
"Kamu jadi orang jangan terlalu baik kenapa sih? Ini namanya dimanfaatin. Mereka tuh tau kamu kalau diminta tolong sungkan buat nolak. Jadi diginiin terus." gue meledak sendiri. Waktu itu gue bener-bener emosi. Sudah dibela-belain pulang dinas malam langsung masak, kecipratan minyak panas, keiris pisau, dan segudang permasalahan dapur lainnya, dan tiba-tiba saja hasilnya tidak dicicipi sama sekali.
"Astagfirullah yang.. jangan ngomong gitu. Apa salahnya sih nolong, itu kan bukan perbuatan buruk"
"Terus aku gimana? Udah aku masakin sebanyak ini mau diapain? Hah?"
"Aku cuma bentar kok"
"Udah berapa kali ayang bilang kayak gitu? Tapi nyatanya ayang baru balik pagi buta, malah pernah seharian nggak pulang. Demi apa sih? Biar cepet naik jabatan?"
Kendra terdiam sebentar. Kalimat terakhir gue tentu saja tidak salah. Walaupun lelaki itu tidak pernah bercerita, tapi dari gelagat dan tingkahnya selama ini sudah jelas dia ingin segera menduduki posisi yang lebih tinggi dari sekarang.
"Kalau iya kenapa?" tantang Kendra membuat gue membulatkan mata.
"Jadi, karier kamu lebih penting daripada istri dan anak kamu? Aku lagi hamil ini, dan kamu lebih mentingin jabatan? Kerja ya kerja, tapi sewajarnya aja. Buat apa sih ngejar-negajar jabatan kalau keluarga kamu sendiri kamu telantarin gini?"
Lelaki itu memutar bola matanya, "Siapa yang nelantarin sih? Kapan juga aku lebih mentingin kerjaan? Buktinya mau ke Papua aja aku cancel karena kamu lagi hamil."
"Ya udah sana pergi aja. Biar aku kasih ayam semua ini masakan aku yang nggak enak" gue menyentak kesal.
"Masakannya enak yang. Aku pergi dulu ya" ucapnya tersedak-sedak karena mulut yang penuh makanan. Pipi gue dicium bibir belepotan kuah rendangya sebelum akhirnya pria itu keluar rumah dengan satu piring penuh di tangan kanannya.
Dan benar saja, Kendra baru pulang keesokan harinya.
Kejadian seperti itu tidak hanya terjadi sekali dua kali. Namun karena keinginannya yang kuat untuk segera naik jabatan, seringkali gue merasa terabaikan, gue merasa dinomor-duakan. Jika saja bukan karena kesabaran lelaki itu bertindak manis agar mendapatkan maaf dari gue setiap kali kita berseteru kecil, mungkin pertengkaran kita akan semakin melebar. Dan biasanya, setiap kita berseteru, biar pun itu karena kesalahan gue, Kendra akan meminta maaf lebih dahulu.
Tapi sekarang, sudah seminggu dan tidak ada kabar sama sekali dari Kendra. Tidak biasanya dia membiarkan kita berselisih paham lebih dari tiga hari. Ada apa ini? Apa dia benar-benar sudah berada di titik batas kesabarannya mengahdapai gue?
Lamunan gue tersentak karena deru mesin mobil memasuki halaman. Bukan suara mobil Satriya, bukan juga suara mobil anak buah Kendra yang biasa antar jemput gue. Dari balik tirai jendela gue mengintip keluar.
Sebuah Daihatsu Terios warna abu-abu bergerak perlahan memasuki halaman. Dari balik kaca depannya, terlihat gantungan lencana merah bintang dua.
Tidak salah lagi.
Papa..