
LDR itu susah. Susah banget.
Emang bener, pondasi sebuah hubungan adalah komunikasi. Satu hal yang tidak bisa digantikan oleh apapun.
"Aku udah telepon kamu tadi, tapi kamunya yang nggak angkat" Mamas gue berusaha sebisa mungkin tidak meninggikan suaranya.
"Kan aku udah bilang, neleponnya kalau di luar jam kerja aja. Bisa ditegur terus sama atasan ntar" gue juga menahan dongkol.
"Aku di sini juga kerja. Belum tentu ada waktu buat nelepon kamu. Ini aja udah aku bela-belain di sela-sela jam tidur aku. Capek banget badan aku yang, seminggu ini aktivitasnya padat banget. Eh, sekalinya nelepon malah diajak ribut." suara Mas suami terdengar lebih berat dari seberang sana.
"Kamu pikir aku nggak kerja di sini? Aku juga kerja. Belum lagi ngurus rumah. Ditambah perut segedhe tempurung kura-kura kayak gini. Mau gerak aja susah, apa-apa harus ngurusin sendiri. Nggak cuma kamu yang capek. Aku juga capek. Emang kamu tau gimana rasanya jadi wanita hamil? Latihan tentara kamu selama masa pendidikan nggak seberapa dibanding rasa sakit disekujur badan aku selama kehamilan ini. Belum lagi nanti kalau melahirkan. Kamu ngerti nggak sih"
Satu hembusan kasar terdengar dari ujung sana, "Dari awal kamu kan udah ngerti resiko pekerjaan aku."
"Aku udah berusaha ngerti, tapi ayang sendiri nggak mau ngertiin aku"
"Maksud kamu apaan sih?"
"Ayang kenapa sih betah banget di sana. Pleton satu udah dipulangin dari bulan lalu tapi masih aja kekeh nggak pulang-pulang. Padahal istrinya lagi hamil. Sengaja ya menghindar karena aku lagi hamil? Karena aku bisanya nyusahin aja? Minta aneh-aneh terus sama ayang?" kalimat itu keluar dengan suara sedikit bergetar menahan tangis, mungkin karena hormon kehamilan gue jadi sensitif banget.
"Iya tau emang, ayang sepenting itu di sana. Sampai-sampai komandan Koppasus aja nggak bisa atur strategi sebaik ayang." gue menyindir. Tapi kenyataannya memang begitu. Kelebihan Kendra di bidang strategi dan siasat perang memang tidak diragukan lagi. Meskipun keahlian fisiknya masih dibawah prajurit baret merah ataupun pasukan khusus lainnya, namun kejeniusan otaknya dalam mengatur taktik di medan tempur patut diacungi jempol.
"Terserah kamu mau ngomong apa. Aku capek.."
"Ya udah. Di situ aja terus, nggak usah pulang. Biar aku urus dedek sendiri sampai lahiran nanti" saking emosinya gue pencet berulang kali tombol merah di telepon genggam gue dengan kemarahan yang meluap-luap. Perut gue sudah sedemikian besarnya. Hanya tinggal menghitung hari dedek bakalan launching ke dunia. Tapi bapake malah sibuk di belahan bumi lain. Perempuan mana yang nggak geram coba.
Setelah capek ngomel-ngomel sendiri, gue nangis. Iya.. sebegitu hebat hormon kehamilan ini menjungkir-balikkan emosi gue. Seribu satu rasa bercampur aduk jadi satu. Ada rasa sedih, kecewa, marah, dan kerinduan yang membabi buta pecah dalam satu tangisan keras. Tangisan yang gue redam sebisa mungkin dengan bantal dan selimut, agar jangan sampai keluar dari dinding kamar.
"Lo mau fashion show? Pake kacamata hitam segala" Satriya menatap bengong ke gue yang lagi santai-santai dengan kaki bertengger di atas meja teras rumah gue.
"Bukan urusan lo. Siniin pesenan gue. Keburu laper dedek" gue menurunkan kaki dan merebut bungkus takoyaki di tangan Satriya. Sengaja gue pakai kacamata hitam karena mata gue bengep habis nangis semaleman. Alhasil, gue menikmati tiga porsi takoyaki tanpa melepas kacamata.
Satriya meletakkan pantatnya di kursi sebelah, "Biar apa makan pake kacamata item?" sindirnya sambil mencomot satu gelondongan tako yang mayonaisnya paling banyak sendiri. Kampret emang.
"Biar anak gue kayak model" jawab gue asal.