
"Rahwana ngelakuin banyak hal supaya ingatan kehidupan masa lalu Shinta tergugah. Akhirnya pelan-pelan Shinta mendapat sekelebat bayangan kehidupannya sebelum reinkarnasi kalau dia dulu adalah istri Rahwana dan mereka memang saling mencintai."
"Hah?" gue melongo, "Jadi di kehidupan sebelumnya Rahwana sama Shinta itu suami istri?"
Kendra mengangguk. "Meskipun Shinta mulai mengingat kehidupan masa lalunya, tapi dia tetap menjaga kesetiaannya sama Rama, suaminya yang sekarang. Dia memang mencintai Rahwana, tapi itu dulu, di kehidupannya yang telah berlalu, sementara sekarang dia sudah terikat dengan Rama, dan sampai akhir hayatnya akan terus menjaga kesetiaanya untuk Rama. Mendengar hal itu, Rahwana akhirnya menghormati keputusan Shinta. Dengan penuh lapang dada, dia berniat menggembalikan Shinta ke Rama, tapi terlambat." Kendra menelan ludah.
"Terlambat? Kenapa?"
"Pasukan Rama sudah menyerang kerajaanya, Alengka. Mau tidak mau dia harus berdiri mempertahankan kerajaannya itu. Kali ini bukan sebagai seorang lelaki yang ingin mempertahankan seorang wanita, tapi sebagai seorang raja yang berkewajiban menjaga negaranya. Tapi sayangnya, pasukan Rahwana dikalahkan saat peperangan itu."
Gue terdiam beberapa saat mendengar potongan kisah yang memilukan itu. "Tragis banget ya" untuk pertama kalinya gue merasa kasihan sama tokoh antagonis.
"Ada yang lebih tragis lagi" ucap Kendra.
"Apa?"
"Aku tadi bilang kan kalau semua laki-laki itu brengsek. Nggak Rahwana, nggak Rama, semuanya brengsek"
"Maksudnya? Rama brengsek juga?" gue mengernyit.
Kendra melanjutkan ceritanya "Beberapa minggu setelah Shinta dibawa pulang, wanita itu hamil. Di situ Rama mulai meragukan kesetiannya istrinya, dia takut janin di kandungan Shinta bukan anaknya"
"Hah? Mlendung mbak Shintanya? Langsung ngegas ini Mas Rama begitu si embak pulang" gue nerocos tanpa rem.
"Ini cuma cerita fiktif yang" tegur si Mamas, tau betul apa yang ada di otak gue.
"Ups.." gue menutup mulut dengan kedua tangan, "Lupa di kasih rem yang.. hehe."
"Dasar" kening gue ditoyor Mas suami.
"Jadi untuk membuktikan kesuciannya kalau dia sama sekali belum pernah disentuh lelaki lain selain Rama, Shinta mau ngelakuinĀ pati obong"
"Apa itu?"
"Menerjunkan dirinya ke dalam nyala api. Kalau Shinta bohong dia bakalan mati terbakar, tapi kalau enggak, dia bakalan selamat"
"Aku pernah denger nih yang versi ini. Terus mbak Shintanya selamat kan? Abis dibakar malah tambah glowing dan cantik, iya kan?"
"Iya, tapi nggak nyampe di situ aja kisahnya"
"Lha? Gimana?"
"Abis upacara pati obong itu emang Rama menerima Shinta kembali, tapi semakin kandungan Shinta membesar, semakin banyak omongan rakyat-rakyat yang membuat Rama sedikit risih. Waktu itu Rama diangkat menjadi Raja, tapi banyak rakyatnya yang meragukan kalau anak yang dikandung Shinta adalah anak Rama, ya karena Shinta hamil tidak lama setelah kembali dari Alengka"
"Terus?"
"Jadi akhirnya Rama membuat keputusan untuk mengasingkan Shinta yang sedang hamil ke hutan."
"Hah?" gue membelalak tidak percaya. "Dibuang gitu? Waktu hamil pula?"
Kendra mengangguk, "Sampai melahirkan, bahkan Shinta harus merawat anak kembarnya sediri sampai besar."
"Brengsek emang. Udah kurang setia apa coba mbak Shintanya" gue maki-maki sendiri. "Terus abis itu gimana yang? Mas Rama nggak ada sama sekali gitu nengokin anak-anaknya?"
Suami gue menggeleng, "Di hutan itu, Shinta dibantu seorang empu selama merawat anaknya, empu itu yang akhirnya menulis cerita Ramayana."