
"Kamu kok diem aja dari tadi?" gue melirik istri gue yang duduk di bangku belakang mobil. Melihat Khanza yang anteng kayak gini gue malah jadi nggak tenang. Padahal biasanya dia paling pecicilan.
Wanita itu menggeleng, "Nggak papa"
Perlu waktu kurang lebih sepuluh menit untuk sampai ke gedung resepsi. Gue udah ganti kostum memakai seragam kebesaran, sementara Khanza tetap memakai kebaya hanya saja dengan model yang lebih elegan dari yang dipakainya ketika ijab qabul.
"Udah nggak usah tegang" gue berusaha mencairkan suasana. Tangan gue mengelus punggung tangannya pelan.
"Ayang mah udah biasa tegang. Lah aku?"
Gue mengernyit, "Hah? Maksudnya?"
"Ya kan ayang punya anu yang biasa tegang. Kalau aku kan enggak."
Gue ketawa. Bisa-bisanya sih ini perempuan satu mikir sampai situ di saat dirinya aja nervous nggak ketulungan.
"Tau nggak caranya biar nggak tegang" gue bisikin dia.
Khanza menaikkan satu alisnya.
"Dilemesin." ujar gue di dekat telinganya. "Gimana? Mau nggak?" gantian gue yang menaikturunkan alis.
"Iiih ayang.. bisa aja deh" dia senyum malu-malu. "Kan jadi pengen" tambahnya.
"Jadi, mau nggak nih?" gue bertanya sekali lagi.
"Di sini?" Khanza mengerjap.
Gue makin mepet ke tubuhnya, "Pake tangan dulu. Gladi bersih buat entar malem" sebuah gigitan kecil gue berikan di daun telinganya.
"Akh.." Khanza kaget dengan aksi tiba-tiba gue, "Ayang nakal iiih.. aku kan jadi suka" satu pukulan manja mendarat di dada bidang gue. "Puter balik aja yuk yang. Cari hotel"
"Hush.. ngawur. Nanti dicariin. Acara bentar lagi mulai"
"Telat sebentar nggak papa lah." dia masih mencoba peruntungan.
"Yang ada nanti kamu minta nambah mulu karena keenakan"
"Nah gitu dong, istri aku yang kayak bebek. Jangan diem aja. Bawel lebih cocok buat kamu"
"Kamu bilang apa tadi? Aku kayak bebek?"
"Enggak. Siapa yang bilang gitu" gue menggelengkan kepala.
"Bo'ong. Tadi aku jelas-jelas denger" dia masih nggak terima.
"Ah, kamu salah denger kali." ucap gue santai.
"Ayaaang iiih... nyebelin. Malem ini nggak ada jatah buat kamu" pake sok-sokan ngambek ibu negara gue.
"Ah masak?" makin getol kan gue ngerjainnya.
Khanza nggak bisa jawab. Jelas nggak bisa lah, orang nanti malam yang paling dia tunggu-tunggu.
"Yakin?" tanya gue sekali lagi seraya menoel-noel dahunya. Lucu banget sih itu muka, pengen gue karungin terus gue uyel-uyel di dalem kamar.
Lagi ngebayangin yang iya-iya, udah sampai aja kita di tempat resepsi. Keluarga dan tamu undangan udah nunggu di dalam venue. Kolega-kolega gue sudah berjajar rapi dengan seragam dinasnya siap memulai upacara pedang pora. Di dalam gedung, Tristan yang menjadi inspektur upacara menyiapkan pasukannya. Diiringi suara musik dari marching band khusus TNI yang mengantarkan kita turun dari mobil.
Gue menggandeng Khanza melangkah memasuki tirai janur yang menjuntai di pintu masuk. Sepanjang karpet merah, pasukan berseragam berjajar rapi di sisi-sisinya, dengan pedang yang masih bersarung di tangan kanan mereka. Protokol mulai membawakan runtutan demi runtutan upacara ini, hingga sampai ke waktu yang dinanti, pesta pedang pora.
Sekali lagi, riuh suara terompet dan drum bersenada menjadi gelegar simponi yang menggungah nurani. Menyemarakkan nuansa cita dan gemuruh rasa yang diperdendangkan alunan nada menggelora. Selangkah demi selangkah kita menapak maju ke depan. Melewati gerbang pedang yang menjulang tinggi menantang atap-atap langit. Para prajurit itu menyibak pedang mereka dari sarungnya, diangkat tinggi-tinggi hingga kedua ujungnya bersatu membentuk sebuah gapura. Gue membawa Khanza meniti langkah demi langkah dibawah lorong pedang itu. Sesampainya di ujung, para prajurit itu bergerak mengitari kami dengan pedang masih dijunjung tinggi-tinggi, membentuk suatu pola dengan menyatukan mata pedang di satu titik di atas kepala kami. Setelah memenuhi satu putaran, para prajurit itu berbalik badan dan berlutut dengan menghunus pedangnya ke depan, membuat pola bunga matahari.
Kini, gue dan Khanza menjadi pusat perhatian. Di depan semua orang, gue mengambil cincin dari atas nampan yang dibawakan oleh salah satu orang yang bertugas membawa seserahan. Diiringi lantunan prosa dan dentingan nada melankolis dari marching band besutan taruna, cincin itu perlahan-lahan gue pasangkan di jari manis wanita yang sudah sah menjadi istri gue. Demikian juga Khanza, dia bergantian memasangkan lambang ikatan cinta kita itu dan memamerkan pada dunia bahwa kita telah bersatu dalam ikatan suci Illahi.
Prosesi tidak berhenti sampai di situ. Komandan gue beserta istrinya masuk ke dalam formasi lingkaran matahari, membawakan untaian melati putih untuk dipasangkan di leher gue sebagai simbolisasi ucapan selamat. Sementara istrinya menyerahkan kotak Persit Chandra Kirana, menyambut pendamping hidup gue ini sebagai salah satu anggota dari organisasi mereka.
Dentingan nada semakin semarak dan bergemuruh, membawa kita ke penghujung acara. Pesta pedang pora hari itu diakhiri dengan satu tangan gue yang terangkat memberi hormat.
Satu tangan yang memberi hormat adalah untuk negara. Dan satu tangan yang lain adalah untuk istri. Simbolisasi ini membuat gue menyadari, wanita yang terjebak bersama gue seumur hidup ini harus rela berbagi, karena suaminya adalah milik negara, dan dia akan selalu menjadi nomor dua karenanya.
Istriku.. jangan cemburu. Meski raga ini selalu setia pada negeri, namun hati ini tak akan pernah terganti. Aku berjanji.