
"Udah mendingan?" tanya Kendra melihat keadaan gue yang keliatan lebih seger dari sebelumnya.
"Udah" suara gue terbungkam di perpotongan lehernya.
"Kamu bakalan ngerasain sakit terus kayak ya gitu tiap bulannya?" dahi Kendra mengkerut menanti jawaban dari gue.
"Ya tergatung ayang" sahut gue santai.
"Kok tergantung aku?" Kendra menelan ludahnya.
Kepala gue menengadah menatap wajahnya, "Ayang bisa kok bikin sakit aku berkurang. Atau malah hilang sama sekali"
Laki-laki itu mengernyit, "Maksudnya?"
"Selain karena konstraksi otot, selaput dara aku yang masih utuh juga mengahalang-halangi darah haidnya keluar. Jadi makin sakit kalau lagi datang bulan. Makanya buruan dong akunya dicoblos, biar sakitnya sedikit berkurang. Kalau enggak ya nih rahim aku diisiin titisan kamu. Kata orang kalau udah melahirkan nanti nyeri haidnya hilang sendiri."
Kendra menggaruk-garuk tengkuknya, "Bisa gitu ya?"
Gue berdecak, "Ya bisa lah yang. Sakit banget lho kalau lagi nyeri gini. Sakitnya tuh hampir sama kayak orang melahirkan" gue sedikit melebih-lebihkan, "Ayang nggak kasian apa kalau aku kesakitan kayak gini terus?"
Hati selembut pantat bayi si ganteng tentu saja nggak tega liat gue yang mencebik-cebik lemah tak berdaya kayak gini, "Iya-iya. Pokoknya ini terakhir kali kamu nyeri haid. Begitu selesai, kita buka puasa"
"Ayang janji ya?" gue menyodorkan kelingking gue.
"Iya. Aku janji" ucapnya sembari menautkan jari kelingking kita berdua.
Dan sepanjang malam itu, gue terlelap dengan nyenyak di dalam dekapannya.
***
Cicitan burung murai batu yang berterbangan dari dahan ke dahan di luar jendela sana menandakan pagi telah tiba. Sinar mentari menerobos bilik kaca mengusik kententraman tidur panjang gue. Pelan-pelan, gue mulai menggeliatkan badan. Mata yang terpejam ini rasanya masih enggan untuk terbuka. Sudut bibir gue sedikit terangkat mengingat pagi ini adalah pagi pertama gue sebagai seorang istri. Melihat wajah polos suami gue saat bangun tidur adalah imajinasi pengantin baru yang sudah lama gue idam-idamkan.
Gue membuka mata selebar-lebarnya kemudian menoleh ke samping. Mengecek dengan indera pengelihatan sendiri jika tak ada siapapun yang berbaring di sana. Shit.. gue keduluan bangunnya.
Di tempat yang tidak terlalu luas ini, akan sangat gampang menemukan lelaki itu. Tapi sudah gue cari dari tadi, baik di kamar mandi, dapur, sofa, maupun taman dan kolam renang di depan, tak juga sosok berawakan kekar itu gue temukan.
Putus asa, gue beralih mengambil ponsel yang tergeletak di nakas, berniat menelopon si ganteng. Tapi begitu mengusap layar, ada notifikasi pesan masuk dari Kendra. Pesan itu dikirim jam tiga dini hari tadi.
Yang..
Maaf banget. Aku ada panggilan dinas darurat.
Belum tau pulang kapan.
Aku udah suruh orang jemput kamu pagi ini.
Honeymoonnya kita tunda dulu ya.
Sekali lagi, maaf banget.
Aku sayang kamu.
Shit! Apa-apaan ini. Belum ada dua puluh empat jam gue jadi istrinya udah ditinggal aja. Mana pas honeymoon lagi. Huhuhu.. pengen meluk bule ganteng biar nggak galau. Eh lupa, kan udah jadi istri, nggak boleh nakal. Nanti dijewer suami. Ya udah deh, tapi awas aja ntar kalau Mas suami pulang. Gue minta jatah dobel. Titik.