Horizon

Horizon
Episode 75



"Udah ah.. jangan mancing-mancing, ntar aku pengen beneran malah repot" Kendra memajukan ibu jarinya untuk membersihkan noda di bibir gue.


"Kalau pengen ya tinggal eksekusi. Repot banget" cicit gue.


"Kan belum tau itu perut kamu ada isinya enggak. Nanti kalau ada, bisa bahaya kalau janinnya belum kuat" jelas si ganteng.


"Oh ini" gue mengelus-elus perut gue, "Yang.. kalau misalkan, ini cuma misal ya, aku ternyata nggak hamil gimana?" tanya gue.


"Ya nggak papa. Tinggal buat lagi aja kan" Kendra menjawab dengan santainya.


"Beneran nih nggak papa? Kamu nggak kecewa?" gue memastikan.


"Kalau kecewa sih iya, tapi mau gimana lagi kalau Tuhan belum ngasih" jelas lelaki itu.


"Pengen banget ya jadi ayah?"


Kendra mengangguk mantap.


"Seberapa pengen?" gue memberondong dengan pertanyaan.


"Pengen banget"


"Kalau gitu taruhan yuk"


"Hah? Taruhan apa?"


"Kalau ternyata besok aku positif hamil, kamu harus janji satu hal sama aku" gue memberi penawaran.


"Janji apa?" dahi lelaki itu mengernyit.


Kalimat gue membuat Kendra bungkam seketika.


Well, gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Pokoknya harus all-out acting gue malem ini biar Mas ganteng nggak pergi jauh. "Kamu tega gitu nanti kalau aku hamil ngelakuin semuanya sendiri. Periksa ke dokter sendiri. Muntah-muntah tiap pagi nggak ada yang nolongin. Badan pegel dan sakit-sakit dirasain sendiri. Belum lagi kalau ngidam pengen sesuatu, harus nyari sendiri gitu?" gue mewek-mewek berasa wanita paling mengenaskan sedunia.


"Terus nanti kalau perut aku kram malem-malem, nggak bisa tidur karena badan sakit semua, kamu tega gitu nggak ada disamping aku?" gue pojokin terus aja si seksi, biar mikir... nggak semudah itu kau lari dari jeratku sayang.


"Nanti kalau ayang perginya lama-lama, trus aku udah saatnya melahirkan, aku harus berjuang seorang diri gitu di meja persalinan, tanpa kamu? Nanti anak kita siapa yang adzanin?" Melihat Kendra mulai berpikir, gue makin menjadi-jadi. "Papa pernah cerita dulu waktu Mama ngelahirin aku, Papa lagi dinas luar, jadi nggak bisa nemenin. Udah dibela-belain pulang tapi ternyata pesawatnya delay. Sampe rumah sakit, akunya udah brojol duluan. Jadi telat deh ng-adzanin-nya, makanya aku jadi bandel-bandel gini. Dulu telat di-adzanin sih" gue sok hiperbolis. "Ayang mau anak kita nanti juga kayak gitu? Nggak ditemin ayahnya waktu brojol ke dunia? Kamu rela anak kita nggak di-adzanin kamu? Katanya pengen jadi ayah? Tanggung-jawabnya mana?" sekali-kali deh gue kasih ucapan nylekit buat dia.


"Aku sih nggak papa kalau emang udah keputusan dari pimpinan yang mewajibkan kamu harus kesana. Tapi kan ini situasinya nggak wajib. Ayang masih punya pilihan" gue masih getol mencoba merubah pemikiran Kendra. "Jadi gimana? Nanti kalau aku beneran hamil, ayang janji ya batalin ke Papua itu?" pinta gue yang terakhir kalinya.


Kendra menatap gue dengan pikiran yang berkecamuk, sedangkan gue sebisa mungkin menampakkan wajah memelas penuh iba.


Setelah beberapa saat, mulutyna bergerak pelan "Ya udah deh. Iya"


"Beneran?" gue meyakinkan indera pendengaran gue.


"Iya"


"Janji?"


"Iya, aku janji"


Yes..! Taktik gue berhasil. Nggak jadi ditinggal Mamas.. nggak jadi ditinggal Mamas.. aye aye.. uhuy...! Eh, tapi semua masih fifty fifty. Semoga aja keberuntungan ada di pihak gue. Ya Allah, bikin Sasa hamil Ya Allah, please!