Horizon

Horizon
Episode 73




Sebuah gapura keabu-abuan menjulang tinggi dengan semboyan dan logo TNI di kanan kirinya. Jalanan lebar membentang dipagari pohon palem dan lampu-lampu penerangan di kanan kirinya. Menelusuri jalan itu, bangunan demi bangunan bercat hijau army dengan gaya klasik sentuhan era pendudukan Belanda berjajar rapi. Masing-masing difungsikan sebagai kantor pendayagunaan satuan batalyon yang bermarkas di kompleks ini. Tidak banyak yang bisa dilihat di malam hari. Hanya beberapa anggota yang sedang berpatroli atau menjalankan dinas malam. Dari sekian banyak bangunan yang lampunya telah padam, ada satu yang masih ramai dan penuh kehebohan. Mobil Kendra berhenti di depan bangunan itu.


Saat mesin mobil dimatikan, terdengar sayup-sayup kegaduhan dari dalam sana. Suara dentingan bahan alumuniun, benda-benda yang berjatuhan, dan hiruk pikuk manusia yang geger karena satu teriakan temannya, "Pak Bos datang cuk.. Pak Bos datang!!". Bisa gue denger Kendra mengumpat lirih karena kelakuan anak buahnya yang entah melakukan kekacauan apa di dalam sana. Yang jelas ada yang mengaduh dan mengumpat satu sama lain karena saling bertabrakan, ada yang berteriak karena terinjak kaki temannya, dan ada yang saling menyalahkan karena menjatuhkan sesuatu.


"Ada apaan sih yank di dalem? Rame bener" gue menoleh ke kanan, mendapati wajah Pak Komandan yang berdecak kesal.


"Hadoh.. ngapain lagi mereka ini. Bentar ya aku cek ke dalem dulu. Kamu tunggu sini" pesan Mas suami sebelum bergegas membuka pintu mobilnya.


Merasa penasaran, gue diem-diem ngintip dari balik jendela, kehebohan apa gerangan yang sedang terjadi. Nggak banyak yang bisa gue saksikan dari sudut pandang ini, hanya sebuah ruang dengan perlengkapan seperti dapur, terdapat pisau, telenan, sayur, dan bumbu-bumbu yang sekarang terbengkalai di dekat wastafel. Satu baskom penuh kerang yang masih basah karena baru saja disikat jatuh berserakan. Dan beberapa tentara-tentara muda yang menekuk mukanya takut-takut sedang ditegur komandannya.


"Siap Ndan" jawab mereka keras dan mantap.


"Sttt... jangan keras-keras. Kedengeran istri saya di luar nanti"


"Siap Ndan" mereka kompak dengan nada yang lebih rendah.


"Nanti kalau saya udah bawa istri saya masuk, kalian keluar lewat pintu belakang. Jangan bikin gaduh lagi, awas kalau saya sampai gagal keren di depan istri saya karena kalian" ultimatum Pak Komandan dijawab dengan tegas oleh tentara-tentara muda itu, kemudian mereka segera membubarkan diri melaksanakan perintah atasannya.


Melihat Kendra membalikkan badan, gue segera berlari kecil kembali ke dalem mobil. Pura-pura nggak tau aja daripada si ganteng sedih karena gagal keren. Sosok tegap Mas suami terlihat keluar dari bangunan itu menuju tempat dimana gue duduk sekarang. Dengan senyum romantisnya, dia membukakan pintu dan menggengam tangan gue, membawa gue masuk ke dalam. Kondisi dapur kali ini terlihat lebih rapi daripada yang gue intip lima menit yang lalu. Kerang-kerang yang berceceran sudah kembali ke baskom. Bumbu-bumbu dan sayur-sayuran juga berjajar rapi di dekat kompor. Di ujung kanan tempat memasak, ada sebuah meja kecil dengan dua kursi saling berhadapan. Sebuah lilin dan satu vas kaca bunga mawar menghiasi atasnya. Kendra menyuruh gue duduk di situ.