
Secara diam-diam gue masih berusaha minta bantuan Papa buat ngelobiin Kendra biar suami gue itu dikasih pekerjaan kantoran aja. Ssttt.. jangan kasih tau si ganteng, nanti dia marah lagi. Oke, harus gue akuin cara gue waktu itu salah. Mungkin saja 'harga dirinya' sebagai cowok tidak terima kalau gue terang-terangan membantu jalan karirnya. Secara lahiriyah gue mendukung apapun yang dilakukan Mas suami, tetapi secara batiniah tetep aja gue kebat kebit nungguin dia pulang kalau lagi dapet tugas nggak jelas. Secara suami gue itu prajurit teladan. Lulus dengan peringkat tiga besar terbaik seangkatannya. Pekerja ulet dan pantang menyerah. Pernah berkali-kali mendapat misi khusus bersama pasukan elite sekelas Kopassus, Batalyon Raider, dan Satgultor 81. Tidak heran kalau pangkat perwira menengah tingkat dua bisa diraih dengan hasil keringatnya sendiri. Panutan bener deh imam hidup gue.
"Gimana Pa? Bisa enggak?" gue harap-harap cemas. Mumpung lagi nggak dapet jadwal di rumah sakit, gue main ke Jogja. Pamitnya ke Kendra sih mau bantuin grand opening cafenya Papa di Bukit Bintang. Padahal aslinya mau ngelobi Papa, hehe.
"Papa mah bisa-bisa aja. Lha suamimu mau enggak?" ucap Papa dengan santainya sambil menggerus biji kopi dengan Electroluc Coffee Maker hadiah dari menantu tercinta.
"Jangan sampai Kendra tau Papa. Rahasia kita aja" gue mengambilkan mug keramic di rak gelas lalu menyodorkannya ke Papa. "Eits Papa mau ngapain?" dengan gesit gue menghentikan aktivitas Papa menyicipi cairan kopi hasil buatannya dari sendok kecil yang sudah nangkring manis di hadapan mulutnya.
"Nyicip dikit aja ini. Enak apa enggak" Papa memohon-mohon.
"No no no" gue menggerak-gerakan jari telunjuk ke kanan dan ke kiri. "Inget Papa, cuma satu gelas per hari. Nggak boleh lebih, tapi boleh kurang. Nggak ada alasan cicip-cicip, mubadzir, dan lain sebagainya" gue mengingatkan Papa perjanjian kita sebelumnya.
"Ta..tapi-"
"Papa.." gue bersedekap di depan dada.
Si Papa menghembuskan nafas kecewa, "Iya iya, kamu semenjak nikah jadi tambah galak gitu? Nanti suamimu kabur tau rasa" cibir si Papa.
"Kabur tinggal tangkep terus iket lagi. Gitu aja susah" gue bicara penuh percaya diri. "Jadi gimana tadi Pa, kapan Kendra nggak dikasih tugah aneh-aneh lagi?" gue menggembalikan topik pembicaraan.
"Suami mu itu kerja mengabdi sama negara, tugasnya suci mulia. Kamu segitu nggak sukanya sih Kendra kerja di lapangan?"
"Papa dulu juga gitu. Waktu Sasa mau ngelamar jadi dokter TNI AD malah dikurung di kamar sampai nggak bisa ikut tes" cibir gue.
"Lagian Papa tega apa liat Sasa ketar ketir mulu tiap ditinggal dinas. Nanti kalau terjadi sesuatu sama Kendra gimana? Kalau anak Papa jadi janda gimana? Terus kalau nanti Papa punya cucu tapi bapaknya-"
"Hush.. kamu itu ngomongnya suka nggak dipikir dulu. Diaminin malaikat mau kamu?" si Papa marah. Kebiasaan emang, mulut lemes gue butuh dikasih hukuman Mamas ganteng.
"Iya maaf" gue menepuk bibir laknat gue.
"Papa udah cari tau ke chanel-chanel Papa masalah Kendra sering dapet tugas ini itu, jadi sebenernya.." Papa tampak sedikit ragu mengatakannya.
"Sebenernya apa, Pa?" gue nggak sabar.
"Tapi kamu janji dulu, jangan berpikiran sempit. Nggak ada yang tau kan alesan sebenernya gimana" Papa kasih wanti-wanti.
"Iya udah buruan kasih tau Sasa, Pa" gue makin nggak sabar.
"Sebenernya... Kendra sendiri yang mencalonkan diri untuk ikut dalam misi-misi itu. Termasuk waktu kamu bulan madu. Nggak ada penunjukkan khusus dari atasan. Tapi dia mengajukan diri sendiri sampai milih membatalkan cuti kerjanya."
Eh.. bentar-bentar. Gue nggak salah denger kan ya? Mamas gue tercinta, lebih memilih membatalkan cuti kerja dan ninggalin gue sebatang kara di pulau Dewata? Mana itu atas pengajuan sendiri pula? Jadi, kerjaannya lebih penting dari pada gue gitu?