
"Kamu nangis yang?" lirih Kendra di dekat telinga gue. Suaranya sedikit teredam gelegar suara gamelan di depan sana, namun dapat gue rasakan hangat jemarinya mengusap pipi gue yang basah karena air mata.
"Kasian yang.." gue nunjuk-nunjuk arah panggung. "Masak Shinta-nya harus LDR sama Rama gara-gara diculik. Kan jadi keinget nanti kita LDR-an juga" gue mewek-mewek.
"Oh kamu nangisnya bukan karena pertunjukkannya? Tapi karena inget kita mau LDR?" Kendra mengulang kalimat gue.
"Huaaa... malah diingetin" muka gue makin nyungsep ke dadanya si seksi.
Rasa hangat menjalar di tubuh gue ketika tangan besar Mas suami mengusap-usap pucuk kepala gue dengan penuh kasih sayang, "Adududuh kesayangan aku.." lelaki itu mencoba menghibur, "Kalau kangen kan masih ada HP, ada pesawat, nggak kayak Rama sama Sinta, dapet kabar aja enggak."
"Tetep aja nggak bisa peluk-peluk kayak gini"gue berdalih.
Kendra menurunkan arah pandangnya ke gue, menatap gue lembut dengan penuh sayang, "Maaf ya.. Maafin aku" ucapan tulusnya membuat hati gue tersentuh. Rasanya berat banget melepas dia pergi, tapi mau gimana lagi.
"Tapi aku nggak bisa janji bakal setia kayak Shinta lho" gue bercandain si ganteng.
"Emang kamu mau belok kemana? Orang udah mentok cintanya cuma sama aku" Mas suami pedhe banget.
"Banyak kali yang mau sama aku" gue nggak mau kalah.
"Iya percaya. Tapi kamu maunya cuma sama aku gimana dong" Mas suami menyibak rambutnya sok ganteng.
"Iiih.. Pedhe banget!" gue memukul kecil dada bidangnya.
"Kalau ada yang berani jadi Rahwana antara kamu sama aku langkahin dulu tuh SS1 aku. Kalau SS1 lewat, masih ada granat, granat lewat ada ranjau, gimana? Masih ada yang berani?" ucap Kendra penuh percaya diri.
"Tapi kalau yang jadi Rahwana antara kamu sama aku cewek gimana? Aku kan nggak punya senapan, nggak punya ranjau, nggak punya granat, gimana mau menghalau Rahwani-Rahwani yang nemplok ke kamu?" gue balik keadaanya.
"Tapi kamu punya hati aku" jawab mas Suami tegas, "Nggak peduli dimana raga aku, hati aku tetap ada di tangan kamu kok"
Gue berdecak "Heleh gombal"
"Namanya juga cowok. Dimana-mana kan tukang gombal. Brengsek lagi. Kayak aku ini, udah enak-enak kerja di sini didampingi istri eh malah mau dinas jauh ninggalin istri. Brengsek ya?" kalimat Kendra membuat gue menelan ludah.
"Siapa bilang" Kendra nggak setuju.
"Hah? Maksudnya?"
"Cerita Ramayana yang kamu liat di depan sana itu udah gubahan, cerita aslinya nggak happy ending kayak gitu" jelas Mas suami.
"Terus? Sad ending?"
"Em.. bisa dibilang kayak gitu." Kendra mengangguk-angguk. "Model karya sastra klasik jaman dulu lah, tragis-tragis gitu."
"Shintanya selingkuh sama Rahwana? Atau Ramanya mati? Atau Shintanya yang mati?" gue asal nebak.
"Bukan gitu." Mas suami mulai menjelaskan. "Banyak orang salah kaprah menilai karakter Rama sama Rahwana. Padahal kalau tau cerita aslinya ternyata Rama nggak seprotagonis itu, sementara Rahwana juga nggak seantagonis yang diceritakan"
Gue memasang telinga baik-baik mendengar penuturan Kendra.
"Sebenernya cerita Ramayana yang asli tuh ada reliefnya di dinding Candi sana." Mas suami menunjuk salah satu dari tiga candi besar di kompels ini, "Rahwana menculik Shinta karena Shinta itu ternyata reinkarnasi dari istrinya dulu. Saking cintanya dia sama istrinya, Rahwana pengen hidup sekali lagi dengan reinkarnasi dari istrinya itu. Tapi coba bayangin, seorang wanita yang diculik raja dan dibawa ke negerinya, jauh dari suami dan siapapun yang bisa menolongnya, kalau mau diapa-apain kan tinggal gas aja, iya kan yank?"
Mata gue melebar mendengar pembahasan delapan belas plus pluw ini, eh salah, dua puluh satu plus plus. "Maksudnya di ehem ehem-in gitu yang?" tanya gue antusias.
"Ya iyalah.. Apalagi?" jawab Kendra santai.
"Jadi mbak Shintanya sama sekali nggak disentuh om Rahwana nih yang?" gue makin penasaran.
"Nah itu makanya aku tadi bilang kalau Rahwana nggak seantagonis itu. Daripada memaksakan perasaannya, Rahwana lebih memilih merebut hati Shinta dengan ketulusannya. Meskipun ditolak setiap hari, tapi dia nggak pernah nyerah. Baik-baikin Shinta, ngasih hadiah-hadiah, pokoknya bener-bener maju terus pantang mundur deh, tapi ya dia nggak pernah kurang ajar sama Shinta."
"Terus-terus?"