
Mata gue semakin memberat menatap daun pintu yang sedari tadi belum bergeming terbuka. Sudah tiga jam berlalu namun Kendra belum juga kembali. Tanpa sadar, kelopak mata gue semakin menutup dan akhirnya gue tertidur di atas sofa polos berwarna biru tua di seberang ranjang itu.
Tidur gue terusik oleh sentuhan bibir lembut di pucuk kelapa. Sensasi basah itu terasa hangat menyentuh kening gue. Aroma feromon yang sangat khas menyerbu indera penciuman, semakin menyeret gue meninggalkan alam bawah sadar.
Begitu membuka mata, pemandangan yang pertama kali gue lihat adalah dada bidang laki-laki yang kini sudah sah menjadi imam gue. Otot bisep dan trisepnya dia jadikan bantalan kepala gue, sementara tangannya yang lain membelai pipi gue dengan lembut. Tubuh gue yang semula ada di sofa, kini sudah terbaring di atas ranjang. Jangan bilang Mas suami yang mindahin gue ke sini?
"Udah bangun?" suara lembutnya hanya gue balas dengan tatapan bingung.
Tidak ada jawaban, Kendra menunduk mencuri satu kecupan lembut di bibir gue. "Kok diem aja? Biasanya udah olahraga itu mulutnya?"
Gue makin kedip-kedip. Ini Kendra gue udah selesai ya marahnya? Tolong cubit gue.. gue nggak mau ini cuma mimpi belaka.
"Ditanya suaminya kok diem sih" lanjut lelaki itu sambil mencubit gemas batang hidung gue.
"Aduh.." gue mengaduh. "Eh ini bukan mimpi ya? Ayang udahan ya marah-marahnya?"
Sudut bibirnya terangkat, memberikan senyum tulus yang membuat wajahnya terlihat lebih mempesona. "Maaf ya. Aku terlalu emosi tadi." lirihnya sambil mengelus pipi gue lembut.
Tanpa pikir panjang, gue langsung menenggelamkan wajah di dadanya. Tangan gue melingkar di perut Kendra, membawa laki-laki itu lebih dalam ke dalam pelukan gue.
"Aku juga minta maaf yang. Nggak dengerin kata-kata ayang, malah main pergi gitu aja." suara gue tertahan dada bidangnya.
Kendra menarik wajah gue hingga berhadapan dengan wajahnya. Kedua tanganya menangkup pipi gue, dan matanya menatap lembut tepat ke dalam manik mata gue. "Kamu nangis terus tadi waktu tidur. Aku udh nyakitin kamu banget ya?" sesalnya.
"Hah? Nangis?" gue heran sendiri. Apa bener tadi gue nangis?
Buru-buru gue turun dari ranjang dan mengecek wajah gue di depan kaca. Sialan, mata gue bengkak banget. Ini juga pipi gue kenapa ada bekas air mata gini. Haduh.. nggak cantik banget tidur gue tadi.
"Yah... ayang liat dong muka jelek aku" gue histeris.
"Jelek dari mana? Dari belakang aja cantik tiada tara gini" sahutnya melangkah mendekati gue.
Gue membalikkan badan, "Ayang sehat? Kantung mata segedhe kantong kanguru kayak gini cantik dari mana-nya coba?"
"Dari sini cantik" si sayang ngecup pipi gue. "Dari sini cantik" kali ini jidat gue yang jadi sasaran bibirnya. "Dari sini juga cantik" terakhir adalah bibir gue.
"Lagii..." gue merajuk sambil monyong-monyong minta nambah.
"Nggak ah. Kamu belom mandi" candannya seraya memencet hidung.
"Mandiin.." gue masih nggak nyerah.
"Kamu mau liat aku mupeng tapi nggak bisa make kamu?" dia menyerang balik.
Gue terkejut mendengar pernyataan Kendra, "Ayang kenapa sih?"
Laki-laki itu mengangkat kepalanya. Namun dia tetap menunduk, tidak berani menatap gue. "Aku pengen jadi suami yang bisa selalu buat kamu bahagia. Tapi nyatanya, baru sehari kita menikah aku udah ninggalin kamu. Aku udah bikin kamu nangis kayak gini. Bahkan aku udah ngerusak rencana bulan madu kita. Dan lagi, aku malah marah-marah sama kamu setelah semua yang udah aku lakuin ke kamu. Aku emang payah banget."
"Ayang kok gitu" gue nggak suka dia nyalahin dirinya sendiri. Biar bagaimana pun gue juga salah udah kabur dan bikin dia kesel.
"Aku cuma takut kamu kenapa-napa. Aku nggak bisa ada di sisi kamu buat jagain, karena itu aku kirim orang buat jemput kamu pulang. Setidaknya kalau di rumah, aku bisa sedikit tenang. Tapi waktu aku tahu kamu malah pergi, aku emosi. Apalagi liat kamu kelayapan dengan penampilan kayak gitu. Semua logika aku langsung ilang. Dan akhirnya, aku malah marah-marah sama kamu. Maafin aku ya"
"Enggak. Ayang nggak salah. Aku yang salah. Seharusnya aku lebih ngertiin kerjaan ayang. Bukannya malah main kabur-kabur kayak anak abege."
"Tapi kamu kayak gitu karena aku udah bikin kamu kesel duluan. Bulan madu kita gagal karena kerjaan aku kan? Wajar kalau kamu marah."
Gue menggelengkan kepala, "Kita sama-sama belajar aja ya yang. Aku bakalan belajar buat jadi lebih dewasa. Nggak mbangkang-mbangkang lagi jadi istri. Yang udah berlalu ya biarkan aja berlalu. Kita jadiin pembeljaran buat ke depannya."
Kendra tersenyum mendapati sikap bijaksana gue. Gue aja cengo bisa ngomong kayak gitu. "Istri aku luar biasa sekali sih omongannya" dia mengacak rambut gue. "Kamu bener. Biar kita sama-sama belajar dari kejadian ini. Aku juga akan mencoba lebih pengertian sama kamu, dan belajar untuk mengontrol emosi aku. Makasih ya, kamu udah bikin aku merasa beruntung banget jadi seorang suami."
"Ayang iiih.. kalau gitu peluk aku dong" jangan harap suasana haru biru ini gue sia-siain gitu aja. Tetap harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
"Sini peluk" kedua lengan kekar itu merengkuh gue dalam dekapannya. "Tapi lain kali jangan keluyuran pake baju kurang bahan kayak gitu lagi. Aku nggak suka"
"Iya..iya.. Tapi kalau pakai baju kurang bahannya di depan kamu aja gimana?"
"Kalau itu aku suka. Pake banget"
"Kalau gitu beliin lingerie yang banyak ya. Kostum buat cosplay juga boleh. Mau cosplay perawat seksi, bunny-bunny, atau macan liar hayuk atuh."
"Sebelum beli, mandi dulu aja gimana. Bau nih"
Emang ya suami gue, suka merusak suasana. Dengan wajah kesal, gue mencubit perutnya kasar,
"Aa..aduh yang.. sakit" rintihnya mengelus bekas cubitan maut gue.
"Salah sendiri. Ngeselin" cerca gue sebelum membalikkan badan menuju ke kamar mandi.
Eh, emang gue bau beneran ya?