Horizon

Horizon
Episode 43



"Yang.. bangun yang" tidur gue terusik oleh tepukan kecil-kecil di pipi.


"Ngh" tentu saja, ini masih terlalu pagi, gue enggan membuka mata.


"Yang, udah adzan subuh itu loh" suara suami gue menganggu.


"Ngh.. lima menit lagi" gue berbalik memungunggi Kendra, masih dengan mata terpejam.


"Sholat dulu, nanti terus tidur lagi nggak papa" tangannya menegakkan tubuh gue yang masih enggan untuk beranjak.


"Yang.. ngantuk" gue protes.


"Ayok sholat dulu. Aku imamin"


Gue menguap dan perlahan membuka mata.


"Udah aku siapin itu airnya. Kamu mandi junub dulu sana" berbeda dengan gue yang masih berantakan, si sayang sudah rapi, bersih, dan wangi.


Eh, tunggu dulu. "YANG??? KENAPA AKU BUGIL??" gue histeris sendiri, menyilangkan tangan di depan dada.


"Amnesia kamu? Itu yang semalem minta nambah terus itu siapa? Masih tanya kenapa kamu nggak pake baju?"


O iya. Gue kan semalem iya-iya sama si sayang. Duh, jadi merah kan pipi gue..



Mamas ganteng mengerutkan dahi melihat tingkah gue yang malu-malu menutup wajah dengan kedua tangan, "Berarti ayang lihat aku bugil dong semalem" suara serak gue tertahan.


"Kenapa kalau lihat? Kita kan udah suami istri. Lagian kamu cantik kok dari ujung ke ujung. Sempurna. Udah jangan malu atau insecure, kamu itu sempurna" Mas suami mencoba menghibur.


"Bukan itu masalahnya" gue memperjelas.


"Terus kenapa?"


"Aku nggak sempet muasin-muasin liat abs kamu ke bawah. Kan curang!" gue cemberut. "Intip sekarang ya? ya? ya?" rajuk gue manja.


"Kamu sih merem-merem mulu semalem."


"Ya abis udah keenakan duluan sih. Saking menikmati momen jadi lupa segalanya" gue beralasan.


"Nagih kan? Berarti permainan aku semalem hebat dong" puas banget si ganteng dengan hasil kerja kerasnya.


"Nggak tau. Lupa" ucap gue singkat.


"Sekali lagi yuk! Biar inget" gue mencoba peruntungan.


"Yeee.. itumah maunya kamu. Mandi dulu sana." Mas suami meraup wajah gue dengan tangannya.


Ketika ingin menggerakkan kaki, rasa perih yang amat sangat seketika menjalar dari pusat gairah gue.


"Yang.." gue mewek. "Nggak bisa jalan ini"


Kendra menelan ludahnya, "Sakit?"


Gue mengangguk dengan bibir monyong-monyong ke depan, sebisa mungkin terlihat lemah tak berdaya. Biar dimanjain si seksi, hehe..


"Ya udah sini aku gendong" tanpa menunggu persetujuan lelaki itu meletakkan satu tangannya di punggung gue dan satunya lagi dibawah kedua lutut, membopong gue di depan dadanya. "Mau sekalian aku mandiin nggak?"


"Nanti nggak jadi mandi junub dong" gue realistis.


"Kan cuma mandiin. Nggak ngapa-ngapain. Emang kamu mikirnya mau diapain?" lelaki itu menurunkan tubuh gue di bath up.


"Ya jaga-jaga aja. Nanti kalau aku khilaf terus malah tambah basah? Nggak kelas-kelar dong mandinya" gue berkilah.


"Ya udah ini aku tinggal beneran?"


Gue mengiyakan.


"Kalau gitu aku tunggu di kamar ya? Nanti kalau masih sakit aku gendong lagi keluarnya."


"Eh yang, tunggu dulu" gue menahan lengannya.


Lelaki itu menaikkan satu alisnya, "Kenapa?"


Gue meletakkan jari telunjuk di depan bibir, "Morning kiss aku mana?"


"Sikat gigi dulu baru morning kiss" dia mencubit batang hidung gue.



"Assamualaikum Warrohmatulloh Hiwabarokatuh" suara lirih Kendra mengimami sholat subuh pertama kita sebagai suami istri. Setelah salam terakhir, lelaki itu berbalik badan dan menyodorkan tangannya untuk gue cium. Tidak lupa bibir Kendra mengecup sebentar dahi gue yang tertutup kain mukena lalu melanjutkan dzikirnya.


Butuh beberapa menit sebelum lelaki itu mengusap wajah dan mengucap amiin, tanda ritual menghadap Tuhannya sudah selesai. Begitu membalikkan badan ke belakang, wajah terkejut dan suara kekehan adalah yang pertama kali gue dapatkan.