Horizon

Horizon
Epilog 2



Gue masih ingat pertama kali gue ke sini bareng Kendra. Duluuu banget, waktu kita belum sah jadi suami istri. Kendra tiba-tiba ngajak gue keluar. Nggak taunya ke makam Mama. Katanya mau ziarah sekaligus minta izin nikahin putri semata wayangnya.


Setelah sekian tahun, kita kembali lagi. Kali ini ditempelin dedek kecil super usil yang kerjaannya lari-larian sambil godain anak cewek tetangga sebelah. Untung aja di perjalanan tadi dedek bobok. Jadi aman deh. Nggak bisa ngebayangin kalau dedek nggak bobok. Batu nisan bisa jadi gawang bola nanti.


Suasana masih sama. Rumput-rumput tersiangi rapi. Reruntuhan bunga kamboja putih menutup jalanan kecil yang agak becek karena hujan semalam. Di sana, tepat di sudut itu, Mama beristirahat untuk terakhir kalinya. Tapi kali ini, dia tidak sendiri. Ada Papa di sampingnya yang kini menemani. Ya, Papa. Prajurit terhebat yang pernah ada. Gugur di medan tempur terakhirnya. Demi membawa pulang separuh nafas anak semata wayang.


"Assalamualaikum Pah.. Mah" aku dan Kendra bergantian mengucapkan salam. Tak terasa tahun berlalu begitu cepat. Masih teringat hari dimana aku melihatnya untuk terakhir kali, nampak sangat gagah dengan merah putih di dadanya. Aku sudah terbiasa dengan ketidakhadiran Papa karena dia yang selalu sibuk bekerja. Aku juga terbiasa menanti Papa pulang. Walau harus menunggu dalam ketidakpastian.


Tapi, bahkan sampai sekarang aku tidak terbiasa dengan kenyataan bahwa Papa tidak akan pernah pulang. Yang lebih mengerikan lagi, ingatanku tentang sinar-sinar di wajah Papa sudah mulai memudar. Khas tegas suaranya pun mulai terdengar samar-samar. Seiring usiaku bertambah, memori tentang kita terkikis sedikit demi sedikit. Namun satu yang pasti, dia selalu ada di hati ini, tak akan pernah lekang oleh apapun.


Hangatnya jemari tangan menyentuh pipiku yang entah sejak kapan sudah basah oleh air mata. Aku menengok, mendapati lelaki pendamping hidupku tersenyum dengan hangat. Satu tangannya sibuk menggendong anak kita, dan satu lagi kini meraih kepalaku untuk disandarkan di bahunya yang kokoh.


Kendra tidak suka aku menangis. Dia akan merutuki dirinya sendiri jika melihatku menangis. Maka dari itu, aku cepat-cepat menghapus bekas rintikan air mata di pipi.


"Aku nggak nangis kok" elak ku berusaha menampakkan senyum tipis di sudut bibir.


"Nggak papa kalau mau nangis. Bahu aku selalu ada buat kamu" hiburnya menghadiahi satu kecupan kecil di dahiku.


Bersimpangan takdir dengan lelaki ini adalah sebuah keajaiban. Lelaki yang membuatku menjadi wanita paling bahagia di dunia. Lelaki yang dengan segenap jiwa dan raganya menjaga senyumku tetap ada.


Sungguh.. Tuhan itu Maha Adil. Ketika Dia mengambil Papa dariku, Dia berikan Kendra sebagai pengganti tugasnya. Menjadi prajuritku, ksatria gagah berani yang tak pernah lelah menahan hempasan ombak yang menerpa jalanku. Bagai garis horizon di titik cakrawala, diam-diam menyangga langit, jangan sampai jatuh ke bumi. Berdiri tegak di sana, selalu di sana.. tanpa ada yang menyadari.


Aku menautkan kedua alis.


"Setiap hari kamu bikin aku jatuh cinta dan jatuh cinta lagi. Gimana persaanku nggak berubah? Tapi perasaan ini berubah semakin besar dan semakin besar. Hingga aku tenggelam di dalamnya, tanpa bisa menemukan jalan keluar."


"Ayang bahkan nggak suka liat aku nangis?" pertanyaan yang selalu aku ingin tahu jawabannya.


Kendra tersenyum tipis.. sangat tipis. Kemudian kedua matanya menatapku, bertemu sapa dengan netraku, dan tanpa sepatah kata pun aku sudah bisa merasakan ketulusan yang terpancar dari dalam hatinya, "Bagaimana bisa aku membiarkan anak gadis yang sangat dijaga oleh ayahnya menitikkan air mata? Aku juga orang tua. Aku bisa merasakannya sekarang. Tak peduli setajam apapun mata pisau yang mengarah ke kamu, Papa kamu mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk menjadi benteng, agar pisau-pisau itu tidak menggores kamu sedikitpun. Dan sekarang, aku adalah orang yang paling berpotensi menyakitimu, sekaligus orang yang bertanggungjawab memberimu kebahagiaan. Jika sampai setitik saja air mata kesedihanmu menetes, maka aku gagal, menjaga ikrar suci antara aku dan ayahmu di hari pernikahan kita. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Putri kecil yang selalu dijaga ayahnya, harus tetap bahagia, apapun yang terjadi"


Aku bisa merasakan usapan lembut tangannya di rambutku, "Kamu itu adalah semulia-mulianya makhluk ciptaan Allah. Surga diletakkan bukan di atas kepalamu, bukan di atas bahumu, tapi di bawah kakimu. Itu artinya, kamu lebih mulia daripada surga itu sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan surga anak-anakku tersakiti?"


Kalimat itu membuatku menghambur ke pelukan Kendra. Pelukan yang memberiku kenyamanan. Pelukan yang memberiku rasa aman. Pelukan yang terasa sama hangatnya dengan pelukan bertahun-tahun yang lalu, ketika aku masih kecil.. masih tak berdaya.. dan takut pada dunia. Jika yang memelukku waktu itu adalah Papa, pria yang membangunkanku benteng dari kejamnya dunia, maka kali ini aku berada dalam pelukan Kendra. Laki-laki yang menyambung cinta dan perjuangan Papa untukku, agar jangan sampai layu dan terputus, agar jangan sampai benteng yang menaungiku dari nestapa dunia roboh dan hancur. Dia prajuritku, ksatriaku.. yang selalu berjuang demi sebuah senyuman di bibirku.


Suamiku.. kau berikan bumi untukku berpijak, dan langit untukku bernaung. Dan sekarang, aku akan menjadi garis horizonmu, yang selalu ada di situ.. diantara peluh dan lelahmu, diantara sedih dan bahagiamu, di antara siang dan malammu, di antara bumi dan langitmu, untuk menemani.. dan selalu menemanimu.


Aku berjanji.


Inilah janji seorang putri tentara.