
Satu tawa meledek hampir keluar dari mulut lelaki itu sebelum akhirnya dia tahan sekuat tenaga. Mungkin dia masih bisa merasakan pelototan tajam dari balik kacamata ini.
"Ketawa lo? Hah?" gue makin galak.
Satriya menggeleng, "Enggak kok.. enggak" kilahnya.
"Awas lo! Gue sumpahin beneran kalau anak kita nanti beda jenis kelamin, anak lo bakalan cinta mati sama anak gue"
"Waduh ngeri banget kutukannya. Ngebet ya pengen besanan sama gue" dia menanggapi dengan santai.
"Amit-amit! Banyak omong sih lo, pulang sana! Ini makanan buat dedek. Dicomotin mulu!" gue tabok tangan Satriya yang diem-diem nyolong takoyaki satu lagi.
"Ya ampun nyah.. Jangan galak-galak. Udah mau lahiran juga. Kalau dedeknya takut terus nyungsep lagi ke dalem perut gimana? Nggak jadi lahiran dong" ucapnya sambil meniup-niup tangannya yang kena gampar gue.
"Biarin. Biar anteng aja di perut. Mau launching gak ada bapaknya juga. Mendingan di perut aja" gue kelepasan emosi.
"O.. lagi perang sama bapake? Pantesan ada suara nangis-nangis semaleman. Alhamdulillah yang semalem itu bukan suara setan. Ternyata elo"
Kampret emang. Gue lagi bersedih malah bilang Alhamdulillah.
"Iya emang. Itu suara gue. Bukan suara setan. Alhamdulillah ya?" gue menekankan kata alhamdulillah dengan ekspresi pengen makan orang.
"Ye.. santai dong buk. Mau dilanjutin nangisnya juga nggak papa. Nih gue siapin tissue buat buang ingus"
Bukan Satriya namanya kalau nggak bikin gue pengen mengumpat. Tapi karena lagi hamil, gue harus menahan diri biar nggak manggil dia anjing.
"Lo mau pulang sendiri atau gue pulangin dengan burung yang udah bengkok?" mata gue melotot memberi anacaman, ya.. walaupun dia nggak bakal bisa liat karena ketutupan kacamata.
Bukannya angkat kaki, lelaki itu malah menyilangkan kakinya mengambil posisi nyaman untuk bersandar di bangku teras rumah gue.
"Lo jadi istri supportif dikit dong sama suami. Kasian tuh suami lo. Emang lo pikir dia nggak beban mental apa?" tiba-tiba aja Satriya ngomong serius.
"Emang lo tau selama ini apa yang dialami suami lo terkait masalah kerjaanya?"
"Hah? Emang kenapa sama kerjaanya?" gue menghentikan aktivitas memamah biak dan memberikan lelaki itu seratus persen atensi gue.
Emang selama ini ada yang gue nggak tau?
"Ya lo pikir aja. Dengan status istrinya sebagai anak Jenderal, sementara pangkatnya baru Letnan, seperti apa dunia kerja memperlakukan dia?"
Satu pertanyaan itu sukses membungkan mulut gue.
"Ada harga yang harus dibayar dengan dia nikahin lo, Sa. Apalagi dengan nama besar bokap lo yang menjadi bayang-bayang dia. Lo nggak tau kan seberapa keras dia kerja biar bisa naik pangkat secepetnya. Demi apa? Demi pengakuan publik karena sudah berani nikahin lo. Biar nggak mempermalukan pangkat bokap lo. Biar bisa dibanggakan karena sudah menjadi menantu Mayor Jenderal paling disegani para elite militer. Dan apa andil lo dalam perjuangan suami lo? Ngeluh-ngeluh karena ditinggal? Come on Sa, nggak cuma lo doang yang ditinggal suami kerja. Hampir sembilan puluh lima persen istri tentara pasti pernah ditinggal suaminya dinas. Bahkan nggak sedikit juga jumlahnya yang ditinggal waktu lagi hamil. Dari pada lo nangis, lebih baik lo pake energi lo buat nyemangatin suami lo. Udah ah, gue nggak mau ceramah panjang lebar. Lo kan pinter, jadi bisa nangkep dong apa yang gue omongin" Lelaki itu menarik kursinya mundur. "Nih, tadi Talitha titip ngasihin ini buat kamu. Masker timun. Biar mata bengep lo cepet pulih" ucapnya sembelum pergi meninggalkan gue seorang diri di teras rumah.
Gue mematung.
Untuk beberapa menit gue cuma bisa mematung.
Satriya bilang ada harga yang harus Kendra bayar karena udah berani nikahin gue.
Harga yang hanya bisa dia bayar dengan kerja keras dan pencapaian.
Harga yang berbanding lurus dengan karir dan jabatannya.
Harga yang akan dia tanggung seumur hidupnya.
Dasar bodoh.. mengapa gue baru menyadarinya sekarang?