Horizon

Horizon
Episode 35



"Yang.. jangan gini dulu. Itu ada Lukas di depan" Kendra berbisik lirih ke gue.


"Emang kenapa?" gue ngeyel.


"Masih anak kecil itu" jelas laki gue.


"Kecil apanya? Orang gedhe gitu" mulut gue emang nggak ada remnya, bikin Kendra langsung menaikkan satu alisnya menatap gue. Mungkin di telinganya, kata 'gedhe' yang keluar dari mulut gue sedikit bermakna ambigu.


"Maksudnya gedhe badannya yang. Noh, bongsor banget gitu" gue mencari titik aman.


Laki-laki di samping gue itu memincingkan matanya, "Aku jadi inget waktu pulang dari jemput kamu di Bali itu Lukas jadi aneh. Kamu apain dia?"


Ups.. kasih tau nggak ya?


"Nggak aku apa-apain kok" gue sok polos.


"Masak?" Kendra mencubit batang hidung gue.


"Lah emang Lukas kenapa?" tanya gue balik sambil mengusap-usap bekas cubitan Kendra.


"Berhari-hari cuma sarungan doang"


"Pff.." gue berusaha sebisa mungkin nahan ketawa. Jangan sampai makhluk bongsor yang sedang konsentrasi mengemudi di bangku depan itu sadar kalau sedang diperbincangkan.


"Hayo ngaku. Kamu apain?" Kendra menyudutkan gue.


"Hehe.." gue cuma ketawa.


"Kok malah ketawa?"


"Kapan-kapan dedek Lukasnya ditraktir ya yang. Sebagai permintaan maaf"


"Ini mulut mau dihukum? Manggil dedek-dedek segala?" Mas suami beralih ke mode galak.


"Terus panggil apa? Mas Lukas?"


"Mas-mes sembarangan kita puter balik nggak jadi honeymoon" waduh ancaman si ganteng serem banget.


"Eh jangan.. iya deh iya.. Mas aku kan cuma Mas Kendra yang ganteng sejagad raya."


Tentara gue yang seksi digituin aja udah senyam-senyum bahagia. "O iya, tadi kamu ngapain suruh aku traktir Lukas sebagai permintaan maaf. Emang kamu apain Lukasnya?"


Gue mulai cengigiran lagi, "Hehehe.. anu.. itu yang"


"Anu apa?"


"Anu.. itu.."


"Yang jelas dong. Jangan anu-anu mulu. Kan aku nggak ngerti"


"Terus?"


"Mana bisa aku menang lawan tentara. Ya udah.." penjelasan gue ngegantung.


"Ya udah apa?"


"Aku tendang aja" jawab gue datar.


"Tendang? Kamu nendang Lukas?"


Gue ngangguk-angguk.


"Nendang apanya?" alis Kendra makin naik karena penasaran.


Gue mendekat ke telinganya, melirihkan volume suara gue sebisa mungkin, "Belalainya"


"Hah?"


***


"Lapor ndan, semua sudah beres" dedek bongsor itu memberi hormat pada atasannya.


"Sekarang kamu boleh kembali ke kantor." Laki gue menepuk lengan ajudannya itu, memberikan apresiasi. "O iya. Sekalian nanti kamu mampir ke bengkel bawa mobil saya buat diservice. Ini uangnya" Kendra mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dalam dompetnya.


"Siap ndan" jawab tegas tentara muda di depannya itu.


"Sisanya buat kamu nanti makan siang" tambah Kendra.


"Terimakasih ndan"


"Ya sudah sana kamu boleh kembali ke kantor."


"Dadah dedek Lukas.. Makasih ya udah bantuin kakak bawa koper tadi" gue menyela pembicaraan mereka sambil gelendotan manja di lengansuami gue. Kalimat genit yang gue lontarkan tentu saja membuat si bibit unggul salah tingkah, ditambah dengan tatapan tajam mata elang Kendra.


"Eh.. iya bu" iih lucunya.. si bongsor nggak berani natap gue.


"Kok panggil bu sih. Punya anak aja belom. Panggil kakak aja udah" tambah gue godain gong.


Sebelum gue tambah membabi buta, suami gue yang seksi segera ambil tindakan. "Udah kamu buruan pulang sana. Hush.. hush.." si dedek diusir keluar sementara gue buru-buru ditarik masuk sama Mas ganteng.


"Awas kamu kambuh lagi genitnya, aku hukum nanti selesai datang bulan" suara tegas dan berat si seksi bikin gue tambah cengengesan.


"Yes dihukum. Jadi makin semangat kan genitnya" sahut gue mendapat pelototan tajam dari Kendra.