Horizon

Horizon
Episode 107



"Bagimana bisa terinfeksi?" gue bertanya dengan tubuh terbaring lemah dan Talitha yang secara berkala mengecek tekanan darah gue.


Satriya bersedekap di sofa, dia menelan ludah sebelum memulai cerita, "Ada satu kriminal, penyelundup senjata illegal." Lelaki itu menarik nafas, "Sudah lama pasukan kita mengincar gerombolan militan ini. Dalam operasi penangkapan, beberapa orang berhasil diringkus, dan beberapa lainnya kabur. Termasuk satu orang ini. Tidak ada yang tau dia terinfeksi. Kendra mengejarnya, seorang diri. Hingga akhirnya buronan itu terperosok dan hampir jatuh ke jurang. Tubuhnya sudah penuh luka dan darah dimana-mana. Dia meminta tolong."


Satriya berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "Dia memohon-mohon agar Kendra menariknya ke atas. Buronan itu bilang istrinya sedang hamil dan tidak punya biaya untuk operasi kelahiran putra mereka. Lelaki itu terpaksa terlibat dalam penjualan ilegal demi istri dan anaknya. Jika anaknya tidak segera dioperasi kemungkinan besar tidak akan tertolong." Suami Talitha itu mengalihkan pandangannya ke arah gue, "Tidak usah gue jelasin juga lo tau kan apa yang akan dilakukan suami lo jika berada pada situasi seperti itu?"


Gue menghela nafas dalam, sangat tahu keputusan apa yang akan diambil Kendra.


Kenapa dunia ini begitu tidak adil? Orang-orang baik seperti Kendra, mereka hanya ingin melakukan kebaikan, mereka hanya ingin menolong orang, tetapi kenapa justru mereka yang mendapat celaka?


"Jadi karena itu dia terinfeksi?" gue mengulang.


"Kendra juga punya istri yang lagi hamil di rumah. Gimana dia nggak tersentuh untuk nolong laki-laki itu" ucapan Satriya langsung membuat hati gue mencelos.


Lagi-lagi gue... lagi-lagi gue biang masalahnya. Semua yang terjadi pada Kendra selalu bermuara di gue. Istri macam apa gue ini? Tidak berguna.


"Sat.." gue bergumam lirih, "Gue pengen liat Kendra. Sekedar video call apa lo nggak bisa usahain?"


Melihat keputusasaan di binar mata gue, Satriya menarik nafas panjang sebelum berdiri mengambil ponsel di sakunya.


"Bentar ya, gue coba"


Setelah lima belas menit yang terasa begitu panjang, Satriya berjalan menghampiri gue dengan wajah berbinar. Layar ponsel di tangannya menampakkan sebuah ruang perawatan yang ditutup rapat dengan tirai-tirai plastik di sekeliling. Seorang laki-laki terbaring di atas ranjang. Sangat pucat dan lemah. Posel Satriya kini beralih ke tangan gue.


Satriya memberi isyarat kepada istrinya untuk sedikit menjauh, memberi gue ruang dan waktu untuk mengeluarkan segala keluh di dada.


Kendra tersenyum. Senyum tipis yang merayap di antara nafasnya yang terdengar berat. Hati gue hancur.. sungguh sakit rasanya melihat pemandangan ini.


"Sa.. a..ku.. ngak.. pa..pa" lirinya hampir tidak terdengar.


Gue mengangguk, menyemangati, "Iya aku tahu. Suami aku laki-laki yang hebat, kuat. Kamu pasti baik-baik aja. Aku yakin."


Kendra hanya menjawabnya dengan satu kedipan mata.


"Papinya dedek pasti sembuh. Harus sembuh" lanjut gue, "Dedek udah mau launching ini loh Pi. Kan Papi janji mau adzanin dedek, gendong dedek, nina-bobokin dedek..." suara gue makin berubah parau, ada tangis yang gue tahan sekuat tenaga, "terus Papi juga janji mau ajarin dedek main sepeda, liat gajah di kebun binatang, bikin istana pasir di pantai.."tangisan gue akhirnya pecah. Bulir demi bulir air mata juga menetes di pipi Kendra. Semakin kita membicarakan masa depan, semakin sesak rasanya dada ini. Karena kita tau semua rencana di masa depan itu kini berwarna abu-abu.


"Dek.." suara Kendra terdengar lebih lirik, "Ja..ga Ma..mi.. ya"


Kalimatnya semakin membuat jantung gue terjun bebas. Nafas gue memendek, rasanya ada duri yang menancap begitu dalam di ulu hati gue.


"Enggak.. dedek nggak bisa jagain Mami. Papi yang harusnya jagain Mami. Papi pulang ya.. pulang kesini lagi. Kita bertiga bareng-bareng lagi. Papi harus bisa pulang, harus.." gue menggengam erat ponsel di tangan gue seolah-olah gue menggengam nyawa Kendra yang sekarang ada di batas ada dan tiada.


Kendra tersenyum tipis, tatapan matanya begitu sayu mengarah ke gue.


Kita tenggelam dalam diam untuk beberapa detik sebelum gue menyaksikan hal paling mengerikan di layar ponsel Satriya. Tubuh Kendra mengejang, inhalatornya bergerak naik turun, nafasnya terdengar berat dan putus-putus sebelum sekelompok dokter berlari menanganinya. Dan di saat itu pula panggilan terputus.


Gue berteriak histeris.