
"Slow aja Pak. Bukan cuma sekali dua kali orang salah paham sama saya kayak tadi. Chills" dengan logat bulenya yang kentara, mbak Amber mencoba mencairkan suasa.
"Aduh maaf banget ya mbak. Suami saya emang kadang suka cemburu nggak tau tempat gini. Efek punya istri terlalu cantik" canda gue yang dibalas kekehan tawa oleh dokter yang usianya lebih tua dari gue itu.
"Makanya kalau cantik itu jangan diborong. Kasihan nanti bidadari-bidadari surga nggak kebagian jatah. Kayak aku gini dong, cantiknya berkamuflase dalam casing yang ganteng" lelucon mbak Ambar membuat suasana lebih ringan. "Eh malah ngobrol terus, kan mau cek lab. Ya udah sini aku periksa dulu, abis itu ikut suster ke lab ya"
Setelah menjalani prosedural biasa, seperti cek tekanan darah, denyut jantung, fase menstruasi, dan gejala-gejala klinis ringan lainnya, gue diminta ngikut suster ke lab untuk uji darah dan urin. Sebelum beranjak, tentu aja gue titip pesen sama mas Suami buat memperbaiki kesalah-pahaman yang sudah dibuatnya, "Kamu ini.. jadi nggak enak kan sama mbak Ambar. Aku tinggal dulu, baik-baik sama mbak Ambar. Jangan malu-maluin lagi." anceman gue cuma dijawab anguk-anguk doang dengan kepala tertunduk. Masih takut dia natep gue.. Sesangar itukah gue?
Tidak butuh waktu lama untuk menjalani pemeriksaan. Pasien juga lagi sepi, jadi gue nggak perlu antri lama-lama. Sekedar pengambilan sample darah dan urin lalu menyerahkannya ke staf laboratorium. Kenyang gue dicie-ciein mulu dari tadi. Apalagi ini pertama kali gue gandeng Mas suami ke kantor. Mana agendanya cek kehamilan. Aduh.. resiko pengantin baru. Biasanya gue slow aja masalah kayak gini, tapi sekarang kenapa jadi kenal malu ya?
Sekembalinya dari lab, gue dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada di depan mata. Mas suami udah haha hihi santai sama mbak Ambar. Nggak ada lagi kecanggungan, udah cem temen ngobrol yang lagi hangout di kedai kopi. Tuh kan apa gue bilang, mbak Ambar itu orangnya supel banget dan nggak sensian. Sama Pak Komandan sangar yang beberapa menit lalu ngajakin gelut, kini udah bercandaan santai kek di pantai.
"Pada ngomongin apa sih asyik banget?" gue menyela obrolan mereka.
"Kepo! Rahasia dong" sahut mbak Ambar.
"Tuh kan.." gue menjab-menjeb.
"Ngusir nih ceritanya?" canda gue.
"Ya iya dong. Kasian tuh pasien-pasien aku yang udah ngantri."
"Hehe.. makasih ya mbak. Kapan-kapan aku traktir kapal api deh"
"Kapal api" wanita itu mengernyit, "Starbuck dong!" ucapnya meledek gue.
"Produk lokal lebih legit mbak.. hehe.." mbak Ambar nyengir denger jawaban gue. "Ya udah ya mbak, tingkyu and see you" gue cipika cipiki lagi pake backsound kecupan bibir muah-muah ala tante-tante sosialita.
"Yoi.. semoga positif ya. Sehat terus ya calon ibu" balas dokter itu.
Setelah gue pamit, Mamas ganteng juga pamit. Kali ini pake salaman terus saling menepuk punggung ala cowok. Harusnya gue nggak cemburu. Nggak ada juga yang perlu dicemburuin. Tapi... bibir gue manyun sendiri karena pemandangan itu. Gue kenapa seh?