
Pernah nggak tanya ke orang-orang yang suka mendaki gunung, kenapa sih mereka hobby banget naik turun gunung? Padahal kan kalau dipikir-pikir mendaki itu bukan aktifitas yang mudah. Capek itu pasti, belum lagi cuaca yang tidak menentu. Jalanan nggak rata, hewan liar dimana-mana, dan obat flu harus siap sedia. Kok banyak orang gitu yang hobi banget naik turun gunung, sampe dibela-belain trip jauh ke pulau tetangga cuma untuk menaklukan sebuah gunung.
Katanya sih, waktu berhasil naik ke puncak, ada rasa puas tersendiri yang mereka dapatkan. Ditambah lagi pemandangan atas awan yang begitu menawan, membuat mereka lupa akan rasa lelahnya. Sama kayak gue, walaupun harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk sampai di kota Matahari Tenggelam ini, tapi begitu melihat betapa menakjubkannya tempat ini, rasa lelah gue hilang digantikan oleh semangat empat lima untuk menjelajah setiap bagian kota ini. Suami gue? Jangan ragukan stamina seorang tentara. Ada di medan perang tujuh hari tujuh malam tanpa istirahat yang cukup aja mereka kuat, apalagi buat nemenin istrinya keluyuran di negara orang. Segar bugar nggak ada capek-capeknya gitu dari tadi gue tarik ke sana ke mari. Jadi penasaran, kalau tempur di atas ranjang sanggup berapa ronde ya? Bisa-bisa gue ini yang butuh obat kuat.
Setelah meletakkan koper di apartemen, gue sama Mas suami langsung cus ke salah satu ikon kota gurun ini. Berhubung nggak tau ada apa aja di sini, gue nurut aja kemana si ganteng bawa gue. Destinasi pertama kita adalah kota tua. Bekas peradaban kuno era enam puluhan yang kini menjadi salah satu warisan budaya Unesco. Ait Benhaddou, sebuah ksar atau kota benteng yang berada pada rute karavan antara Sahara dan Marrakesh. Dikenal dengan pesona jaman pra-sahara-nya, dan sangat dikagumi karena arsitektur tanah liatnya yang membentuk bangunan khas dengan pencampuran budaya Yunani Kuno sekaligus Timur Tengah.
"Woaah" mulut gue nggak berhenti berdecak kagum. "Ini kotanya bener-bener dibangun dari tanah liat yang?" gue bertanya-tanya.
"Iyalah yang. Jangan remehkan peradaban manusia. Jauh sebelum ditemukan teknologi canggih seperti sekarang ini, mereka udah bisa bikin perkampungan dengan hanya bermodalkan tanah liat, kayu, sama jerami" jelas suami gue dengan penuh percaya diri. Sok tau banget ini orang, udah kayak guru Sejarah aja. Padahal kata ibuk, dulu Kendra tiap pelajaran Sejarah pasti remidi. Hm.. suka-suka lah. Paling lagi dalam mode pengen dapet pujian istri.
"Wuaah.. suami aku keren banget sih. Pengetahuannya luas" gue kasih nih pujian. Biar puas. Tuh kan, jadi senyam senyum sambil membusungkan dada.
"Sering dijadiin tempat pembuatan film. Itu loh yang ada di film Troy, Mission Impossible, Game of Throne.." lanjut Kendra memamerkan pengetahuan yang dia miliki.
"O iya.. Yang ada di Avatar. Waktu Aang-nya ke kerajan pengendali tanah itu, haduh siapa itu namanya, emm Bumi. Iya Bumi" gue ngelantur. Ya gimana dong, tontonan gue bukan sekelas The Legend of Troy, apalagi Game of Throne, cukup kartun aja gue udah bahagia. Contohnya nih ya, Frozen. Let it go... let it go.. nanana anymore..
Si Mamas cekikan sambil berantakin rambut gue. "Kamu ini tontonannya masih kartun?" ledeknya.
"Ya biarin. Dari pada ayang, film biru. Mana paling suka yang Jepang-Jepang"
Si seksi berdehem, "Namanya juga cowok. Studi banding itu namanya. Biar ilmunya bisa dipraktekin" Heleh pret. "Udah yuk jalan ke sana" mengalihkan perhatian, si sayang narik gue menyusuri kota tanah liat ini.