Horizon

Horizon
Episode 80



Dengan sekantong plastik pocari sweat yang gue beli di Indomart depan rumah sakit, kaki gue melangkah kecil-kecil menuju sebuah tanah lapang yang hanya berjarak sekitar lima menit dari sini. Petang datang, namun bohlam-bohlam lampu warna-warni menerangi dengan jelas aktivitas apa yang sedang terjadi di tempat itu. Dua.. tiga.. empat. Ada empat sosok familiar yang tertangkap indera pengelihatan gue di antara lalu-lalang orang yang menyapa malam di tanah lapang ini. Tiga diantaranya melakukan gerakan push up dengan dada telanjang. Keringat mengucur deras. Dinginnya angin malam tak mampu memeluk hawa panas yang menguar bersama hembusan nafas pendek-pendek itu. Mereka kelelahan. Tapi tak ada tanda-tanda dari satu orang yang bersedekap dengan peluit di bibirnya untuk menyudahi kegiatan mereka. Hingga akhirnya Komandan tentara itu berhenti memberi aba-aba setelah melihat kedatangan gue.


"Loh, yang?" Kendra berlari tergopoh-gopoh menjumpai gue yang berjalan ke arahnya. "Kok disusulin sih? Kamu kan jadi jalan jauh. Ini juga bawa yang berat-berat. Sini kasih aku" dia mengambil alih kresek putih itu dari tangan gue.


"Abis kamu lama. Ya udah aku susulin aja." gue berdalih "Kamu ngapain mereka sih? Sampe kayak curut kecemplung got gitu bentukannya?" jari gue menunjuk tiga dedek Akmil yang masih berjuang melakukan push up meskipun keringat mengucur deras.


"Biarin. Siapa suruh ganggu-ganggu kamu." cibirnya singkat sambil membuka bungkus plastik yang kini ada di tangannya. "Kamu beli banyak banget?" dahi lelaki itu berkerut.


"Beliin buat mereka juga. Udah ah hukum-hukumnya, kasian tau. Suruh berhenti itu"


Mendengar perkataan gue, bibir Kendra manyun tidak suka, "Beliin mereka? Buat aku mana?"


"Lah itu kan ada empat. Kamu satu, yang tiga kasih ke mereka satu-satu. Pas kan?"


Jawaban gue sepertinya kurang membuat lelaki itu puas, "Kok gitu? Masak yang kamu kasih ke aku sama kayak yang kamu kasih ke mereka? Nggak ada spesial-spesialnya gitu?"


Gue menghela nafas kasar, nih laki kadang kadar kedewasaanya idaman banget tapi kadang lebih manja dari anak kecil. Pusing..


"Ya udah, nanti aku kasih mimik plus plus deh. Tapi itu dedek-dedeknya suruh pulang dulu. Biar nggak ngintip"


Benar saja, seutas senyum langsung terukir di bibir lelaki itu, "Bener ya? Awas kalau bohong."


"Nggak percaya? Apa mau aku mimikin di sini sekarang?"


"Eits.. mimik kamu kan konsumsi pribadi. Bentar ya, aku pulangin mereka dulu." Bergegas menyudahi hukumannya, Kendra memberikan satu per satu dari mereka minuman yang gue bawakan tadi. Masih dengan nada tegas, dia memberikan ultimatum terakhir sebelum akhirnya tiga bocah itu menunduk memberi salam, meminta maaf ke gue, dan kembali ke jalan yang benar.


"Yuk mimik!" kalimat pertama yang dilontarkan Mas suami dengan sangat antusias begitu menghadap gue.


"Semangat banget mau mimik" gue meledek.


"Semangat dong. Mumpung masih bisa puas mimik"


Gue memincingkan mata, "Maksudnya?"


Bukannya dijawab, Mas suami cuma cengar-cengir aja.


"Isshh.. jawab! Senyam-senyum mulu"


"Biarin. Kan lagi bahagia"


"Bahagia kenapa? Eh ya ampun, jadi lupa kan hasil lab tadi belum diambil"


"Balik ke rumah sakit. Ambil hasil lab"


"Nggak perlu. Udah ada di aku hasil labnya" jawabnya santai.


"Berarti ayang udah liat dong hasilnya?"


Cuma cengiran lebar yang gue dapatkan sebagai jawabannya.


"Terus-terus? Hasilnya apa?" desak gue nggak sabar.


"Kamu bilang dulu hasil kamu tes pake tespek tadi pagi apa?"


Gue senyum tersipu-sipu sambil mengangkat dua jari gue.


"Apaan cuma senyum-senyum gitu?" si Mamas nggak nangkep kode dari gue.


"Iih kamu ini nggak peka!" sambil gue perlihatkan sekali lagi jari gue yang mengisyaratkan angka dua.


Dia terkekeh, "Garis birunya dua ya?" tebaknya.


Gue ngangguk-angguk. "Kalau hasil labnya?" tanya gue balik.


Lelaki itu ikut menggunakan jarinya sebagai isyarat dengan membuat tanda plus.


Gue tersenyum malu seraya mengigit kecil bibir bawah gue, "Positif ya yang?"


Masih dengan senyum mengembang, Kedra mendekatkan wajahnya dan menyentuhkan hidungnya dengan hidung gue, "Makasih ya Maminya dedek"


Aww.. gue dipanggil Maminya dedek.


"Makasih juga buat ****** Papinya dedek yang udah berjuang keras buat membuahi sel telurnya Mami." bales gue.


"Jadi.. makasihnya cuma buat spermanya aja nih. Yang berjuang buat memproduksi ****** unggulan nggak dikasih ucapan makasih?"


"Itu sih liat aja ntar. Aku kasih ucapan tiga ribu kasih kalau ngenyotnya enak"


"O iya. Kan tadi mau mimik. Yuk!"