
Dan terjadi lagi...
Kendra nggak gue temuin di sudut manapun di apartemen ini. Setelah loyo digarap, gue tumbang dan ngebo sesuka hati. Bangun-bangun, nggak ada lagi sosok lelaki itu di sisi tempat tidur gue. Biasanya sih dia cuma keluar sebentar beli apapun itu keperluan untuk bertahan hidup, tapi sudah gue tunggu berjam-jam tak juga nampak batang hidung seksinya di hadapan gue.
Udah gue bilang enam sembilan enam sembilan kali kalau keluar itu ponsel dibawa, e ini malah tergeletak begitu saja dengan charger yang masih menancap di atas nakas. Kalau gini caranya kan gue tambah khawatir.
Dari tadi gue mondar-mandir di luar apartemen, sesekali celingukan ke arah jalan besar kalau-kalau sosoknya sudah nampak. Tapi nihil. Kuku jari gue sudah semakin mengkikis karena gue gigiti sedari tadi. Jadi begini rasanya menanti seseorang pulang? Dulu gue pernah berulang kali di marahin Papa gara-gara pulang malem nggak ngasih kabar. Gue sih mikirnya ngapain gitu aja harus laporan. Sekarang gue kena karmanya.
Sayang sekali gue nggak bisa bahasa Prancis, mencoba bertanya dengan bahasa Inggris pun masyarakat setempat tidak sepenuhnya paham apa yang gue bicarakan. Mau mencari ke jalanan percuma, daerah ini sungguh sangat asing. Mata gue sembab, rasa takut ini entah merayap dari mana. Sebegitu berartinya lelaki itu buat gue sampai-sampai dia menjelma menjadi ketakutan terbesar di hidup gue.
Kaki gue terus berjalan mengitari kompleks apartemen. Gemeretak gigi mengalahkan desiran angin yang membawa udara kering dan debu-debu padang pasir. Di tengah rasa hati yang gundah gulana, bahu kanan gue ditepuk dari belakang.
"Sa, ikut gue!" kalimat imperatif yang keluar dari bibir cherry gadis berawakan sintal yang sudah lama tidak gue lihat itu membuat logika gue berhenti sesaat. Belum selesai otak gue mencerna apa yang terjadi, Talitha menarik lengan gue dan membawa gue berlari ke atas tangga.
"Talitha?" gue berkedip beberapa kali memastikan apa yang gue lihat bukanlah ilusi semata. "Lo.. kok..?" pintu di belakang gue di tutup setelah perempuan itu membawa gue masuk ke salah satu kamar di bawah lantai apartemen gue.
"Nanti gue jelasin. Sekarang ada yang lebih penting" sebuah tablet dia arahkan ke wajah gue.
Apa-apaan ini? Sebuah video call? Tapi kenapa yang gue lihat cuma kerumunan orang berpakaian hitam dengan persenjataan lengkap di tubuh mereka?
Tunggu...
"Sa.." suara Kendra berhasil merebut seluruh atensi gue. Wajah lelaki itu muncul di layar, sangat berantakan, dengan sedikit luka di sudut bibirnya dan hembusan nafas terengah-engah. Buru-buru gue rebut tablet itu dari tangan Talitha.
"Kendra..?" mata gue melotot.
"Nggak banyak waktu, nanti aku jelasin semuanya. Sekarang bantuin aku sebentar.." layar video beralih ke sosok yang tengah meringis kesakitan di atas tempat tidur. "Satriya ketembak. Kamu ajarin aku ngeluarin pelurunya"
"Sasa..!" suara Kendra mengembalikan kesadaran gue. "Cepet.. kasih tau apa yang harus aku lakukan? Kita dikejar waktu!"
Wajah serius Kendra membuat gue bertambah gugup. Yang bisa gue tangkap hanyalah betapa gawatnya situasi ini. Semua tanda tanya di benak gue harus dikesampingkan terlebih dulu, karena sekarang ada yang lebih mendesak untuk dilakukan.
"Sebentar, kamu mau melakukan operasi?" gue bertanya.
Kendra menelan ludahnya, "Iya. Ini mendesak. Kita jauh dari pertolongan medis"
"Tapi ini bahaya yang.. Kamu yakin?" sekali lagi gue memastikan.
"Nggak ada pilihan lain Sa. Kamu bantu aku ya?" laki-laki itu meyakinkan.
"Aku bukan spesialis bedah yang... Ilmu aku cuma dasar aja"
"Aku yakin sama kamu Sa. Sekarang kasih tau apa yang harus aku lakuin pertama?"
Gue menghela nafas. Ini bukan masalah sembarangan. Apa yang kita lakukan taruhannya adalah nyawa manusia. Dan lagi Kendra bukan seorang tenaga medis, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sudah pasti dia bersalah.
"Sa.." nama gue meluncur dari bibir tebalnya, "Kamu percaya kan sama aku?" tatapan lembutnya mengkikis semua ketakutan di dalam hati gue. "Sekarang kamu ajarin aku ya?"
Gue memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Di hadapan gue, istri pria yang tertembak itu menatap gue penuh permohonan. Badannya gemetaran dan dahinya sudah basah karena keringat dingin. Sebagai sesama istri tentara, gue paham benar apa yang sedang dirasakannya.
"Oke. Sekarang coba liatin ke aku lukanya." Kendra mengangguk mantap dan membiarkan layar berganti menyorot bagian lengan atas Satriya yang terluka.
"Kasih penerangan yang memadai" perintah gue langsung digagas, salah satu dari kerumunan pria berpakaian hitam itu menyorotkan lampu senter ke luka Satriya. Terlihat dengan jelas bagaimana darah segar mengucur dari sana. Gue meringis, sekaligus sedikit bersyukur karena luka itu tidak terlalu dalam dan tidak terlalu fatal. Scapel, pinset, dan berbagai macam peralatan bedah pun sudah disteril dan berjajar rapi di samping tempat tidur Satriya. Nampaknya para prajurit-prajurit itu sudah memiliki sedikit bekal tentang tindakan medis.
Dengan penuh tekad, gue mulai mengarahkan Kendra untuk melakukan operasi medis pertamanya "Oke. Sekarang ambil botol anestesi..."