Horizon

Horizon
Episode 47



Talitha bernafas lega setelah jahitan terakhir dilakukan. Sampai sekarang, kondisi Satriya masih baik-baik saja. Tidak ada indikasi terjadi shock pasca operasi. Namun kita sama-sama tahu, apapun masih bisa terjadi.


Setelah sambungan video call terputus, gue menghampiri wanita yang terduduk lemas di atas sofa polos biru laut itu. Badannya masih gemetaran, air matanya mengalir tumpah dengan nafas sesenggukan. Mungkin bukan gue yang ada di posisi wanita itu sekarang, tapi gue cukup tahu bagaimana rasanya. Pasti sangatlah menyakitkan mendapati orang yang kita cintai ada pada kondisi kritis nun jauh di sana, sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa.


Pelan-pelan, gue menepuk-nepuk bahu Talitha, mungkin saja tindakan kecil gue ini bisa sedikit memberikan ketenangan. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin gue tanyakan ke wanita itu, tapi melihat kondisinya saat ini gue harus bersabar menunggu emosinya menjadi lebih stabil.


Setiap sudut ruangan ini tidaklah begitu jauh berbeda dengan apartemen gue di lantai atas. Hanya saja, dekorasi yang sedikit girly mendominasi tata ruang. Foto-foto Talitha dan Satriya terpajang rapi di dinding. Beberapa diantaranya diletakkan di dalam bingkai cantik pada rak kayu sudut ruangan. Warna netral gorden dan manik-manik yang menghias jendelanya menimbulkan kesan manis dan romantis. Ventilasi yang lebar memungkinkan cahaya masuk lebih banyak menyinari sudut-sudut ruangan yang didominasi perabotan berwarna putih dan krem. Nampaknya, mereka sudah tinggal di tempat ini untuk beberapa saat.


Gue kembali duduk di samping Talitha dengan segelas teh chamomile yang gue sodorkan ke hadapannya.


"Makasih" suara lirihnya gue tanggapi dengan anggukan.


"Lo kok bisa ada di sini?" kalimat tanya yang sedari tadi ingin gue utarakan.


Begitu menghabiskan satu teguk, wanita itu menaggapi pertanyaan gue, "Gue udah sekitar satu bulanan di sini. Satriya dapet tugas dinas di sini"


Satu bulan? Berarti sebelum gue dateng, mereka udah lebih dulu di sini dong?


"Terus kenapa tadi Satriya terluka?  Kenapa Kendra juga ada sama dia?" pertanyaan antusias gue dibalas dengan tatapan yang entah maknanya apa.


Perempuan itu menghembuskan nafas kasar sebelum memulai ceritanya, "Sebenernya, gue nggak berhak cerita, tapi berhubung lo udah tau, ya mau gimana lagi."


"Gue juga nggak tau apa yang ada dipikiran Kendra, ngajak lo bulan madu di sini tapi diem-diem menjalankan tugas negara sama suami gue" lanjut Talitha.


"Hah? Maksudnya?" dahi gue berkerut.


"Mereka jadi agen Intel, Satinduk BAIS-nya TNI, dengan misi yang entah gue aja nggak berhak tahu."


Sebentar-sebentar... jadi cuma di mata gue doang perjalan kita ke Maroko ini adalah bulan madu? Pantes aja tiap hari gue dibikin loyo. Bangun-bangun itu laki udah ngilang gitu aja. Gini amat nasib gue jadi wanita dimadu negara.


Suara telepon mengangetkan kita berdua. Talitha dengan sigap menyeret tombol hijau layar ponselnya. Desahan nafas lega keluar begitu seseorang di ujung sambungan telepon itu mengabarkan bahwa keadaan suaminya baik-baik saja.


"Pertolongan medis sudah datang. Keadaan Satriya baik-baik saja" informasi yang disampaikan Talitha membuat gue ikut bernafas lega. Itu artinya Kendra gue tidak akan mendapat masalah yang lebih rumit lagi. "Mereka sedang dalam perjalanan pulang" tambahnya.


"Memangnya, dimana mereka sekarang?"


"El Castillo, Spanyol"


What??