
Kata orang, tiap manusia itu memiliki tujuh kembaran yang mirip di muka bumi ini. Kalau istilah kerennya sih doppleganger. Selama ini gue nggangep itu cuma mitos belaka, sampai akhirnya gue lihat sendiri dengan mata kepala ada orang yang mirip banget sama suami gue. Namanya Kyleno, domisili Surabaya, status jomblo may be, pekerjaan Polisi tukang ngamuk.
Kalau diliat sekilas sih emang mirip. Tapi begitu buka suara, beuhh langsung bagaikan langit dan bumi. Suami gue kalem, kalau makhluk satu ini blangsakan nggak karuan. Tipikal bad boy yang jadi idaman gadis-gadis SMA atau anak SMP baru mens yang tetenya belum tumbuh, tapi sorry bukan selera gue. Galaknya udah ngalahin buto cakil. Pasti tipe-tipe ngatur ini laki. Aura dominatifnya itu lho, kayak iklan tango yang lapisannya sampai ratusan. Nggak kebayang deh siapa cewek yang mau sama dia.
Eh..eh.. itu kok kayak kenal? Ya ampuuun... Mas suami udah dateng. Akhirnya... penyelamat hidup gue dateng juga. Uluh-uluh.. nggak liat satu hari aja udah iteman kayak gitu. Pokoknya sampai rumah mau gue amplas biar shining like a diamond.
Mas suami memberi hormat ala militer yang dibalas pak polisi galak dengan gerakan yang sama. Dilanjutkan acara jabat tangan dan saling memukul pundak satu sama lain. Emang ya, yang namanya cowok itu kalau udah ketemu cepet akrabnya. Tuh berdua udah cak *** cak cuk aja manggilnya.
"Piye kabare? Sue ra ketok tambah kileng yo koe (Gimana kabarnya? Lama nggak liat tambah item aja kamu)" sapa si galak dengan logat khas Jawa Timur-nya.
"Raimu.. kileng mbengok kileng (Item teriak item)" bales suami gue nggak terima. "Endi bojoku? Aman tah? (Mana istriku? Aman kan?)"
"Due bojo ayu-ayu kok ngasih ucul to ***. Mbok yo dikekepi ning kamar karo sisan ngendog. (Punya istri cantik-cantik kok ya sampai kabur. Mbok ya dikekepin di kamar sekalian bertelur)" lanjut pak polisi itu.
"Tugas negara . Nek ora wes angkrem aku ning kamar. Lah koen jih krasan ngger bengi kathuken ae? (Tugas negara . Kalau enggak udah tak eramin dikamar. Lah kamu masih kerasan tiap malem kedinginan?)" Kendra nampak terkekeh menimpali perkataan lelaki di depannya itu.
"Cangkemu.. Arep gowo bali ra iki bojomu. Po tinggal kene wae golek sek anyar (Mau dibawa pulang nggak ini istrinya? Atau tinggal sini aja cari yang baru?)"
Ucapan ngawur aparat berseragam cokelat itu mendapat tatapan tajam dari Kendra, "Ndasmu.. rong sido tak engkremi (Belum tak erami )"
"Wes ndang metu kono. Rasah kabur-kaburan meneh. Lorone ming sedilit bar kuwi ketagihan njaluk meneh wes (Udah buruan keluar sana. Nggak usah kabur-kabur lagi. Sakitnya cuma bentar kok. Habis itu ketagihan minta lagi)" canda pak polisi itu selagi membukakan pintu buat gue.
"Ngomong apaan sih.." gue berlaga nggak paham, padahal gue nangkep maknanya. Kendra sih pake bilang gue kabur karena nggak mau diperawanin, disangka beneran kan.
"Nuwun yo . Kapan-kapan mampir Magelang. Mbok wedhok e dijak sisan. Ra kok mung nggandeng bedhil wae nandi-nandi (Makasih . Kapan-kapan mampir Magelang. Ceweknya diajak sekalian. Enggak cuma bawa pistol kemana-mana)" suami gue sedikit basa-basi sebelum pamit.
"Gampang. Ra ming nyonya, precil-precil barang" lawan bicaranya menanggapi.
"Lah wes due precil? (Lah udah punya anak?)" kali ini nada terkejut dari suami gue.
"Akeh ki stok e. Gondal-gandul garek golek nggon nggo angkrem (Banyak nih stoknya. Gondal-gandul tinggal nyari tempat buat angkrem)" jawab pak polisi dengan nada bercanda.
"Raimu.. Yowes yo. Aku balek sek yo" kali ini mas suami beneran pamit.
"Ati-ati ***. Ojo lali ajian jaran goyange, ben tok cer"
"Beres"