
"Udah?" tanya gue sekembalinya si ganteng dengan wajah yang lebih segar.
"Kamu kok masih nangkring di dalem mobil" Mas suami menundukan kepalanya sejajar dengan jendela mobil.
"Kan pengen makan kerang saos tiram. Ayok cari" rengek gue.
"Udah malem ini. Go food aja ya?" tawar si ganteng.
"Nggak mau. Maunya makan langsung di tempatnya" gue bersikeras.
"Sa.. baru aja nyampe rumah masak pergi lagi?"
"Bodo.. pokoknya mau makan kerang. Titik. Kalau nggak mau nganter aku pergi sendiri" gue udah bersiap-siap duduk di belakang kemudi, tapi dengan sigap Mas ganteng mendudukan pantatnya terlebih dahulu di kursi pengemudi.
"Kamu ini beneran isi apa cuma ngerjain aku sih?" cicitnya sambil menyalakan mesin mobil.
"Jadi nggak ikhlas nih?" tampang galak gue membuat nyali Mamas ganteng menciut seketika.
"Eh enggak.. enggak.. Ikhlas kok. Buat kamu apa sih yang nggak aku lakuin" si ganteng menyembunyikan kegugupannya di balik rayuan gombal level bocah ingusannya.
"Ya udah ayo buruan cus" ucap gue nggak sabar, "O iya aku kan masih pake high-heels. Ambilin sendal aku dong yank di dalem, yang navy blue di rak sepatu itu ya"
Tanpa banyak bicara Mas suami nurut aja. Dia balik sebentar ke dalam rumah dan mengambilkan sesuai permintaan gue.
"Nih sendalnya.." si ganteng nggak cuma naruh sendal di deket kaki gue, tapi juga ngelepasin high-heels yang masih bertenger di kaki gue lalu memakaikan sendal itu sebagai gantinya. Eaaa... drama korea bet sih.
"Eh yang.. tolong ambilin lipstick aku yang shade 43 dong yang. Kamu cari depan kaca rias aku, ya?" gue kedip-kedip manja.
"Lah kamu kan juga bawa lipstik di dalem tas. Pake yang itu aja kenapa?"
Gue menggeleng, "Nggak mau yang warna ini"
"Sama aja. Lagian kan udah malem, nggak keliatan juga"
"Pokoknya mau pakai yang warna itu. Kalau ayang nggak mau ngambilin aku ngambek" protes gue menyilangkan kedua tangan di depan dada.
"Nih lipstick kamu. Udah yuk berangkat" baru saja mau memakai sabuk pengaman, gue recokin lagi si ganteng.
"Yang.. ambilin lada yang ada di dapur dong"
Mas suami menarik nafas panjang, "Apalagi sih? Minta diambilin lada tuh buat apa?"
"Buat makan kerangnya nanti yang. Kan enak tuh ditaburin lada" jelas gue.
"Nanti minta di warungnya, kayak warungnya nggak punya aja"
"Beda yank.. Yang di dapur itu lada dari Palembang, oleh-olehnya mbak Yesi waktu pulang kampung. Rasanya beda sama lada kemasan" gue bersikeras.
Sementara di bangku pengemudi, Kendra menghembuskan nafasnya kasar, "Ya udah aku ambilin. Ada lagi nggak yang perlu diambilin? Nanti bolak-balik lagi"
Gue menggeleng.
"Bener?" si ganteng memastikan.
"Hu'um" gue mengangguk mantap.
"Ya udah tunggu sebentar."
Tidak berapa lama Mas suami kembali dengan pesanan gue ditangannya, "Udah nih" dia meletakkan botol lada itu di hadapan gue, "Berangkat ya?" ucapnya sembari menyalakan mesin mobil.
"Eh yank, ambilin-" belum selesain gue ngomong, si ganteng menimpali, "Katanya tadi udah nggak ada lagi yang perlu diambil? Mau apa lagi?" ucapnya frustasi.
"Cuma mau minta tolong ambilin tissue depan kamu itu. Kok marah-marah sih? Tau ah kesel aku sama kamu" gue ngambek.
"Oh tissue.." dia garuk-garuk kepala ngerasa bersalah, "Nih tissue nih.. jangan ngambek gitu dong yang, ntar cepet keriput loh" Kendra nyodorin beberapa lembar tissue yang langsung gue ambil dengan acuh.
"Bodo.. Kamu nyebelin." bibir gue kembali mengerucut.
"Iya maaf-maaf.. Udah yuk cus beli kerang, keburu tutup ntar warungnya"