Horizon

Horizon
Episode 37



Sedari tadi Mas suami sibuk memastikan hawa panas khas gurun pasir ini tidak menyengat permukaan kulit gue yang mulus. Dari gue dibelibet jaket, kepala dipakein topi, sampai leher dibalut syal. Takut banget ya Mas asetnya terpapar sinar jahat si ultraviolet? Tenang aja, adek rutin skincare-an kok. Tetep putih mulus siap dielus-elus.


Mobil korps diplomatik milik Kedutaan Besar Indonesia itupun melaku lincah membelah jalanan kota Casablanca yang dipadati pengguna jalan. Meskipun beribu kota di Rabat, tapi justri Casablanca lah yang menjadi titik metropolitan negara ini. Ditepian jalannya tumbuh pohon sawit hijau yang menjulang tinggi, sangat kontras dengan bangunan khas persegi empat yang didominasi warna putih di kanan kirinya


Jalan-jalan sempit seolah menjadi teman akrab para pejalan kaki. Gedung-gedung bergaya Art Deco serta rumah bata yang terkesan dingin berdesak-desakan memenuhi tata kota Mediterania ini. Terlihat beberapa pertunjukkan seni jalanan seperti atraksi penari ular, orkestra musik Afrika yang dipadu-padankan genderang Timur Tengah, dan aksi-aksi lain yang menarik perhatian.


Dari balik kaca mobil, gue mengangkat ponsel dan mengarahkan kamera ke atraksi semburan api yang dimainkan para seniman jalan itu. Tapi tangan Kendra menurunkan benda persegi panjang itu dan berkata, "Jangan difoto" larangnya.


"Loh kenapa?"


"Kamu belum tau ya? Disini dilarang foto-foto seenaknya. Kalau cuma foto tempat wisata sih boleh, tapi kalau foto orang, kesenian, atau barang-barang dagangan nanti bisa dikasusin" jelas Kendra.


Gue mengernyit, "Kok gitu?"


"Lain ladang lain belalang, sayang" aduh bahasanya Mas suami. Pake peribahasa segala. Untung gue jarang bolos waktu pelajaran bahasa Indonesia.


"Ya udah nanti kita foto-foto berdua aja ya yang di kamar. Nggak pake baju" canda gue.


"Hush, mulutnya. Kedengaran orang malu" lagi-lagi lelaki itu menasehati.


"Nanti aku jadiin wallpaper deh" gue nggak menggubris peringatannya. "Apa mau bikin video sekalian? Lumayan buat kenang-kenangan. Bisa ditonton kalau ayang lagi dinas luar"


"Yang ada nanti aku nggak fokus kerjanya."


"Nanti kalau lagi pengen kan bisa ditonton sambil nyabun" gue masih nggak mau kalah.


"Ngapain. Langsung live sambil video call kamu kan bisa"


"Kalau nggak ada sinyal? Hayo.."


"Kan masih ada posternya Miranda Kerr"


"SAYANG IIH..!!" gue mencubit kasar perut six pack si seksi yang dibalas dengan kekehan semata.


Ada apa dengan mbak Miranda Kerr? Itu loh tante-tante seksi yang body goal banget. Katanya sih di asrama pendidikan militernya si ganteng dulu ada satu poster guedhe buanget yang ditempel di dinding kamar mandi. Posternya mbak Miranda lagi bugil. Tau nggak siapa yang nempelin di situ? Si mesum Satriya. Yup, kegilaanya sama model seksi satu ini udah ditaraf gawat darurat. Tiap hari nulis surat cinta sambil senyam senyum berhalusinasi jadi pacarnya tante seksi itu. Bahkan nyetak pamflet banyak banget terus dibagii-bagiin sama semua rekan se-pendidikannya. Nah, dari situ Mamas gue kenal siapa itu Miranda Kerr. Sudah jadi rahasia umum kalau tentara satu angkatannya Mamas adalah pemuja setia tante Miranda. Tidak berhenti di situ, poster dan pamflet-pamflet itu diwariskan ke adik-adik angkatan mereka. Berita terbarunya sih, para tentara-tentara itu sudah mengupgrade poster sekaligus pamflet mbak Miranda jadi kartu remi. Iya, kartu remi yang aslinya gambar spides, heart, diamond, club itu dirubah jadi gambar pose-pose seksi tante Miranda.


Kebiasaan memuja tante Miranda kebawa sampai mereka udah dinas sekalipun. Pernah gue nemuin majalah isinya model seksi itu lagi nungging-nungging sambil pamer **** di laci bawah meja kerjanya si ganteng ketika masih dinas di Atambua. Waktu mau gue bakar malah ketahuan Satriya. Tentulah si mesum satu itu mecak-mencak nggak terima. Tapi untung gue lebih pinter. Gue ancem mau gue aduin ke Talitha, eh dianya langsung kicep. Akhirnya Satriya cuma bisa mewek-mewek lihat gambar kesayangannya itu gue bakar denan brutal. Huahaha...


Kalau ini tante-tante masih aja gangguin pikirannya Mamasku, AWAS.. gue paketin santet online dari Banyuwangi.