
"Aduh yang.. nggak sabar banget" Kendra menutup pintu dengan kakinya, sementara tangannya sibuk menahan beban tubuh gue yang menggelantung di pinggulnya. Gue udah kayak siluman ular yang melilit mangsanya. Untung suami gue tentara, kuat nahan berat tubuh gue yang nempel kayak koala.
Tangan gue menangkup kedua buah pipinya yang semakin lama semakin chubby, efek asuapan susu murni ibu Sasa, hehe.
"Mana coba tadi lidahnya yang janji mau ngenakin. Coba sini liatin" perintah gue sok bossy.
Dengan satu cengiran, si seksi mengeluarkan lidah 'berbahayanya' dan mulai dia bergerilya membasahi bibir atasnya dengan satu gerakan yang sangat lamban dan sensasional.
Tidak menunggu lama, gue juga mengeluarkan jurus lidah meliuk-liuk gemulai dan menempelkannya ke benda lunak di rongga mulut kesayangan. Ugh.. syaraf sensitif gue langsung mengirimkan sinyal ke otak untuk mengaktifkan hormon endorpin di dalam tubuh. Lidah kita saling membelit, bergumul satu sama lain, hingga akhirnya gue menyerah, Kendra berhasil mendominasi.
"Eungh.." lenguhan mas Suami membuat gue lebih bersemangat. Tangan gue tidak tinggal diam. Mengacak-acak rambutnya yang hitam lebat kemudian turun mengoyak seragamnya agar segera terlepas dari bahunya yang kokoh dan besar itu.
Kendra membawa gue ke dalam kamar. Tanpa melepas pangutan bibir kita, dia merebahkan gue dengan hati-hati di atas ranjang, memastikan berat tubuhnya tidak akan menekan perut gue yang sudah mulai membesar.
"Curang kamu ya, itu namanya serangan mendadak. Aku kan nggak persiapan. Sini aku hukum" ucap Kendra sebelum menarik tari lingerie gue lepas hingga menampakan kedua buah dada yang putingnya sudah mencuat tegak, siap dinikmati.
"Ayang ahh..." rambut Kendra gue remas seiring gerakan mulutnya menyedot-nyedot pucuk dada gue itu. Ugh.. dominasi lidah dan mulutnya memang tidak pernah bisa gue tahan. Ditambah lagi aksi tangan besarnya yang meremas-remas buah dada gue yang satunya. "Eungh.. Mas.."
Lidahnya turun menjilati setiap lekuk tubuh gue. Menjamah perut, bermain-main dengan pusar gue, lalu menurunkan celana dalam dan mengendus apa yang tersembunyi di dalamnya. "Mana coba yang gatel tadi?"
"Ini.." cicit gue manja seraya membuka kaki selebar-lebarnya. "Jilatin Mas.." gue merayu sembari mengusap-usap otot perutnya.
Tanpa bisa gue kendalikan, kaki gue bergerak dengan sedirinya menjepit kepala lelaki itu agar memasukkan lidahnya lebih dalam. "Iya.. di situhh Mas.. eungh" Saking tidak sabarnya, pinggul gue ikut bergerak maju mundur di wajahnya. "Maaaash aahh" lenkingan suara gue keluar bersama cipratan lendir bening yang membanjiri mulut kesayangan gue. Eungh.. suami gue emang jago bikin bininya enak.
"Gantian sini Mas yang aku sedot-sedot" tangan gue dengan cekatan melepas sabuk hitam yang melilit pinggang kokohnya.
"Aahh Sa.." telapak tangan lebar si sayang meremas rambut gue dan membimbing kepala gue bergerak maju mundur mengulum batangnya. Kepalanya menengadah, matanya terpejam dan bibirnya terus mendesis merasakan keganasan mulut gue yang menyelimuti kejantanannya. Benda panjang itu semakin mengeras, urat-uratnya ikut menegang bersamaan dengan remasan tangan gue di pangkal batangnya.
Kegiatan panas kita tergangu oleh suara bel pintu yang berbunyi berulang-ulang.
"Bentar yang. Aku liat dulu ke depan" ucapnya sembari melepaskan batang besar itu dari mulut gue.
"Aaa.." gue merengek tidak mau.
"Cuma bentar cantikku" Kendra menepuk-nepuk pipi gue lembut sebelum memakai kembali celana dan kaos hitam polos kesayangannya.
Lagi enak juga..
Awas aja kalau itu Satriya, gue bejek-bejek terus gue sambelin biar jadi guguk geprek.