Horizon

Horizon
Episode 76



"Ada nggak?" wajah Mas suami nongol dari balik pintu, sudah lengkap dengan baju kebesarannya, siap berangkat ke kantor.


"Nggak ada. Udah aku ubek-ubek semua isi tas, laci, almari, kantong baju, nggak ada semua" sahut gue dengan muka memelas. Pasalnya, tespek yang diborong Mamas tadi malam hilang entah dimana. Padahal pagi ini rencananya mau gue pake itu benda.


"Di mobil juga nggak ada. Coba kamu inget-inget lagi, semalem kamu letakin dimana?" dengan langkahnya yang lebar lelaki itu menghampiri gue.


Sambil berpikir, gue mendudukan diri di kursi depan meja rias, "Begitu keluar dari mobil ya cuma bawa tas ini yang, terus aku taruh di sini. Habis itu aku ke kamar mandi, bersihin make-up, tidur. Tapi udah aku ubek-ubek semua tempat nggak ada"


"Apa jangan-jangan ketinggalan waktu makan kerang?" tebak si seksi.


"Eh.. apa iya ya?" gue mengingat-ingat.


"Aku beliin lagi aja gimana?" Mas suami menawarkan diri.


Aslinya sih pengen gue iyain penawarannya si seksi, tapi begitu melirik jam di dinding gue berubah pikiran, "Ayang udah mau telat gini. Nanti aja aku beli sendiri."


"Eh! Nggak boleh kalo sendiri. Bahaya"


Aduh..aduh.. protektif banget sih Pak.


"Ya udah kalau nggak boleh, nanti gampang. Aku bisa order ojol aja. Ayang udah mau telat ini. Buruan sana berangkat." gue mengambil jalan tengah.


Mas suami melirik sekilas jam di dinding sebelum berpamitan ke gue, "Ya udah aku berangkat dulu. Kamu baik-baik di rumah. Jangan capek-capek, itu cucian numpuk nggak usah dicuci. Biar nanti aku aja yang beresin. Kamu pokoknya istirahat aja." pesan si ganteng sambil menjulurkan tangannya untuk gue cium.


"Iya sayang.. Kamu juga hati-hati di jalan. Jangan ngebut. Telat dikit nggak papa, yang penting selamat sampai tujuan" sahut gue sembari mencium tangan Mas suami.


"Asalamualaikum" Mas suami nyium kening gue.


"Walaiku-" belum selesai gue jawab, bibir si ganteng nyosor gitu aja bikin gue kaget. Cuma dikasih satu kecupan terus dia kabur keluar rumah. Dasar... cuma di kasih teasing doang. Mana puas gue. Huh!



***


Seperti janjinya, Kendra pulang lebih cepet sore ini. Dia cuma ganti baju terus cus nganter gue periksa sekaligus berangkat kerja. Biar lebih efektif, kita memutuskan untuk cek kehamilan di rumah sakit tempat gue kerja.


"Jadi dong" jawab gue singkat.


"Terus-terus? Hasilnya gimana?" terlihat jelas antusiasme dan rasa ingin tahu lelaki itu membuncah dari nada suaranya.


"Hasilnya... rahasia" jawab gue cengengesan.


"Kasih tau nggak?" ancem si seksi sambil nyubit batang hidung gue.


"Awh" gue mengaduh, "ayang iih.. nanti aku nggak bisa nafas"


"Gampang. Nanti aku kasih nafas buatan" jawabnya enteng sambil menyingkirkan jarinya dari hidung gue.


"Nggak mau ah"


Kendra mengernyit, "Tumben?"


"Ya nggak mau aja"


Sudut mata lelaki itu melirik ke arah gue, "Kamu kok aneh?"


"Aneh gimana?"


"Biasanya yang kayak gitu nggak nolak."


"Ya lagi nggak pengen aja"


"Masak?" Kendra noel-noel dagu gue.


"Ya udah deh kalau dipaksa. Sini aku terima" gue merem sambil monyong-monyongin bibir.


"Eh udah mau nyampe" cicitnya tanpa rasa bersalah. Tuh kan gue di-PHP-in.. Syebel.