Horizon

Horizon
Episode 44



"Yang.. kamu ngapain gegoleran di lantai kayak gitu?" dia bertanya di sela-sela tawanya. Sementara gue sudah tepar tak berdaya di atas sajadah dengan mukena yang masih utuh.


"Ternyata sunnah Rosul capek juga ya yang. Aku tepar, lemah lunglai letih lemas tidak berdaya" cicit gue.


Masih dengan bibir menahan tawa Kendra menanggapi, "Gitu tadi minta nambah?" ejeknya.


"Ya abis enak sih. Kayak makan sambel itu loh yang. Waktu di mulut pedesnya bikin panas, keringetan, tapi enak dan selalu aja bikin nagih. Nggak kapok buat makan lagi dan lagi walaupun lidah udah kebakar aja rasanya." gue membuat persamaan antara sensasi making love sama makan sambal.


"Kalau nggak kapok lagi yuk?" lelaki yang masih memakai kopiah dan sarung itu menarik turunkan alisnya.


"Lagi?? Tapi aku tepar nggak ada tenaga gini?" kedua bola mata gue membesar.


"Ya udah makan dulu. Tapi habis itu lagi ya?"


Gue senyam-senyum, "Tapi nanti aku di atas ya?"


"Kan udah semalem" Mamas ganteng protes.


"Baru bentar juga" gue nggak terima.


"Gini aja deh. Nanti aku ajarin posisi-posisi lain yang nggak kalah enak. Gimana?"


"Pake borgol?" gue mencetuskan sebuah ide.


"Mau pake borgol?" Kendra sama antusiasnya.


"Tapi ayang yang diborgol ya?"


"Loh nggak bisa. Kamu dong yang diborgol" pak tentara nggak terima.


"Kok gitu?" gue manyun.


"Ya udah nanti kita pingsut, yang kalah di borgol. Sekarang kita makan dulu" si sayang mencari jalan tengah.


"Em.. makannya suapin ya?" gue dalam mode manis manja.


"Apa sih yang enggak buat kamu" kalimat manis Kendra diakhiri dengan satu kedipan genit dari mata kanannya


Aduh jantung gue terbang sampai Andromeda.


***


Dengan keadaan **** gue yang masih rapuh, Kendra memutuskan untuk memesan makanan ke apartemen. Tau banget kalau gue hobi makan, Mas suami memesankan berbagai macam hidangan kuliner khas Maroko yang namanya bikin lidah kesleo. Emang ya cowok itu kalau udah puas dan bahagia habis dikasih jatah, apapun dilakuin buat ceweknya. Tapi kalau lagi pundung nggak dapet jatah, hmm.. jangan ditanya.


"Ini namanya Kefta Tangine" Kendra membuka tutup hot pot berbentuk kerucut makanan berkuah kaya rempah yang katanya sangat cocok di lidah orang Indonesia itu.



"Itu apa? Bakso?" gue nunjuk-nunjuk bulatan daging dengan tepian kasar.


"Ini bola daging. Daging kambing tapi. Cicipin nih" dengan telaten lelaki itu menyuapi gue sepotong daging.


"Loh kenapa emang kalau daging kambing?" tanya Kendra di sela-sela kunyahannya.


"Biar makin jreng" jawab gue cekikikan.


"Kemarin aja aku nggak makan daging kambing udah bikin kamu loyo. Yakin bisa nge-handle aku kalau udah makan daging kambing?" lelaki itu menaik turunkan alisnya menggoda gue.


"Eh iya ya.. Ya udah ayang dilarang makan daging kambing. Ini buat aku semua, ayang makan itu aja, itu" gue nunjuk hidangan berwarna cokelat kemerahan dengan hiasan irisan daun peterseli di atasnya.


"Zaalouk? Sayuran semua itu yang isinya. Nggak ada daging" bibir lelaki itu mengerucut. Masakan dengan kombinasi roti dan berbagai jenis sayuran seperti paprika hijau, tomat, wortel manis, courgette pure, dan terong yang diasapi itu ternyata bukan pilihan lidahnya.



"Kalau nggak suka kenapa tadi di beli?" gue balik bertanya.


"Ya kali aja kamu suka."


"Ya udah makan roti yang itu aja. Apa itu namanya, kebab?" tangan gue meraih irisan daging yang dibungkus lembaran roti panggang bertekstur kasar.



"B'stilla" Kendra menyebutkan namanya. Dia mengambil alih makanan itu dari tangan gue dan membelahnya menjadi dua, memperlihatkan isian roti yang begitu menggiurkan lidah. "Ini isiannya daging burung merpati, kacang almond, sama telur." penjelasannya membuat air liur gue makin susah ditahan.


"Emang daging burung merpati enak?" pandangan mata gue terpaku pada tangan Kendra yang bergerak ke mulut gue menyuapkan hidangan khas Maroko itu.


"Nih.. coba sendiri" makanan itu masuk ke mulut gue.


"Hmm... lembut banget yang dagingya." Mata gue berbinar-binar.


Sisa gigitan gue Kendra masukkan ke mulutnya.


"Loh..loh.. kok dilahap semua sih. Curang!" gue nggak terima.


"Itu di plastik masih banyak" pipi Kendra menggembung berusaha berbicara dengan mulut penuh makanan.


"Nggak mau tau. Pokoknya aku marah." gue cemberut.


"Kok gitu?"


"Daging burungnya ayang lahap semua"


"Itu masih ada di plastik. Aku ambilin sini"


"Nggak mau yang itu"


"Lha terus?"


"Mau burung kamu aja"