan
🧑 Ini kenapa ribet banget? Pake masker sama sarung tangan segala? Mau masak apa mau operasi plastik ini?
👦 Udah nurut aja! Kata Pak Bos makanan buat Bu Bos harus steril. Kalau Bu Bos muntah-muntah mau kamu disunat dua kali?
👲 Aaaakk... Jari gue kejepit kerang!!! Panggilin ambulans!!! Tolooong!!!