Horizon

Horizon
Episode 24



Harusnya, semua udah perfect. Andai saja tamu tak diundang ini nggak dateng, pasti sekarang gue udah keenakan merem melek digarap si seksi. Aish..


"Maaf ya yang.." gue manyun di bawah keteknya. Malam ini Kendra sampe mandi dua kali. Punya dia udah ngaceng banget tadinya. Nggak bisa bayangin deh gimana sakitnya si uwu karena batal masuk surganya.


"Udah nggak papa. Bukan salah kamu juga" Si sayang membelai rambut gue menenangkan.


"Nggak jadi deh buka puasanya" masih aja gue nyesek.


"Kan masih ada waktu lain kali."


"Tapi ini kan malam pertama kita.." Loh, kok malah jadi gue yang nggak terima malem ini batal ehem ehem. Padahal yang kesakitan kan cacing besar Alaska.


"Nanti kita masih bisa bikin malem pertama yang lain. Pokoknya setiap malem sama kamu itu berasa malem pertama." Si sayang makin juara deh ngegombalnya.


"Kamu beneran nggak papa? Itu si uwu kalau masih tegang aku bisa bantuin lemesin pake tangan" gue menawarkan diri.


"Udah. Kamu istirahat aja. Istriku pasti capek seharian ini"


Aduuuh.. dipanggil istriku. Jadi terbang kan.


"Kelonin.." gue merengek manja sembari memeluk tubuh kekarnya lebih erat.


"Dari tadi juga dikelonin" tangan Kendra balas mendekap gue.


"Puk puk bokongnya" rajuk gue dengan mata yang sudah siap terpejam.


"Bayi gedhe.." ledeknya.


"Bayi-bayi gini udah bisa nyusuin kamu" gue membela diri.


"Kenapa?" gue membuka mata, "Ayang pengen ya?" goda gue.


"Enggak" jawabnya singkat sambil mengalihkan pandangan.


"Bo'ong! Ngaku deh" gue toel-toel dadanya keras.


Bukannya menjawab, Kendra malah menguap lebar. "Hoaam... aku ngantuk" tubuh besar Kendra menggelung tubuh gue. Kakinya **** kaki gue, tangan melingkar posesif di perut gue, dan dadanya menenggelamkan wajah gue di dalamnya. "Selamat tidur istriku" ucapnya sebelum mencium kening gue dan memejamkan mata.


Mungkin karena memang hari ini sangat melelahkan, kelopak mata gue ikut memberat. "Selamat tidur suamiku" balas gue sebelum jatuh terlelap dialam dekapan lengan kekarnya.


***


Hanya dua jam sebelum tidur lelap gue terusik oleh rasa nyeri di sudut kiri perut gue. Rasanya seperti diremas-remas, begitu sakit dan tidak nyaman. Mata gue terbuka, meringis menahan kram di bagian bawah perut gue, nyeri di saat haid memang sungguh tidak tertahankan. Dahi gue mulai berkeringat, kaki gue lambat laun terasa dingin, disusul keringat dingin yang membasahi tubuh. Dengan hati-hati, gue beringsut keluar dari pelukan Kendra. Mencoba sebisa mungkin agar tidak menganggu dengkuran halusnya.


Tapi ternyata, gerakan gue membuat lelaki itu terusik dari alam bawah sadarnya. Matanya terbuka perlahan, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya minim di dalam kamar. Melihat gue meringkuk dengan tangan di perut, Kendra mengangkat kepalanya. "Kamu kenapa?" tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


Gue mendesis, "Nggak papa." Bagi kaum perempuan, hal seperti ini sudah biasa. Meskipun sebenarnya rasa sakitnya luar biasa, tapi gue nggak mau menganggu waktu istirahat Kendra. Toh satu atau dua jam lagi, rasa sakitnya akan berangsur mereda.


Kendra bangkit dari posisi tidurnya. Dia menyalakan lampu yang lebih terang kemudian berbalik memeriksa keadaan gue. "Nggak papa gimana? Kamu keringetan dingin ini" ujarnya dengan satu tangan memeriksa dahi gue.


"Nggak papa yang. Udah biasa kram perut kayak gini. Nanti juga sembuh sendiri. Ayang tidur aja" jelas gue lirih sambil sesekali meringis kesakitan.


"Nyeri haid?" dia memastikan.


Gue mengangguk pelan.