
Kurang lebih delapan belas jam gue duduk di maskapai penerbangan Internasional berlabel Qatar Airways ini. Kendra tetap saja tidak mau memberi tahu kemana dia akan membawa gue. Ya udah deh nggak papa, yang penting nggak dibawa ke Uranus aja gue.
Yang pertama gue rasakan ketika turun dari pesawat adalah terik matahari yang begitu menyengat dan hawa panas sekaligus kering khas angin gurun padang pasir. Nampak beberapa orang hilir mudik dengan busana putih dan kain penutup kepala bermotif kotak-kotak yang dikenal dengan nama Thawb, pakaian khas Timur Tengah. Sebentar, ini gue nggak diajakin umroh kan sama kesayangan? Jangan sekarang dong.. Ntar ngak bisa enak-enak sepuasnya.
"Enggaklah. Belum. Nanti kalau kita ada rejeki lebih aku bawa kamu ke tanah suci beneran. Sekarang kita ke tetangganya dulu" begitulah jawaban si ganteng waktu gue histeris ngajak pulang kalau-kalau ini beneran Kota Suci. Ya kali nanti kita nggak jadi ena ena dong. Bukannya gue nggak mau diajak ke bumi para nabi itu, hanya saja gue belum siap. Denger-denger di sana tuh mistis banget, kalau orang berpikiran buruk pasti bakalan kena hal buruk juga. Apa kabar pikiran gue yang nggak pernah beres. Bisa nggak pulang ke tanah air ntar gue kena karma langsung.
"Ini jam tangan aku harus disetel berapa jam kebelakang?" pertanyaan gue hanya sekedar basa-basi, karena begitu gue sodorin lengan gue, Kendra langsung memutar tautannya hingga jarum yang menunjuk angka enam itu mundur tujuh angka kebelakang.
"Maroko-Indonesia beda tujuh jam sayang" selesai mengatur jam tangan, Mas suami memakaikan topi bertuliskan 24hours di kepala gue. "Udah yuk, jalan" ajaknya.
Al Mamlakah al Maghribiyah, sebutan lain untuk negara ini. Artinya adalah The Western Kingdom, atau Negeri di Ujung Barat. Letaknya yang berada di titik pencampuran tiga budaya, membuat negara ini memiliki kultur yang unik. Perpaduan antara kebudayaan Eropa di barat, Asia di Timur, dan Afrika di Selatan.
"Waktu kita honeymoon di Bali itu kan aku ada tugas dadakan, padahal waktu itu itungannya aku cuti. Jadi aku dapet kompensansi bawa kamu ke sini" Kendra menjelaskan.
"Beneran? Jadi kita ke sini cuma-cuma ini yang?" Lumayan dong nge-trip sejauh ini kalau ada sponsornya. Duit suami utuh, istri makin bahagia.
"Iya bener. Tuh dari kedutaan udah jemput kita" jari telunjuk Mas suami mengarah ke seorang pria paruh baya yang membungkukkan badan memberi salam.
"Bapak Cakra Kendra ya?" tanya lelaki berlogat Jawa itu memastikan. "Mari Pak, saya antar ke apartemen"
"Apartemen?" satu alis gue terangkat meminta penjelasan. Sembari menuntun gue mengekor bapak-bapak dari kedutaan tadi, Kendra menjelaskan, "Akomodasi juga ditanggung kantor. Pokoknya kita di sini tinggal have fun aja."
Akhirnya, ada juga keadilan di muka bumi ini. Nggak sia-sia dong duit kita yang mubadzir di Bali waktu itu kalau gantinya macem gini. Uh syuka..