Horizon

Horizon
Episode 42



Tapi baru maju beberapa langkah, nyali gue kembali menciut. Dari posisi berdiri, gue langsung jongkok di lantai dengan kepala tenggelam diantara kedua lutut. Beraneka rasa campur aduk. Grogi, malu, takut, dan nggak tau harus ngapain. Bener-bener payah gue sekarang. Rasanya pengen gali tanah terus sembunyi di situ selama-lamanya.


"Kamu ngapain sih? Nyari ubur-ubur?" gurauan Kendra sama sekali tidak menolong gue menetralkan detak jantung. Tanpa gue sadari, gue malah sesenggukan mau nangis.


"Loh loh.. kok malah nangis?" Mas suami bingung sendiri. Sekarang lelaki itu sudah berjongkok di depan gue, mencoba mengangkat kepala gue agar sejajar dengan wajahnya.


Tapi sebelum si ganteng liat ekspresi mewek gue, buru-buru gue nabrak dada bidangnya, menyembunyikan wajah gue di sana. Malu tau.


"Tangan kamu dingin banget" Kendra membawa gue berdiri dan bersandar di balkon. "Nervous ya?" dia terkekeh.


Gue cubit perutnya sekuat tenaga. Terdengar suara mengaduh dari mulut Kendra sebelum gue melepaskan diri dari pelukannya. Brengsek emang ini laki, nggak ngerti apa gue udah malu setengah mati, eh malah diperjelas. Bego lo Sa, kemarin-kemarin ngebet mina kawin, ini udah mau dieksekusi beneran malah mati kutu.


Lelaki itu mendekap tubuh gue dari belakang, membiarkan pemandangan malam pegunungan Atlas menyambut indera pengelihatan gue.


"Aku juga nervous kok. Sama kayak kamu" suara lembutnya sedikit memberikan ketenangan, ditambah lagi usapan jari jemarinya di rambut gue. "Boleh aku nyentuh kamu? Aku nggak mau bikin kamu nggak nyaman" dia meminta ijin.


Tatapan lembut Kendra membuat ketegangan di tubuh gue memudar. Gue mengangguk mengiyakan. Satu tangan gue terangkat mengelus pipinya dan berkata, "Aku percaya kamu". Lelaki itu kembali tersenyum, mendekap tubuh gue lebih erat dan menenggelamkan hidungnya di perpotongan leher gue.


Hari ini tidak ada satu bintang pun nampak di atas sana. Sepertinya, mega mendung tengah menyelimuti kota yang semakin malam semakin sepi. Lampu kelap-kelip saling berpendar, cahayanya terbiaskan rintik-rintik hujan yang perlahan turun menguarkan aroma tanah di udara.


Petrikor. Aroma khas sebelum hujan yang menyuguhkan perasaan nyaman. Begitu nyaman hingga gue tidak sadar, lelaki itu sudah mencecap titik sensitif gue di belakang telinga.


"Sstt.. rileks sayang" lelaki itu membaca kegelisahan dari dalam diri gue. Ibu jarinya mengelus lembut bahu kiri gue menyalurkan sedikit ketenangan. "Malam ini, kamu seutuhnya milikku" dia mengumandangkan kepemilikannya.


"Ken.." gue kaget mendapati tali bathrobe gue sudah terlepas dan tangan besar lelaki itu menelusup masuk mengelus permukaan perut gue yang rata.


"Panggil Mas, sayang" perintahnya dominatif.


Hembusan nafas panas seketika membuat seluruh tubuh gue meremang, ditambah setiap kalimat imperatif yang menunjukkan sisi dominan lelaki ini. Gerakan demi gerakan yang dia buat seolah ingin menyampaikan dialah penguasa diri gue malam ini, dan gue hanya boleh berserah diri mengikuti setiap alur permainannya.


"Mas eungh.."


Gilaa.. ini gila.. Dia menyerang gue dari tiga titik sekaligus. Bibirnya bertamasya dari telinga, turun ke leher, menjilat pipi, mengigit dagu gue, dan berakhir mengulum bibir gue rakus. Lidahnya menelusup, mengajak lidah gue berdansa seiring gerakan ibu jari dan telunjukknya yang berpesta memelintir ** gue di dalam sana. Terkadang dia menekannya pelan, terkadang kuat. Ditambah telapak tangan besarnya yang tiba-tiba menangkup buah dada gue dan meremasnya. "Emphh.." gue melenguh panjang seraya membusungkan dada, meminta lebih dari ini.


 


 



Sorry.. detail cerita lanjutannya disuspend Mangatoon. Pokoknya intinya malam itu mereka bersatu