
Kenalkan tetangga baru gue. Tapi gue yakin kalian pasti udah kenal. Yup, mantan calon suami gue dan istrinya yang mati-matian di perjuangkan agar dapat cap halal dari peradilan militer. Siapa lagi kalau bukan Satriya dan Talitha. Yuk gelarin karpet merah dulu.
Asrama 106 di sebelah gue yang sebelumnya kosong, kini sudah berisi. Dua mobil pick up yang mengantar segala perabotan dan barang-barang pasang suami istri itu tengah parkir cantik di depan halaman rumah gue. Belum juga sehari, udah ngrepotin aja ini berdua. Rumput-rumput cantik di halaman rumah gue kan jadi tertindas dan tersakiti.
Berdasarkan rumor yang beredar di group WA ibuk-ibuk persit, bapak Kolonel yang terhormat itu baru saja mendapatkan kenaikan pangkat dan dipindah-tugaskan ke batalyon yang sama dengan Mas suami. Haduh ini berdua, cem kembar siam aja. Meskipun jarak memisahkan ujung-ujungnya ketemu juga. Gue kan jadi nggak enak, nanti kalau gue jadi rebutan gimana coba.. Oke Sasa, jangan kebanyakan nonton drama korea.
Berbeda dengan Mas Suami dan Pak mantan calon suami yang mesra tiada tara, gue dan Talitha masih tetep kayak minyak dan air, nggak pernah bisa nyatu. Contoh kecilnya adalah kita sering rebutan jemuran baju. Iya, hal sekecil itu bisa membuat gue dan cewek itu adu mulut tujuh hari tujuh malem. Kalau udah gitu yang kebagian sialnya adalah para suami-suami budak istri. Pasalnya, kalau istri udah bad mood, bisa tidur diluar mereka.
Pernah gue menemukan Mas suami dan mantan calon suami lagi tidur sambil peluk-pelukan di depan pos satpam. Ternyata nggak cuma gue yang nendang suami keluar kamar, Talitha pun demikian. Pasalnya, gue dan Talitha udah beradu argumen sejak beberapa hari yang lalu gara-gara masalah sepele, misalkan dengerin spotify keras-keras, air limbah rumah tangga bocor sampe ke halaman tetangga, dan sampah-sampah yang entah gimana saling silaturahmi satu sama lain.
"Ayang kan tahu aku lagi hamil. Orang ini pengennya dedek kok" gue ribut sama Mas suami pada suatu hari yang mendung.
"Oh jadi gitu. Ayang lebih kasian ke istri orang daripada istri sendiri? Padahal ini kan bukan buat aku tapi buat dedek. Siapa coba yang bikin aku mlendung kayak gini? Hah? Hasil perbuatan siapa ini" gue nepuk-nepuk pelan perut gue. "Kalau aku nggak hamil juga nggak bakalan ngidam aneh-aneh gitu. Emang dipikir hamil enak apa? Mual-mual tiap pagi, badan pegel-pegel, nyeri dimana-mana, sekarang dedeknya pengen sesuatu tapi Maminya yang dimarahin?"
"Siapa yang marahin sayang" Kendra mencoba sekuat tenaga untuk menahan emosinya. "Kita kan hidup bertetangga, jadi kita juga harus memikirkan kondisi orang lain"
"Hiks.. hiks.." gue mewek seketika, "Tuh kan ayang belain Talitha. Ayang udah nggak cinta lagi ya sama aku? Sekarang aku udah jelek, gemuk, tukang makan lagi, jadi ayang lebih milih Talitha yang masih cantik semampai gitu kan?"
Mas suami mengacak rambutnya kasar, "Ya ampun yang.. berapa kali harus aku bilang cuma kamu satu-satunya buat aku. Nggak ada sedikit pernah terbesit cewek lain di hati aku. Nggak ada" si ganteng dengan lembutnya mencoba menangkup pipi gue. Tapi gue menghindar.
"Bo'ong. Pasti ayang CLBK. Dulu kan ayang naksir Talitha. Iya kan?" sejak hamil emang mood gue macem roller coaster. Bukan maksud nuduh yang enggak-enggak. Jauh di lubuk hati terdalam gue sangat percaya sama Kendra, tapi gimana lagi, hormon oksitosin gue sedang bergejolak mengombang-ambingkan rasa sentimen negatif. Eaak... gue udah cem psikiatris belum?