Horizon

Horizon
Episode 93



Mamas pulang!!! Uhuy...!


"Ini pipi aku lama-lama tirus kamu kenyotin mulu" protes lelaki itu sambil naruh martabak telur pesenan gue di atas piring.


"Aku kan lemes, nggak bertenaga, ayang tinggal-tinggal mulu sih. Jadi butuh asupan yang manis-manis kayak kamu" goda gue sambil nguyel-uyeng idung peseknya.


"Gombal mulu. Kan gemes pen makan. Aaamm..." Mas suami bales gigit kuping gue.


Yang digigit malah cekikian, "Makan yang bawah aja. Lebih enak lho. Basah-basah kenyal gimana gitu" gue merajuk.


"Dimakan dulu nih pesenan kamu. Telur udah pas seperti yang kamu mau. Satu butir telur ayam biasa, dua butir telur ayam kampung, dan satu butir telur bebek" Kendra menaruh piring berisi martabak telur itu di hadapan gue.


"Kurang ini.." gue mengernyit protes.


"Kurang apanya? Kan udah pas telurnya"


"Kurang telor kamu"


gue sambil mesam mesem.


"Yee.. telur aku mah udah kamu konsumsi tiap hari nggak abis-abis juga." dia mencibir. "Mesam-mesem mulu. Udah ini dimakan, mumpung masih anget. Sini aku suapi, aaa.."


Tanpa diperintah, gue otomatis buka mulut lebar-lebar. Makan dari tangannya ayang langsung itu nikmatnya beuuhh... Jari-jari perkasa yang jago banget kalo lagi ngobok-obok ****, mainin ******, atau elus-elus zona sensitif gue itu emang nggak pernah mengecewakan. Saking enaknya, kadang-kadang kalau lagi disuapin gue jilat-jilat dan kulum-kulum itu jari sampai kinclong.


"Mau sampai kapan dijilatin? Udah habis itu makanannya di tangan aku" Mamas menyela keasyikan acara kulum-kulum gue.


"O iya.. udah abis ya.. hehe." gue nyengir.


Kendra mengambilkan satu potong lagi martabak dari piring dan menyuapkan ke mulut gue, "Makan yang banyak ya Maminya dedek. Biar makin embil."


Kendra meluk gue, meminta gue membalikkan wajah ke arahnya, "Hei.. siapa yang bilang gendut. Kan aku bilangnya embil. Nanti makin enak dipeluk, makin gemesin, terus itunya makin gedhe" dia nunjuk ke ***** gue.


Gue langsung nemplok manja ke lengannya, "Maunya teteknya aja yang embil. Pipi, lengan, paha, sama pinggang nggak mau embil"


"Lha ini perutnya embil" si Mamas nunjuk perut gue.


"Perbuatan siapa coba?" suara gue meninggi.


"Nih tersangkanya nih, lagi ngumpet di ************" Suami gue melebarkan selangkangannya sambil menunjuk-nunjuk letak barang kesayangannya.


"Mana pelakunya.. pen aku cium" seperti biasa,gue main nyosor aja.


"Eee.." si sayang nahan kepala gue yang udah nunduk siap beraksi, "Bibir belepotan minyak gitu, sini cium ini aja"


Dan yang terjadi selanjutnya adalah bibir gue dikulum-kulum bibir tebalnya si seksi. Eungh.. enak..


"Udah.. makan lagi tuh martabaknya" ucap Mas suami begitu melepaskan tautan kita. Jarinya sedikit mengelap bibir bawah gue, membersihkan sisa-sisa minyak yang masih ada.


"Ayang nggak mau?" tawar gue menyodorkan satu potong martabak telur.


Dia menggeleng, "Makan dari mulut kamu lebih enak"


"Kalau gitu ini buat aku makan semua." tangan gue langsung mengamankan piring seisi-isinya "Nanti jatahnya ayang ngelapin bibir aku pake bibirnya ayang" gue penuh semangat.


Si sayang cuma ketawa ketiwi sambil ngelus-elus rambut gue dari belakang. Satu tangannya bertumpu pada meja, kepalanya dimiringkan sedikit, pipinya ditopang dan matanya sibuk mengamati gue yang lagi memamah biak. Untung udah jadi suami, jadi gue nggak perlu jaim gaya makannya mirip buto cakil.