
Belum juga ada kabar dari Kendra. Gue udah usaha kesana kemari, nanyain ke anak buanya, ngancem Satriya biar ditelponin ke camp, sampai ngerusuh Papa tiap hari biar kong kali kong sama koneksinya demi bisa denger suara Mamas walau hanya lewat telepon. Tetapi hasilnya nihil. Sampai gue nggak tau lagi mesti ngapain. Tanpa kabar dari Mamas, hidup gue hampa, seperti terombang-ambing di lautan lepas, terhuyung badai, terdampar ke pulau, ketemu Tarzan, lalu mendirikan kerajaan hewan di tengah hutan. Apaan sih, otak gue kenapa jadi gesrek kayak gini coba? Efek jarang dibelai, huh.
"Sa, kamu mau ngangkatin jemuran apa jadi jemuran? Gelantungan terus di tali jemuran" Papa teriak dari dalam rumah.
"Dedek mau jadi Tarzan katanya Pa, jadinya Maminya suruh gelantungan" sahut gue dengan nada datar. Masih tidak beranjak dari situ.
"Oh ya udah. Dilanjutin aja. Apa perlu Papa buatin pake yang tambang besar? Nanti digantungin di pohon beringin tengah lapangan"
Gue protes sambil berjalan masuk membawa keranjang jemuran, "Iiih Papa, nggak sensitif banget sih. Nggak liat apa anaknya lagi galau merana meratapi keadaan? Bukannya dicariin solusi malah menabur garam di atas luka" ekspresi gue udah macem cewek korban harapan palsu janji lelaki.
"Lah kamu itu.. udah dibilangin Kendra lagi sibuk kok ya masih bingung sendiri. Nanti kalau ada waktu juga nelepon"
"Papa tau Kendra lagi sibuk dari mana?"
Si Papa salah tingkah, dia sampai berdehem sebelum membuka suara, "Ya kan ada laporan mingguan kegiatan mereka ngapain aja yang dikirim ke Markas Pusat. Jadi keliatan kesibukan mereka tuh gimana" ada ekspresi gelagapan ketika Papa mengatakannya.
"Tapi ini beda Papa. Nggak biasanya Kendra nggak ngasih kabar selama ini. Sasa itu khawatir. Apalagi terahir kali teleponan kita sedikit marahan. Apa Kendra bener-bener marah ya sama Sasa? Atau jangan-jangan, Kendra ketemu cewek lain yang lebih seksi terus lupa sama Sasa" gue mewek kayak anak kecil diambil permennya.
Dengan masih memikirkan berbagai skenario kenapa Kendra belum juga ngasih kabar, gue melipat baju-baju yang baru saja gue ambil dari jemuran dan menatanya dengan rapi di almari kamar. Gerakan gue terhenti melihat tumpukan pakaian Kendra yang sudah lama tak tesentuh. Wanginya masih sama, aroma khas tubuh Kendra yang membuat rasa rindu gue semakin menggelora. Sisa-sisa lelaki itu masih jelas tertinggal di sini. Meja kerja yang berantakan, sengaja tidak gue rapikan agar seolah-olah dia tidak benar-benar sedang pergi. Tempe goreng sambel terasi selalu menjadi lauk yang terhidang di meja makan karena itu kesukaanya. Sepatu dan boots kerjanya juga masih rapi di tatakan alas kaki, membaur bersama koleksi heels, flat shoes, and wedges gue. Sengaja tidak gue geser sedikitpun agar kehadirannya selalu terasa. Tetapi kini semuanya dingin, terlalu lama tidak disentuh dan sedikit berdebu. Kosong.. Rasanya benar-benar kosong. Barang-barangnya memang masih bertebaran di rumah ini tapi mengapa kehadirannya terasa kosong.
Ken.. ada apa sebenernya? Perasaan tidak nyaman yang menyelimuti beberapa hari ini, apa artinya?
Masih terbenam dalam lamunan, suara ponsel Papa berdering membuat gue terhenyak ke belakang. Gue menoleh ke arah kamar mandi, tidak ada tanda-tanda Papa akan segera menyelesaikan kegiatannya. Benda hitam persegi empat itu gue raih, sebuah nomor asing tertera di layarnya. Mata gue membulat, +249, itu kode panggilan dari Sudan.
Tangan gue menyeret tombol hijau kemudian melekatkan benda pipih itu di telinga. Sebuah suara terdengar bergemerusuk dan khawatir, "Pak.. gawat. Demamnya semakin tinggi. Dari hasil tes lab, Letnan Kolonel terinfeksi EHF"
Deg.
Di alam semesta ini, kecepatan tertinggi dimiliki oleh cahaya, yaitu sekitar tiga ratus ribu per detik. Jika ada yang bergerak melebihi kecepatan itu, tau apa yang akan terjadi? Benar, waktu akan berjalan lebih lamban atau bahkan berhenti sama sekali. Inilah yang gue rasakan saat ini. Teori relativitas Einsteins yang bermanifestasi secara kuantum dalam ujung stimulus syaraf sel-sel otak gue. Waktu terasa berhenti, udara menguap, dan tak ada suara terdengar sama sekali. Seperti luruh dalam besaran energi, untuk beberapa detik segenap akal pikiran serta kesadaran gue menguap begitu saja.
"Sasa.." lirih Papa dari arah belakang sama sekali tidak terdengar. Tangan gue yang gemetar tidak mampu menahan benda kecil pipih yang melekat di telinga gue itu. Ponsel Papa jatuh ke lantai bersamaan dengan jantung gue yang seperti terlepas dari saraf-sarafnya.
Benar kan, ayah dari anak di dalam perut gue ini sedang tidak baik-baik saja.