
Sambil menunggu si galak sibuk dengan telepon dan komputernya, gue mengedarkan mata ke tumpukan dokumen-dokumen di atas meja. Sebuah foto yang tergeletak di sudut meja menarik perhatian gue.
"Siapa nih para bujangan?" gue mengambil jepretan bergambar tiga orang laki-laki dengan seorang anak kecil ditengahnya itu.
"Eh balikin nggak!" si galak berusaha merebut foto itu dari tangan gue setelah meletakkan gagang teleponnya. Untungnya tangan gue lebih gesit. Foto itu kini aman ada di balik punggung gue. "Balikin sini.." perintahnya galak.
"Bapak jangan galak-galak kenapa sih? Cepet tua lho" sahut gue.
"Itu kan bukan punya kamu. Sini balikin!" jari pak polisi bergerak ke depan dan ke belakang, mengisyaratkan gue untuk segera mengembalikan barang miliknya.
"Kok bapak bawa-bawa foto cowok sih. Bapak gay ya?" ucapan santai gue membuat semua orang di ruangan menghentikan aktivitasnya sejenak dan mengalihkan pandangan ke arah kita berdua.
Menyadari situasi apa yang sedang menimpanya, si cokelat toblerone nggak terima, "Enak aja. Mereka itu kembaran gue" sengaja dia naikin volume suara agar semua orang di ruangan itu denger dan nggak salah paham. Strateginya berhasil, setelah mengatakan kalau para bujang elok rupawan yang ada difoto itu adalah saudara kembarnya, semua rekan-rekan kerjanya kembali melanjutkan aktivitas mereka.
"Mana yang kembarannya bapak?" mata gue tidak beralih dari lembaran foto itu, meneliti senti demi senti fitur tubuh mereka, mencoba mencari kemiripan diantara mereka bertiga.
"Ya dua itu kembaran saya" jawabnya sambil merebut kembali foto di telapak tangan gue itu.
"Bapak kembar tiga?" gue melotot nggak percaya.
"Iya" jawabnya singkat.
Buset, kembar tiga cuy. Gimana cara bikinnya itu. Haruskah gue berguru sama orang tuanya?
"Masih sih? Kok bapak item sendiri?" tanya gue sanksi.
"Emang kenapa kalau saya item? Masalah?" pak polisi itu udah manyun-manyun nggak terima.
"Lah kembaran bapak putih-putih gitu" gue menyatakan fakta.
"Mereka mirip ibu saya. Cuma saya yang mirip bapak saya"
Gue mangut-mangut paham, "Kasihan ya pak polisi. Udah item sendiri, pendek sendiri, pesek sendiri lagi. Pantesan jomblo mulu"
Kali ini si toblerone udah bener-bener kehilangan kesabarannya, "Mending gue jomblo tapi banyak yang mau. Nah kamu, udah nikah tapi malah kabur dari suami"
"Siapa bilang saya kabur dari suami?" gue membela diri.
"Saya sudah telepon suami kamu. Katanya kamu kabur waktu bulan madu karena nggak mau diperawanin." ledeknya dengan suara keras.
Kali ini gue yang jadi pusat perhatian, semua mata memandang aneh ke arah gue. Cu Pat Kai bener deh ini polisi. Bikin malu aja.
"Sekarang ikut saya" dia menggelandang gue ke arah sel tahanan.
"Eh saya mau dibawa kemana pak?" gue berontak.
"Suami kamu pesen buat nahan kamu dulu biar nggak bisa kabur-kabur lagi sampai nanti dia jemput kamu"
"Tapi..tapi"
"Udah sana masuk."
Percuma berontak. Gue cuma bakal tambah digalakin sama pak polisi pake logat Jawa Timur-annya yang sangat kental. Dan untuk beberapa jam ke depan, gue cuma bisa manyun dari balik sel tahanan.
Behind the bars
👩 Pak Pol.. pen pipis
👨✈️ Nih pampers. Pipis situ aja
👩 Iih jorok.. Lagian nanti kalau Pak Pol ngintip gimana?
👨✈️ Rejeki
👩 Pak Pol.. Ngantuk
👨✈️ Ya tidurlah
👩 Digigitin nyamuk
👨✈️ Gigit ganti
👩 Pak Pol.. laper
👨✈️ Terus?
👩 Beliin mie ayam dong, sekalian pizza sausage mozarella medium size, fettucini pasta, chocolate waffle, sama coca cola zero sugar
👨✈️ Saya polisi. Bukan supir grab
👩 Pak Pol.. laper beneran ini *mewek
👨✈️ Daging buaya mau?
👩 Di sini ada yang jual daging buaya?
👨✈️ Saya yang jualan. Buaya darat. Nih (nunjuk foto Sierro). Mau kamu goreng, pepes, rebus, sate, silahkan.
👩 Pak Pol..
👨✈️ Hm?
👩 Cuma ngetes kuping
👨✈️ 🤬
👩 Pak Pol..
👨✈️ APA LAGI SIIIH?
👩 Galak banget! Saya sumpahin nanti dapet istri mirip saya.
(Cast Pak Polisi di diambil dari ff TIC TAC TOE @meccaila)