Horizon

Horizon
Episode 25



Kendra nampak kebingungan untuk sesaat. Nampak jelas gimana dulu dia belum pernah menangani perempuan yang lagi nyeri haid. Sekarang, pria itu kelimpungan sendiri tidak tau harus berbuat apa.


"Ada yang bisa aku lakuin?" akhirnya dia bertanya ke gue.


"Nggak perlu yang. Udah sini, kamu tidur aja"


"Gimana bisa aku tidur liat kamu kesakitan kayak gini" dia nggak terima.


"Ini beneran nggak papa sayang. Cuma siklus yang harus aku lewati tiap bulan. Kamu nggak perlu khawatir" gue berusaha meyakinkan.


"Bentar, aku cari di google dulu" akhirnya Kendra inisiatif sendiri.


Setelah beberapa kali mengusap layar ponsel, lelaki itu mulai memilah apa yang bisa dia lakukan untuk gue berdasarkan artikel tentang cara meredakan nyeri haid yang dibacanya.


"Yang, minum obat aja gimana? Aku cariin bentar di apotek" dia menyarankan.


"Enggak. Aku nggak mengkonsumsi asam mefenamat kalau lagi haid. Nggak baik kalau keseringan" gue menolak. Lagipula ini udah malem. Kasian sayangku kalau harus kelayapan keluar nyari apotek.


Melihat penolakan dari gue, Kendra kembali menyusuri layar ponselnya, "Kalau gitu aku bikinin kompres air anget ya. Bentar" belum juga gue menjawab, suami gue udah ngacir turun dari ranjang.


"Yang, udah nggak papa. Kamu balik tidur aja. Aku bisa nahan kok" gue mengeraskan volume suara agar bisa di dengar Kendra yang sedang mengisi pemanas air elektronik dengan air.


"Udah nurut aja. Sekarang aku dokternya. Kamu pasien" sanggahnya tanpa sedikitpun menghentikan aktivitasnya.


Beberapa menit kemudian, laki-laki itu kembali dengan sebotol air dan sapu tangan. Ranjang yang gue tempat terasa turun ketika beban tubuh Kendra naik di atasnya. Tangan kanan lelaki itu menarik gaun malam gue ke atas dan mengompreskan benda hangat yang ada di tangannya itu di atas perut gue. Satu tangannya yang lain mengelap dahi gue yang dipenuhi peluh keringat. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam selimut, menarik kain tebal berwarna putih itu ke atas hingga membungkus tubuh kita berdua.


Kepala gue diangkat dan disandarkan ke lengannya. Kendra menjadikan tangannya sebagai bantalan dan tubuhnya sebagai guling. Dia menarik gue lebih dekat, membiarkan gelenyar feromonnya mengusik indra penciuman gue.


"Ke kanan lagi" jawab gue membenarkan letak tangannya.


"Sini?" dia memastikan.


Gue mengangguk. Tanpa menunggu lama, Kendra memijat dan mengusap bagian yang terasa sakit itu, membuat aliran darahnya lebih lancar sehingga rasa nyeri itu sedikit mereda. Sesekali, dia memindah letak kompresnya agar efek hangat bisa tersebar merata.


"Maaf ya yang, kamu jadi kebangun gini" gue angkat bicara setelah rasa nyeri itu sedikit mereda.


"Kok minta maaf sih. Negara aja aku jaga, apalagi kamu" tuturnya.


"Bisa aja deh. Ini mulut makin lama makin manis" gue nguyel-uyel bibirnya.


"Kan tadi udah nemplok bibir kamu. Jadi kebawa deh gulanya"


"Tuh kan.. Suami aku diem-diem jago ngegombal ya"


"Apa sih yang Kendra nggak bisa buat istri cantik. Hm?"


Gue cengengesan, "Kalau tau kamu ternyata diem-diem agresif dan jago ngegombal gini, aku udah minta nikah dari dulu."


"Apa aku bilang. Nikah enak kan? Kamu sih pake ntar-ntaran mulu"


"Jadi tambah sayang deh sama ayang. Sini peluk" gue langsung narik pinggang Kendra mendekat dan menenggelamkan kepala gue di perpotongan lehernya.