Horizon

Horizon
Episode 74



Situasi romantis terganggu oleh suara dentuman pintu dan teriakan mengaduh dari arah belakang. Seketika, Mas suami membuang nafas kasar dan menahan diri agar tidak mengumpat. Gue berusaha sebisa mungkin menahan tawa.


"Kok kayaknya ada ribut-ribut di belakang?" tanya gue sok basa-basi.


"Tikus kali" jawabnya singkat.


"Masak sih tikus bisa teriak oucch gitu?"


"Ah masak? Aku nggak denger tuh." Dia mengelak, "O iya, udah siap nih kerangnya. Tinggal dimasak. Kamu mau dimasakin gimana?" Mas suami mengalihkan perhatian.


"Saos tiram" jawab gue semangat.


"Oke. Tunggu bentar ya. Pesanan bu Sasa segera dibuat" ucap Mas suami sambil memakai celemeknya.



Gue menopang dagu di atas meja, mengamati kegesitan suami gue beraksi di dapur. Kegantengannya semakin menjadi-jadi ketika matanya berubah fokus dan butiran keringat mulai membasahi dahinya. Sebuah lontaran kegaguman keluar dari bibir gue mendapati lelaki itu dengan terampil membolak-balikkan teflon di atas kompor.



"Chef.. tolong masukin bumbu cinta banyak-banyak ya chef" gue menggoda dari ujung meja.


"Udah overload ini mbak" Kendra menanggapi candaan gue.


"Chefnya ganteng banget sih? Rahasianya apa?" gue mulai nakal, akting jadi customer centil yang godain koki ganteng.


"Ah biasa aja.. cuma air wudhu kok" balasnya ala selebgram.


"Oh, kirain karena dicium istrinya tiap hari. Eh, udah punya istri belum Chef?" mata gue kedip-kedip genit.


"Sudah. Dua malah. Yang satu ngasih nafkah, yang satunya dikasih nafkah" jawabnya santai.


"Boleh dong daftar jadi istri ketiga?"


"Istri saya galak, mbak. Mbak berani?"


"Itu mah pasti"


"Kalau ngangenin, kenapa mau ditinggal-tinggal?" pertanyaan gue membuat lelaki itu membeku seketika. Dia hanya menarik nafas kemudian mematikan kompor, meletakkan hasil masakannya di atas piring lalu menyuguhkannya kehadapan gue.


"Nih udah jadi, kerang saos tiram dari warung Mas ganteng" Kendra menarik kursinya mendekat ke gue, lalu meniup pelan-pelan agar kepulan asap panas cepat menghilang. "Hmm... baunya harum banget." Lelaki itu memuji hasil kerja kerasnya sendiri. "Masih panas ini, biar aku aja yang bukain" lanjutnya sambil mengambilkan daging dari dalam kulit kerang itu. Setelah meniupi agar tidak panas,Kendra mengarahkan sendoknya ke depan mulut gue "Aaa.."


"Emmh.. enak banget" gue memberikan dua jempol.


"Makan yang banyak.. nih lagi" dia nyuapin lagi ke mulut gue.


"Ayang juga, nih.." gantian gue yang nyuapin Mas suami.


"Kok disuapin ke aku mulu. Kamu juga makan dong, dari tadi cuma jilat-jilat bumbunya aja" komentar si ganteng setelah gue berhenti mengunyah daging dan lebih fokus menjilati bumbu-bumbu yang menempel di kulit kerangnya.


"Kamu aja yang makan dagingnya. Asyikan jilat-jilat gini." gue berkilah.


"Tadi katanya mau makan kerang. Masak cuma makan berapa biji udahan?" protes si seksi.


"Udah nggak pengen lagi. Maunya jilat-jilat aja. Ayang juga mau dijilat?" gue menawarkan diri.


"Sekarang nawarin.. ntar kalau udah ngaceng ditinggal. Disuruh tanggung jawab nggak mau. Siapa yang tadi kayak gitu?" sindir Mas suami.


Gue cuma cengengesan dengan bibir belepotan saos tiram.


"Makan kok kayak anak kecil. Bersihin dulu sini bibirnya" bukannya menggunakan ibu jari, tapi gue dikagetkan dengan aksi spontan Kendra membersihkan bibir gue dengan bibirnya.


"Loh, kok udahan? Mau lagi" gue merenggek setelah Mas suami melepaskan tautan bibir kita.


"Udah bersih itu" dia nunjuk bibir gue yang sudah tidak lagi ada sisa-sisa saos tiram.


Nggak kehabisan ide, gue nyolek bumbu saos tiram dari piring dan mengoleskannya di bibir  gue. "Nih masih ada" bibir gue sodorin ke depan.