Horizon

Horizon
Episode 34



Sudah hampir seminggu sejak drama rumah tangga di Surabaya waktu itu, harusnya hari ini gue sudah berangkat kerja. Huh.. sayang banget. Cuti gue yang sangat berharga itu hanya terbuang sia-sia. Begitu pulang ke asrama Kendra di Magelang, lelaki itu tetap saja disibukkan dengan pekerjaanya. Membuat gue hanya bisa gigit jari sambil gulung-gulung di kasur meratapi nasib gue sebagai pengantin baru.


Semalam, imam rumah tangga gue nggak pulang. Entah operasi apa lagi yang sedang ditugaskan kepadanya. Gue nggak berhak tau. Sudah begitu aturannya. Rahasia negara tetap menjadi rahasia negara. Menjadi istri seorang tentara, gue harus terima ditinggal tanpa kabar dan tanpa kepastian seperti ini.


Dia bilang hari ini mau nganter gue berangkat kerja. Tapi sudah hampir jam delapan belum juga ada tanda-tanda mobil dinasnya masuk ke garasi. Gue cuma bisa menghela nafas kasar, memaklumi setiap janji yang tidak selalu bisa dia tepati.


Selesai mengunci pintu depan, suara bising mesin mobil Toyota Rush memasuki halaman depan. Belum juga ajudan yang duduk di bangku sopir mematikan mesin, laki gue di bangku belakang buru-buru membuka pintu dan setengah berlari menghampiri gue yang masih berdiri di teras rumah.


"Loh, ayang pulang?" gue menaikkan satu alis.


"Untung kamu belum berangkat" Kendra menghembuskan nafas lega.


"Ooh.. ayang mau nganterin aku ke tempat kerja ya?" tebak gue.


Tangan Kendra mengambil kunci di tangan gue lalu memasukkan benda itu ke lubang pintu dan membukanya, "Hari ini kamu nggak kerja" tegasnya.


"Hah?" gue bingung.


Tangan gue ditarik masuk ke dalam. "Kamu siap-siap sana. Kita pergi bulan madu"


"HAH?" makin terkejut dong gue. Apa maksudnya coba.


"Nggak usah hah heh terus. Ngejar pesawat ini. Buruan kamu kemasin barang-barang seperlunya" perintahnya sambil mengambil koper besar di atas lemari.


"Ayang jangan bercanda ah. Aku kan udah masuk kerja mulai hari ini"


Dia berbalik, "O iya, aku lupa bilang. Karena kemarin cuti aku dibatalin, jadi sekarang aku dikasih cuti ganti. Komandan aku juga udah ngurus ijin ke rumah sakit buat ngasih cuti tambahan ke kamu. Jadi semuanya beres"


Gue kedip-kedip, masih memproses semua informasi yang meluncur dari mulut suami gue. "Jadi, beneran ini kita mau bulan madu lagi?" gue meyakinkan sekali lagi.


"Beneran?" kali ini pupil mata gue membesar saking senengnya.


"Bener sayang.." ucapnya meyakinkan.


"Yes!! Honeymoon jilid dua. Lingerie aku mana lingerie.." gue teriak-teriak kegirangan, terlalu bersemangat mengobrak-abrik isi lemari.


"Yang jangan keras-keras. Ada Lukas di luar" suami gue memberi peringatan.


Hah? Lukas? Bibit ganteng yang gue tendang belalainya waktu di Bali itu ya?



Nama Lukas. Usia dua puluh tahun. Baru aja lulus dari akademi militer TNI. Penempatan kerja Magelang, Jawa Tengah. Sekarang jadi ajudan kesayangannya Kendra. Badan boleh bongsor, tapi masih bocah banget ini anak satu. Status kayaknya jomblo deh, belum gue cari tau lebih jauh. Ada yang minat? Kasih gue satu tas Prada ntar gue tuker sama nomor WA-nya deh. Wuahaha..


Si bibit unggul dari tadi menghindari gue mulu. Selalu aja sembunyi di balik Kendra kalau gue udah masuk radarnya. Sakit banget kali ya tendangan gue waktu itu sampai-sampai bikin dia trauma kek gini. Ya habis, kakak nggak ada pilihan lain lagi dedek bongsor.


Berbanding terbalik dengan penampilannya yang macho, Lukas ternyata masih cukup lugu pemirsah. Terlihat jelas gimana ekspresinya waktu gue sama Mamas suami mesra-mesraan di bangku belakang, dia keliatan cukup shock dan malu-malu ngelihat kebrutalan gue gelendotan sama si seksi.


"Ayang.. kangen" gue manja-manja di lengannya.


"Aku juga" Kendra menautkan telapak tangan kita.


"Kita mau kemana sih?" gue mengorek informasi.


"Ada deh.. Nanti kamu juga tau" jawabnya tengil.


"Iiih.. main rahasia-rahasiaan. Suka deh mau bikin surpsise gini" gue tambah nempel ke tubuhnya. Sesekali bibir gue nyosor kecil-kecil ke pipinya yang tambah tirus. Uluh uluh.. sayangku terforsih ya kerjanya. Nanti waktu honeymoon gue pastiin asupan susu buat kesayangan gue tercukupi, biar gemukan dikit.