Horizon

Horizon
Episode 39



Melangkah melewati kasbah, kita disambut oleh bangunan-bangunan saling bertumpuk mengikuti kontur bukit pegunungan Atlas. Di kanan-kirinya berdiri tembok-tembok kuno dengan menara menghias setiap sudutnya. Beberapa kali telapak tangan gue menyentuh dinginnya dinding tanah liat yang berbanding terbalik dengan terik panas mentari di atas sana. Berada di kota ini, rasanya seperti tertarik masuk dalam lorong waktu dan dilempar ke peradaban masa lalu, berpuluh-puluh ribu yang lalu, ketika manusia degan segala akal pikirannya berhasil menakhlukkan ekstrimnya kehidupan padang pasir. Luar biasa memang, manusia dan peradabannya.


Warna merah kecokelatan menyelimuti hampir semua yang terbentang sejauh mata pemandang. Dihiasi dengan daun-daun hijau tumbuhan kurma yang tumbuh subur menaungi pucuk gurun Sahara ini. Menyuguhkan tehnik konstruksi pre-saharan yang tak lekang oleh waktu.


"Coba liat sana yang" Mas suami nunjuk ke arah hamparan pasir yang sangat luas di sebelah selatan. Posisi kita ada di atas kars, dari sini nampaklah bentangan kontur bumi perbatasan Timur Tengah dan Afrika.


"Itu yang namanya gurun? Luas banget. Nggak ada pohonnya juga. Gimana orang bisa hidup di tempat kayak gini?" gue kagum sendiri. Nggak percaya bisa liat dengan mata kepala salah satu gurun terbesar di dunia, gurun Sahara.


"Mau main ke sana nggak?" si ganteng ngajak.


"Kyaaa... Mau bangeeet.." gue teriak kegirangan kayak anak kecil. Sambil loncat-loncat lagi.


"Bentar ya" si sayang ngeluarin ponselnya terus ngomong nggak tau sama siapa.


"Eh sini bentar deh yang" setelah memutuskan sambungan, gue ajak Mas suami duduk di bangku sudut kota. Buru-buru gue ubek-ubek Merche Bag warna salem yang dibeliin Mamas buat seserahan waktu meminang gue kala itu.


"Nah ketemu" botol sunblock yang hanya tersisa separuhnya itu gue tuangin sedikit demi sedikit ke telapak tangan, terus gue usapin di kulitnya si seksi. "Biar nggak nambah item" kilah gue.


"Kenapa emang kalau item? Aduh yang lengket gini, nggak enak" ribet banget sih ini cowok. Tinggal duduk diem dan biarin tangan gue menelusup tiap lekuk kulitnya yang nggak ketutup kain aja susah.


"Udah nggak usah protes. Biar anak kita nggak ketularan item bapaknya"


Si ganteng cemberut.


"Uluh-uluh.. digituin aja bibirnya monyong-monyong. Becanda sayangku. Ini buat melindungi kulit kamu, nanti kalau iritasi atau kebakar gimana? Cuaca ekstrim gini" tangan gue narik bibirnya gemas.


"Uluh-uluh perhatiannya istriku. Sini kamu aku olesin sekalian biar nggak item" balas si seksi dengan meraup wajah gue pake tangannya.


"Habis kamu gemesin sih. Eh, itu unta-nya dateng" atensi gue beralih ke arah yang ditunjuk si seksi. Seekor unta lengkap dengan kain penutup punggung dituntun pemiliknya menghampiri kami.


"Kamu sewa onta?" tanya gue.


"Biar romatis. Kayak difilm-film itu lho yang"


"Tapi unta kan bau" gue menampilkan ekspresi jijik.


"Loh, emang iya? Bentar aku cek dulu" Mas suami sedikit berlari menjumpai pemilik onta yang tadi dipesannya. Nampak dari kejauhan dia sedikit mengendus-endus ke binatang berpunuk itu sebelum membawanya ke hadapan gue.


"Nggak papa yang. Ini unta udah steril. Baru aja mandi katanya. Jadi nggak begitu bau" si sayang meyakinkan.


Gue melangkah ke depan mengecek sendiri. "Nanti kalau aku ikut-ikutan bau gimana?" gue sok-sokan jual mahal.


"Tenang. Nanti aku mandiin."


"Beneran?" mata gue berbinar-binar.


"Iya. Udah sini naik. Aku bantuin"