
Gue harus minta maaf lebih dulu.
Tapi masalahnya gue nggak bisa menghubungi Kendra kalau dia nggak ngehubungi gue duluan. Komunikasi di camp-nya dibatasi. Hanya pada saat-saat tertentu mereka boleh memberi kabar ke keluarga di tanah air. Gue sudah menunggu telepon dari Kendra berhari-hari ini. Bahkan gue juga udah minta Satriya buat mencarikan cara agar gue bisa nelepon Kendra lebih dulu. Tapi hasilnya nihil.
Kenapa?
Apa Kendra bener-bener marah sama gue? Apa waktu itu gue keterlaluan ya?
Padahal gue pengen minta maaf, pengen menyelesaikan semua kesalahpahaman ini. Ya, gue salah. Salah besar. Waktu itu gue ada dalam kondisi capek, demikian juga Mas suami. Alhasil, kita sama-sama berdebat dan berakhir dengan saling mendiamkan.
Kalau saja Satriya nggak berbicara panjang lebar tentang beban yang selama ini dipikulnya sebagai menantu Pak Mayor Jenderal, mungkin sampai sekarang gue masih egois. Seperti wanita manja pada umumnya, gue terlalu menuntut jika Mas suami harus ada untuk gue kapan pun dibutuhkan, menuntut dia mengerti segala keinginan gue, dan menuntut dia menjadi suami yang sempurna versi gue.
Tanpa gue sadari, gue sendiri yang membuat kesempurnaan lelaki itu cacat. Dia yang dulu begitu bersinar dengan hasil jernih payahnya sendiri kini harus hidup di bawah bayang-bayang kebesaran nama orang tua gue. Dia yang dulu mengabdi karena passionnya sendiri kini harus mengejar ekspektasi. Ekspektasi yang sangat tinggi.
Pangkatnya yang Perwira Menengah tentu masih jauh di bawah tanda kebesaran Bintang Dua yang tersampir di seragam Papa. Tidak terbayangkan bagaimana lelaki itu harus menahan omongan-omongan di sekitarnya karena kesenjangan strata sosial. Dan baru sekarang gue menyadari alasan di balik tertatihnya dia setiap pulang kerja, catatan-catatan visi kariernya ke depan yang sering gue temukan di laci meja kerjanya, dan panggilan-panggilan tak kenal waktu yang selalu dia jawab dengan sigap. Itu semua demi satu alasan. Dan alasan itu berkaitan dengan gue.
"Halo.." Kendra mengangat teleponnya. "Gimana?.. Yang lagi piket siapa?... Masih patroli?... Ya sudah kalau begitu itu saya ke sana sekarang" lelaki itu mengacak-acak lemari mencari seragam hijaunya kebesarannya.
"Yang.." dari nada bicara gue sudah pasti gue merasa kecewa. Bagimana tidak? Seharusnya suami gue libur hari ini. Hari yang bertepatan dengan tanggal jadian kita. Pulang dari dinas malam, gue bela-belain belanja di pasar tradisional, meracik bumbu-bumbu untuk masak sejak sore, dan bergulat di dapur demi menghidangkan masakan spesial untuk Mas suami. Bukan masak biasa, sengaja gue masak besar karena hari ini adalah hari yang spesial. Tapi naas, belum dicicip barang sedikit, dia sudah mau menggelandang saja.
"Ini aku udah masak loh" sinar mata gue penuh kekecewaan. "Kamu mau pergi?"
"Sebentar aja yang, nanti aku balik lagi" alasan klasik seperti biasa.
Sebelum melangkah ke luar, gue menahan tangannya, "Harus ya ayang ke sana? Emang nggak ada yang lain? Kan ayang lagi libur?"
Pelan-pelan, tangan gue diturunkan, "Ya gimana lagi. Namanya juga lagi butuh bantuan"