Horizon

Horizon
Episode 60



"Ngapain ketawa?" si Mamas curiga, gue bisa liat ekspresi keheranannya dari pantulan di kaca.


"Muka aku yang.. kayak abis dicrotin sama kamu" gue cekikian.


"Sasa.." Kendra nepok jidatnya sendiri.


"Lagi dong yang" sekarang gue malah menghampiri Mas suami, berharap dikasih lebih, "Tapi pake mayo ekslusif pabrikan Mas Ken-Ken ya? Langsung dari sumbernya" dengan seduktif, gue mainin tali kolor celananya.


"Mubadzir dong. Mending ditampung rahim kamu"


"Ya udah ayok" baru gue mau narik dia ke kamar, tangan gue dipegangin sama Kendra.


"Masih sore juga. Kencan dulu aja yuk?"


"Hah? Kencan? Tumben ngajakin kencan. Kemana?" muka gue penuh harap.


"Ketempat yang kamu suka pokoknya. Gelap-gelapan" Kendra kasih satu kedipan genit.


Mata gue berbinar mendengar kata gelap-gelapan, "Iiih ayang.." gue pukul manja dada Kendra, "Mau ngajakin nonton ya? Gelap-gelapan gitu? Nonton apa?" gue makin antusias.


Mas suami ngedeketin mukanya ke muka gue "Kamu maunya nonton apa?"


"Film biru" jawab mulut lemes gue nggak pake rem.


Kendra mendengus kasar, "Ya udah sana buruan siap-siap. Aku tunggu"


"Yes.. nonton film biru sama ayang.. nonton film biru sama ayang" gue goyangin pantat ke kiri dan ke kanan, nari-nari sambil jalan ke kamar buat siap-siap.


"Bukan film biru juga kali" teriakan Kendra nggak gue gubris sama sekali karena sekaang gue lagi sibuk milih outfit yang enak dipake buat gelap-gelapan. Sementara itu, Mas suami kembali duduk di kursinya dan menyelesaikan sisa makanan gue yang masih ada di piring.


***


Sekedar informasi, bukan gue yang lama dandan. Tapi suami gue yang lama buat didandanin.


"Udah aku bilang kan jangan pake atasan itu sama celana yang itu. Ganti-ganti" gue mengibaskan tangan memberikan a big no untuk outfit pilihan Mas suami.


"Iya. Ini aku ganti" dia masuk lagi ke kamar.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Kendra keluar dengan setelan celana hitam panjang, jaket wuwang, dan kupluk bayi.


"Kamu pilihin deh yang.. aku bingung mau pake apa?" dia teriak dari depan closet.


Daripada nggak kelar-kelar, gue segera turun tangan. "Pakai ini aja, celana jeans casual" ucap gue sambil ngelorot satu persatu bajunya dari dalam closet. "Trus outernya yang ini. Nggak usah terlalu necis nanti menarik perhatian wanita-wanita haus pria tampan. Dan.. satu lagi. Topi item biar kegantengan kamu nggak bikin perawan pingsan"


Mas suami nurut aja gue dandanin. "Udah ini?" ucapnya sambil melihat hasil karya gue dari depan cermin.


"Em.. bentar-bentar" gue buka gesper celanya sebentar buat ngintip isi di dalemnya.


"Mau liat apa? Kesukaan kamu?" dia ngeledek.


"Cuma mau mastiin ayang pake ****** couple-an kita kok. Nggak ngintipin uwu" gue berkilah. "Tapi si uwu betah banget di dalem. Nggak pengen melanglang buana ke jagatnya gitu?"


Kendra menyeringai, lelaki itu melangkah ke depan, membuat gue mundur hingga punggung gue menyentuh kaca di closet. Kedua tangannya dia letakkan di sisi kanan dan kiri bahu gue, kepalanya mendekat, mengurung tubuh gue dalam tatapan tajamnya. "Jadi mau dienakin sekarang? Ngga jadi kencan ini?" Mas suami kasih pilihan.


Gue mikir-mikir sebentar, "Em.. kencan sambil dienakin? Kan belum pernah yank.. nyobain di mobil yuk?" ide gue brilian kan? Nggak mau kehilangan dua-duanya.


Kendra menghembuskan nafas kasar, "Susah emang ngomong sama kamu. Ya udah, sekarang masuk mobil"


"Di jok depan apa belakang?" gue antusias.


"Ya jok depan lah. Kita kan mau pergi kencan."kilah si seksi.


"Loh, ngenakinnya kapan?" bibir gue tertarik turun.


"Orang ada kamar. Ngapain sempit-sempitan di mobil"


"Kan suasana baru yang.." gue masih mencari peruntungan.


"Udah yuk berangkat" Kendra dorong bahu gue ke arah bagasi samping.


"Di mobil sambil *****-***** ya?" pinta gue sekali lagi.


Lelaki itu mendengus kasar, "Nanti aku nggak konsen!"


"Dikiiit aja.. ya? ya? ya?" percuma ngerengek, Mas suami buru-buru nyungsepin gue di jok penumpang. Ngiket sabuk pengaman erat-erat biar gue nggak pecicilan.