
"Aku praktek dulu. Ayang mau nungguin apa gimana?" gue berjalan menyusuri selasar sampai klinik pemeriksaan umum dengan Mas suami yang lengannya nggak mau lepas dari pinggang gue. Sampai-sampai sepanjang perjalanan gue dicie-ciein mulu sama staf rumah sakit yang kepapasan. Tapi biarin lah.. udah halal juga. Kalau mupeng, cari sendiri dong..
"Aku tunggu di sini aja yang. Sambil nunggu hasil labnya juga" jawabnya singkat.
"Ya udah, aku masuk dulu ya" baru aja mau membalikkan badan, tangan gue ditahan.
"Eee.. salimnya mana?"
Keburu telat, gue letakkan punggung tangan Mas ganteng di kening gue, "Assalamuala-"
Cup.
Bangsul. Pipi gue dicium. Ini kan tempat umum!!!
"Ouch.. sakit!" spontan Mas suami setelah gue cubit perutnya kuat-kuat.
"Siapa suruh nyosor. Nanti kalau ada yang liat kan malu" gue ngecek kanan-kiri. Untung kita dipojokan sepi, jauh dari lalu-lalang manusia.
"Sepi gini. Paling yang liat cuma CCTV. Tuh!" si ganteng nunjuk ke pojok atas kanan tepat sebelah kita berdiri.
"Iiisshhh... kamu ini! Habis aku nanti jadi bulan-bulanan temen-temen aku. Dasar!" gue tabok tuh dada bidang tempat gue nyungsep tiap malem. Jail banget sih jadi orang.
"Biarin! Biar semua tau kamu milik aku seorang" bualnya.
"Heleh.. Nggak usah kamu sosor di tempat umum satu rumah sakit juga udah tau aku istri kamu."
Eh.. dianya malah cengengesan.
"Udah ah, aku mau masuk kerja. Kamu yang anteng disini. Awas kalau lirik-lirik perawat cantik atau pasien seksi!" sekarang gantian gue yang posesif.
"Mana ada yang lebih cantik dan seksi daripada kamu. Mendingan lirik-lirik kamu, ya kan?"
Tuh kan.. makin jago ngengombalnya. Diajarin siapa sih?
"Ya udah sana buruan masuk. Aku tunggu di bangku depan ya?" ucapnya sebelum dadah-dadah ke gue.
Aduh rahang gue... pegel banget dari tadi senyum mulu.
Pasien gue kali ini nggak begitu banyak. Paling-paling beberapa orang yang mengeluh gejala flu ringan karena perubahan cuaca. Tapi di akhir jam praktek, gue diserbu dedek-dedek Akmil yang entah kenapa bisa berbondong-bondong periksa ke sini. Perasaan, sekarang bukan jadwal check up rutin deh..
"Jadi.. kenapa yang masuk bertiga?" gue termangut-mangut dari balik meja.
"Lah kan tadi dipanggil" sahut salah seorang diantara mereka.
"Saya dok yang tadi dipanggil" kali ini yang paling tinggi menyahuti.
Sambil memijit kening, gue cermati sekali lagi berkas-berkas pasien di tangan gue.
"Jadi, siapa yang namanya Agus Santoso?" tanya gue setelah membaca nama yang tertulis di pojok kanan rekam medis.
"Saya" jawab ketiganya berbarengan.
Gue mengangkat kepala, tertegun melihat mereka yang dengan semangatnya menjawab berbarengan.
"Nih dok KTP saya kalau nggak percaya. Nama saya Agus Santoso" si calon tentara dengan tahi lalat di pipi itu mengulurkan sebuah benda persegi yang terlihat masih baru. Dasar ABG, baru punya KTP aja pamer-pamerin. Pamerin tuh buku tabungan dong, elah..
"Saya juga Agus Santoso dok. Nih buktinya" yang duduk paling kanan juga mengeluarkan kartu identitas miliknya. Gue baca sekilas, dan benar, mereka berdua sama-sama bernama Agus Santoso. Hufh.. resiko nama sejuta umat.
"Saya juga-" sebelum yang ketiga mengeluarkan kartu identitas miliknya, langsung saja gue potong kalimatnya.
"Oke, gini aja. Kita mulai dari paling kanan. Ya, kamu.. keluhannya apa?" gue memulai prosedur.
"Jadi gini dok. Nggak tau kenapa jantung saya suka berdegub kencang gitu dok. Kira-kira kenapa ya?" jawab calon tentara itu.
"Em.. ada keluhan lain. Misalkan nyeri sendi, mata berkunang-kunang, atau apa?"
Belum juga dijawab, teman di sebelahnya menimpali, "Saya juga sama dok. Tapi kalau saya tambah nggak bisa tidur"
"Kalau saya tambah sesak nafas dok"
"Iya, tapi satu-satu dulu ya" gue kembali menoleh ke pasien pertama. "Jadi, sudah sejak kapan gejalanya dirasakan?"
"Sejak ketemu bu dokter." jawabnya singkat.
"Kalau saya sejak pandangan pertama ngelihat bu dokter" sahut temannya yang lain sambil cengengesan.
"Kira-kira obatnya apa ya dok?" yang paling ujung tidak ketinggalan.
Bangsul.. gue digodain bocah. Mending kalau cakep. Lah ini, udah gosong, badan papan tripleks, jerawat di mana-mana, masih sekolah lagi. Duh dek..dek.. mbok ya ikut pendidikan dulu yang bener. Nanti kalau udah lulus, jadi tentara, mengharumkan nama bangsa, baru tebar pesona. Dikira gue terpikat apa? Mending Mas suami kemana-mana.
"Obatnya sit up seratus kali, lalu push up dua ratus kali, terus lari keliling lapangan tiga ratus putaran" suara yang sangat familiar terdengar dari arah pintu masuk. Ya, suami gue nan gagah perkasa, tampan tiada tara, dan berbudi pekerti luhur bersandar di pintu masuk sambil bersedekap dada. Raut wajahnya terlihat tegas dan serius, serta nada bicara ala komandan militer yang membuat tiga cecunguk di depan gue ini mengkeret.
"Tunggu apa lagi? Ikut saya ke lapangan. Sekarang!" merasa tidak juga ada respon dari tiga bocah akmil itu, Kendra makin naik pitam, "Denger nggak kalian? Keluyuran pake jaket Akmil tapi bikin malu Akmil. Berdiri!"
Kali ini, tiga cecunguk itu langsung nurut. Tau persis siapa Kendra, nggak berani mereka ngebantah. Langsung aja bocah-bocah itu digiring entah kemana sama Mas suami. Selamat menghadapi galaknya Pak Komandan dedek-dedek.. Good Luck ya..!