Horizon

Horizon
Episode 86



Ibu hamil itu identik sama misuh-misuh, iya nggak sih? Apa cuma gue doang?


Sasaran misuh-misuh pertama gue tentu saja si bapake baby. Kalau yang satu ini mah korban paling empuk. Mana ikhlas-iklas aja gitu gue bully. Terbaik emang cuamikuh... Luph you muah-muah cayang..


Nggak pagi, nggak siang, sore, maupun malem selalu aja gue recokin. Minta inilah, itulah, sampai gue sendiri kadang juga heran ini bayi yang di dalem perut gue kenapa banyak maunya sih? Ini jabang bayi apa Nobitanya Doraemon?


Pernah pada suatu malem yang dingin dan gelap gulita, gue tiba-tiba terbangun. Dengkuran syahdu si bapake harus terputus karena badannya gue goyang-goyangin biar bangun. Dasar beruang hibernasi, kalau udah molor susah banget dibangunin. Cuma ha he ha he aja dari tadi, abis itu dilanjutin lagi molornya. Mana kelopak mata nggak ada inisiatif untuk dibuka lagi. Jadi syebel kan. Ya udah, gue pake jurus pamungkas des.


"Kalau ayang ngak bangun, aku minta tolong dedek Lukas aja. Dadah ayang.."


"Eh.." bener kan, matanya langsung terbuka lebar. Tangan satunya megangin lengan gue, sementara satunya lagi ngelapin iler di sudut bibirnya. Unch.. gemesnya beruang akuh. "Mau apa hmm, mau apa?" suara seraknya disusul dengan mulut yang menganga lebar karena menguap. "Malem-malem gini" dia masih mengomel ketika netranya menangkap bayangan jarum jam yang baru saja meningalkan angka satu.


"Aku mau dinyanyiin" pinta gue tanpa rasa bersalah telah mengganggu tidur nyenyaknya.


"Nyanyi?" dahinya berkerut sementara jari tangannya sibuk menggaruk-garuk belakang lehernya.


"Iya. Dedeknya pengen dinyanyiin" gue makin semangat.


"Buka youtube kan bisa. Tinggal ketik mau denger lagu apa" jawabnya seraya merebahkan tubuhnya kembali dan menarik selimut.


"Eh.. kok mau tidur lagi" refleks gue tarik selimut bapake biar dia nggak jadi merem. "Maunya dinyayiin secara live. Langsung. Kalau kamu nggak mau nyanyiin ya udah, aku cari yang lain"


Ancaman gue berhasil pemirsah.. Si bapake langsung bangun, "Iya ini aku nyanyiin. Mau lagu apa?"


"Pelangi-pelangi" mata gue berbinar menunggu dengan penuh harap.


"Yang bener aja yang?" ucapnya tidak bersemangat.


"Buruan! Pake tepuk-tepuk juga ya"


"Emang anak pramuka apa pake tepuk-tepuk" si sayang mengeluh.


"Oh, jadi nggak mau nih?" sebelah mata gue menyipit.


Segera si sayang ambil tindakan sebelum istrinya tambah meledak-ledak "Iya ini aku nyayiin." Mas suami berdehem untuk melegakan tenggorokan dan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Siap memberikan irama dengan tepuka. "Pelangi.. pelangi.. alangkah indahmu.. Aku pengen turu, iki isih ndalu. Tapi dikon tangi, nyanyi-nyanyi pelangi. Pelangi.. Pelangi... embuh nang ngendi"


Bibir gue maju ke depan "Kok gitu sih?"


"Lha mau gimana?"


"Siapa yang minta liriknya diganti?"


"Emang liriknya gimana? Aku nggak tau" dia mengendikkan bahu.


"Emang nggak tau. Ya udah kamu aja yang nyanyi, gimana liriknya yang bener"


Tanpa pikir panjang, gue langsung tepuk-tepuk sendiri, "Oh Mamas oh Mamas, alangkah gantengmu. Kuat tahan lama.. dan gagah perkasa. Punyanya siapa?.. mbak Sasa seorang. Oh Mamas.. oh Mamas.. ayo kelonan"


"Oh, ngode kelonan nih?" alis si Mamas naik turun,  "Bilang dong dari tadi, pake muter-muter nyanyi lagu pelangi-pelangi segala. Ya udah sini"


Gue terkikik saat tubuh gue direngkuh ke dalam pelukan dada bidangnya. Anget banget ini, selimut mah nggak ada apa-apanya.


"Ayang kerasa gak?" gue senyam-senyum.


"Kerasa apa?" tanyanya sembari memejamkan mata.


"Ini yang keras-keras di bawah ini apa ya?"


"Mana ada? Adek aku nggak berdiri kok" dia mengelak.


"Masak sih? Sini aku cek"


Sebelum tangan gue bergerilya, Mas suami dengan sigap memenjarakan lengan gue diantara himpitan dadanya dan tubuh gue.


"Dingin-dingin gini, kamu jangan bikin pengen dong" dia kasih ultimatum.


"Orang mau ngecek doang. Kamu ***** ya?" gue goda sekalian.


"Bobok sana" si ganteng meraup muka gue. "Kalau bobok besok pagi aku kasih petting"


"Bener nih? Awas ya kalau bohong"


"Satu.."


"Iya-iya ini aku bobok"


"Dua.."


"Good night gantengku" ucap gue sebelum mengecup lembut bibirnya lalu memejamkan mata.


"Good night juga cantikku" balasnya mengembalikan ciuman gue seraya mendekap gue makin dalam.