
"Ayang jangan peluk-peluk" gue tiba-tiba melepaskan diri.
"Loh kenapa?" dia mengernyit.
"Ayang bauk! Mandi dulu sana" gue memencet hidung.
"Masak?" dia mengendus bau tubuhnya sendiri.
"Apalagi abis kumpul kebo sama Satriya. Tambah bauk!"
"Astagfirullah yang. Kita bukan kumpul kebo. Tapi kumpul sapi"
"Terserah! Ayang bauk. Jangan deket-deket sampe selesai mandi"
"Iya iya. Ini mau mandi"
Cukup lima menit dan Mas suami sudah kembali dengan badan lebih segar dan rambut sedikit basah. Aduh iler gue, menetes dengan sendirinya.
"Yuk bobok" dia nerjang tubuh gue dan dipeluk erat-erat dalam dekatannya.
Eh bentar, "Ayang lepasin! Ayang bauk!" lagi-lagi gue memencet hidung.
"Hah? Masih bauk? Kan udah mandi" dia nggak terima.
"Sabunnya ayang bauk. Bikin mual. Jauh-jauh sana"
Si ganteng menarik diri, "Ini kan sabun yang biasanya"
"Tapi bikin mual" gue bersikeras.
"Ya udah. Aku nggak deket-deket kamu" Kendra menjauh.
"Eh, mau kemana?"
"Katanya kamu mual nyium bau sabun aku?" dia mengingatkan.
"Tapi aku kan mau dikelonin"
Dia mengernyit, "Gimana mau ngelonin, aku deket-deket aja kamu tendang?"
"Situ.. ayang tidur situ aja" gue nunjuk lantai di samping bawah ranjang.
Matanya mengekor tempat yang ditunjuk jari gue, "Di laintai?"
"Hu'um" gue mengangguk mantap. "Pake aja bed cover yang di lemari buat alasnya."
"Yang bener aja yang?" dia mengernyit.
"Oh jadi ayang nggak mau?"
Mana bisa dia nolak istri, hihi...
***
"Pokoknya kamu nggak boleh kemana-mana kalau nggak ada yang nganter" ultimatum suami gue di suatu pagi.
"Hu'um" gue mengangguk sambil mengoleskan selai kacang di atas roti bakar si seksi.
"Kalau aku lagi nggak bisa nganter apa jemput, nanti anak buah aku yang bakal antar jemput kamu"
"Hu'um"
"Tapi kamu jangan ngerjain anak buah aku dong. Masak kemarin Lukas laporan kamu suruh dia nyari Indomie rasa Mie Sedap. Gimana ceritanya?"
"Hu'um"
"Hu'um.. hu'um aja. Didengerin enggak?"
"Iya sayangku, cintaku, hidupku, belahan jiwaku, teman berbagi selimutku" sahut gue sambil membungkam mulutnya dengan satu potong roti utuh.
"Kamu ini juga, udah tau hamil masak masih makan mie instan?" omelnya di sela-sela mulut yang sibuk mengunyah.
"Loh siapa yang makan? Waktu itu kan aku cuma menghirup aromanya. Orang yang aku suruh makan dedek Lukas"
"Tuh kan genit.. pake panggil-panggil dedek segala" Mas suami mencibir.
"Lah akan emang dedek. Terus harus panggil apa dong? Mamas Lukas?"
"Mulai besok Lukas nggak akan aku suruh jemput kamu lagi" dia ngambek kayak anak kecil. Mana pake acara munggungun gue segala.
"O ya udah. Nggak dijemput dedek Lukas nggak apa-apa kok. Kan masih ada dedek Mark, dedek Theo, dedek Johny-"
Gue dapet lirikan maut dari Mas suami, "Kamu semangat banget sih dijemput dedek-dedek?"
"Enggak ah. Aku paling semangat dijemput Papinya dedek" gue nunjuk ke perut. "Dedek di dalem perut protes deh, dari tadi denger Papinya ngomel-ngomel terus. Begah banget ini rasanya perut" gue manyun.
Make si dedek buat berbagai alasan paling bisa bikin bapaknya luluh seketika.
"Aduh dedek, maafin Papi ya. Papi nggak ngomel-ngomel kok. Itu tadi cuma olahraga mulut" kilah Kendra sambil ngelus-elus perut gue.
"Oh enggak ngomel ya? Berarti besuk-besuk lagi boleh dong Maminya dedek dijemput sama om-om tentara" gue kedip-kedip manja.
"Nggak ada" langsung si Mamas buang muka.
Yah.. Ngambek lagi dia.