
"Jadi ceritanya ini nyata?"
"Ya nggak tau juga yang. Namanya juga dongeng. Nyata apa enggaknya nggak terlacak."
"Terus-terus? Anaknya tadi gimana?"
"Setelah tumbuh dewasa dan mengetahui kisah sebenarnya, mereka marah, dan menemui ayahnya untuk mencari perhitungan. Terjadilah pertempuran ayah dan anak. Konon ceritanya Shinta yang tidak bisa melihat suami dan anaknya saling membunuh memilih mati di telan bumi"
Gue mengernyit, "Bagaimana itu ceritanya mati di telan bumi?"
"Ya nggak tau juga. Itu bahasa karya sastra jaman dulu, jangan dilogika pake nalar jaman sekarang"
"O iya..iya. Tapi bener-bener brengsek Mas Ramanya, malah mendingan om Rahwana sih kalau gitu. Baru tau kalau kisah Ramayana ternyata setragis ini. Tokoh protagonis di versi cerita aslinya nggak sebaik yang dikisahkan"
"Gitu emang kualitas sastra jaman dulu, makanya orang Jawa punya wayang. Kisah-kisah yang diwayangkan itu bukan kisah sembarangan. Salah satunya ya kisah Ramayana ini. Benar-benar menguliti sifat manusia, setiap orang pasti memiliki sisi protagonis dan antagonis dalam dirinya, hanya tinggal dari sudut pandang mana kita menilai."
Gue ngangguk-angguk setuju.
Kendra kembali angkat bicara, "Makanya di Jawa ada wayang, yang artinya bayang-bayang. Nilai yang bisa diambil dari bayang-bayang suatu kisah atau lakon. Dan untuk mendapatkan pembelajaran berharga itu kita harus rela melekkan semalam suntuk nonton wayang sampai selesai. Kenapa? Karena nggak ada yang instan di dunia ini. Kalau kita menginginkan sesuatu ya harus ada prosesnya, harus ada perjuangannya. Jadi orang Jawa itu nggak suka grusa-grusu. Setiap hal yang ingin diperoleh harus melalui proses. Itu yang dikatakan bapak sama aku waktu dulu suka ngajakin aku nonton wayang. Makanya sekarang aku kalau mau sesuatu ya harus usaha. Sabar sama prosesnya. Kayak di dalam karir aku, bisa jadi seperti sekarang ini karena dulu bener-bener giat usaha dari nol. Prinsip aku, mau naik pangkat, jabatan, atau apapun itu, aku lebih suka dari usaha sendiri, bukan dari bantuan orang lain"
"Heh.. diem aja. Mau pulang enggak. Udah selesai tuh" jari Kendra mencubit idung gue, tapi gue tetep diam membatu. "Halo.. Sasa.." kali ini dia menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri di depan mata gue. "Diem aja sih, kenapa?"
"Ayang..." gue memasang wajah memelas, "Maafin aku ya.. Ayang pasti marah ya sama aku?"
"Hah? Ngapain marah?" Kendra mengernyit.
"Tuh kan ayang marah! Ayang kesel ya sama aku? Ayang bakal ninggalin aku ya?" gue makin mewek.
Kendra garuk-garuk kepala, "Kamu kenapa sih? Siapa juga yang kesel? Siapa juga yang mau ninggalin kamu?"
"Maafin aku yang.. Ayang benci aku kan? Jangan benci aku ya?" gue semakin menjadi-jadi.
"Loh-loh.. kamu kenapa sih? Emosinya naik turun mulu dari tadi. Kamu lagi PMS?"
"PMS apaan.. Nggak mungkinlah. Ayang kan tau sendiri kalau aku mens tiap tanggal... Oh my God.." tiba-tiba gue mengingat sesuatu, "Ayang... aku telat!"