Horizon

Horizon
Episode 22



Bali... I'm coming..!!


Gue menghirup nafas dalam-dalam. Ah.. segarnya. Beda emang sama udara Jakarta.


Karena matahari sudah semakin meredup, setibanya di bandara kita langsung naik taxi menuju ke resort. Udah nggak sabar rasanya pengen malem aja. Hihi.. aduh kok gue jadi dag dig dug gini sih. Entar malem pasti si ayang perkasa banget.


Dibutuhkan sekitar empat puluh menit untuk kita sampai ke resort. Rasa lelah hilang begitu saja disambut nuansa Bali yang begitu kental dengan keindahan alam dan budayanya. Gapura dan janur-janur masih menghias tiap rumah di sisi jalan. Pohon-pohon besar dengan kain motif papan catur membelit batangnya, dan turis-turis hilir mudik disetiap sudut kota mengagumi hasil karsa dan cipta bumi pertiwi ini.


Setelah selesai dengan segala prosedur check in, Kendra berjalan menuntun dua buah koper besar menuju kamar tempat kita akan bermalam. Gue mengikutinya dari belakang seraya mengagumi simponi tempat ini. Sebuah kolam renang menghadap langsung laut bebas di luar sana. Nyiur kelapa berjajar rapi, daunnya bergemerisik dimainkan angin. Di setiap sudut taman, bunga kamboja putih menghiasi gemericik air mancur dengan ikan koi yang berenang lincah terbawa arus, sebuah pemandangan khas pulau ini.


Kendra membuka pintu bercat krem itu. Dia membiarkan gue masuk terlebih dahulu, menilik setiap sudut ruangan tempat kita bersinggah untuk beberapa malam ke depan. Di dominasi warna putih, kamar ini terlihat begitu terang dan bersih. Apalagi banyak kaca besar yang memberikan pemandangan alam di luar sana. Tak berhenti-berhentinya gue menatap kagum pada keindahan seni perpaduan dekorasi dan arsiktektur yang menumbuhkan nuansa hangat dan romantis di dalam ruangan ini.


"Mau kamu dulu yang mandi apa aku dulu?" tanya Mas suami sambil menata koper kita.


"Em.. mandi bareng aja gimana?" gue menaik turunkan alis.


"Yang ada nanti nggak mandi" celoteh si seksi sambil membuka kaosnya.


"Eits.. ayang mau ngapain?" gue sigap menyilangkan kedua tangan di depan dada. Padahal aslinya menikmati.


"Mau mandilah. Aku duluan aja yang mandi. Kamu kalau mandi lama" jawabnya seraya berjalan ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama ya yang. Nanti si uwu menciut kedinginan!" teriak gue sambil cekikikan.


"Nggak akan" balasnya sambil menutup pintu.


Demi memberikan malam yang indah untuk suami, tiba-tiba gue kepikiran pengen spa. Lumayanlah, cuman tiga puluhan menit badan gue akan segar bugar, siap disantap. Apalagi setelah jadi pajangan setengah hari, tebar senyum dan cipika-cipiki sama tamu undangan, terus langsung terbang dari Jakarta ke Bali, huh rasanya bener-bener capek.


Baru aja mau membuka pintu, gue inget kalau sekarang gue udah jadi istri orang. Otomatis harus ijin suami dulu dong.


"Yang..." gue gedor-gedor daun pintunya.


Terdengar suara kran dimatikan dari dalam, "Apa?" teriak Kendra.


"Yang aku boleh keluar bentar nggak?" telinga gue nemplok ke pintu.


"Kemana?"


"Mau spa. Bentar aja" pinta gue.


Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Baru mau gue gedor-gedor lagi, pintu di depan gue setengah terbuka. Nampaklah dada bidang suami gue yang hanya berbalut handuk kecil di pinggangnya. Ugh, gatel kan pengen gue bumi hanguskan itu anduk.


Kepala Kendra nongol dari balik pintu, rambutnya masih basah, ada sedikit sisa-sisa shampo yang belum dibilas, "Ngapain ke spa?" tanyanya.


"Ngapain lagi? Nyiapin misil buat tempur sama kamu dong." Jari-jari gue bermain nakal di dadanya yang lebar, "Biar akunya lebih fresh juga. Nggak lama kok. Cuma luluran sama mandi kembang" gue menjelaskan.


"Perlu aku temenin?"


Gue menggeleng, "Nggak usah. Ayang selesein dulu nih keramasnya. Habis itu pemanasan. Biar nggak kram" candaan gue dihadiahi sebuah sentilan kecil di dahi.


"Ya udah sana. Jangan lama-lama. Kalau kelamaan nanti aku susul terus aku kerjain di sana sekalian"


Aww.. sayangku ternyata ganas juga... Awrrr...