Horizon

Horizon
Episode 50



"Kenapa sih? Papa aku Papa kamu juga. Lagian kalau kamu aman kan aku juga seneng. Papa juga nggak bakalan tega liat aku ketar-ketir terus nungguin kamu pulang" gue masih kekeh dengan pendapat gue.


"Nggak gitu juga Khansa. Aku ini laki-laki. Aku punya harga diri. Aku nggak mau manfaatin kamu atau pun Papa kamu buat dapet jabatan. Aku bisa kok dapet itu semua dengan usaha aku sendiri."


"Siapa yang dimanfaatin? Aku ini istri kamu, aku cuma mau bantu kamu dengan apa yang aku bisa. Salah kalau aku ingin bantuin suami aku sendiri?"


Kendra mengacak rambutnya frustasi, "Sekarang kamu telepon Papa kamu, bilang nggak jadi ngelobiin aku"


"Kamu kenapa sih? Nggak mikirin apa gimana perasaan aku kalau ditinggal-tinggal nggak jelas kayak gitu? Kamu jangan egois dong. Sekarang kamu hidup nggak cuma buat diri kamu sendiri. Tapi kamu juga punya istri."


"Kamu istri aku. Seharusnya kamu mendukung dong apa yang jadi pilihan aku. Bukannya main ambil kesimpulan kayak gini" suasana makin memanas.


Gue menghela nafas, "Jadi kamu lebih milih kerjaan kamu daripada istri kamu?"


Lelaki di hadapan gue itu memijit kepalanya, "Kok kamu nanyanya gitu? Kamu itu bagian dari aku, tapi kerjaan aku juga tanggungjawabku. Mana bisa aku milih diantara keduanya?"


"Bisa kok" gue ngeyel, "Kamu masih bisa kerja jadi tentara. Tapi nggak perlu yang terjun langsung ke lapangan kayak gini. Kalau kamu kerja di kantoran, aku juga bakalan lebih tenang"


"Dengan minta dilobiin Papa kamu? Mending aku turun pangkat jadi tamtama biasa daripada ngijak-nginjak harga diri aku" kali ini Kendra marah beneran. Nafasnya ngos-ngosan dan wajahnya merah padam. Gue langsung mengkeret dan nangis. Liat gue mewek, si otot kawat baja balung besi hati krupuk itu tentu aja langsung terenyuh dalam hitungan tiga.. dua.. satu..


"Maaf.. aku nggak bermaksud ngebentak kamu" Tuh kan, gue udah dipeluk-peluk lagi. "Udah ya.. jangan nangis. Aku yang salah. Aku minta maaf" dia belai-belai rambut gue.


"Iya. Aku emang jahat. Nggak becus banget jadi suami kamu" kalimat Kendra membuat tangis gue makin pecah.


"Huaa... ayang kok ngomong gitu. Ayang udah jadi suami yang baik kok buat aku" ucap gue di sela-sela tangisan.


"Yang bener?" goda Mas ganteng sambil ngecupin ubun-ubun gue.


"Bener.. Tapi balik Indo dulu ya. Nggak usah diterusin lagi main ke Spanyolnya" gue mencari peruntungan.


"Tapi kamu tetep ngijinin aku kerja di lapangan ya?" Dasar suami keras kepala.


"Ya udah sana nikah aja sama kerjaan kamu. Jangan harap dapet jatah" gue ngancem.


"Yakin nih nggak mau jatah?" gantian Mas ganteng yang ngancem.


"Kamu curang iiiih..." licik emang. Tau aja gue lemah tak berdaya kalau masalah perjatahan.


Mungkin hari itu kita masih bisa tertawa dan saling menggoda satu sama lain setelah pertengkaran kecil ini. Namun perbedaan pendapat antara gue dan Kendra mengenai pekerjaannya masih akan berlangsung di hari-hari berikutnya. Dan kalau kalian berpikir gue akan ngalah, kalian salah besar. Terserah kalian mau nyebut gue egois atau nggak bisa support suami, karena gue nggak akan ngebiarin suami gue terus menerus terjebak dalam lingkaran bahaya. Dan gue juga akan memastikan anak gue nanti nggak akan bernasib sama seperti gue dulu. Just sit back, relax, and enjoy the show!