
Tapi permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Tau kendit kan? Kain selebar telapak tangan yang puaaanjangnya dari Sabang sampai Merauke. Fungsinya sih sama kek ikat pinggang. Karena nggak kelar-kelar nglepasinnya, Tristan dengan seenak jidat main tarik gitu aja sampai bikin gue muter-muter di tempat. *** emang. Dikira gue komidi putar?
Nggak ada waktu buat protes, karena ada yang mendesak perlu dituntaskan di bawah sana. Gue buru-buru ngacir menempatkan diri.
Ah.. lega.
"Tuh kan bos. Kelengkungan pipis lo udah beda dari yang kemarin. Sekarang melengkung lebih cantik dan menyembur lebih ganas. Siapa dulu dong gurunya" seet dah.. itu kutu kupret ngapain ngintipin cacing Alaska gue.
"Wong gendheng..!" gue napuk kepalanya.
Baru mau mengaduh, ponsel di saku celana lelaki yang lebih tinggi dari gue itu berbunyi.
"Halo.." dia mengangkatnya, " Inggih buk.. niki nembe ten kamar mandi. Nggih..." jawabnya menggunakan bahasa Jawa halus.
Gue mengangkat alis setelah Tristan memutus sambungannya, "Siapa?"
"Nyokap lo nanya dimana. Acara udah mau mulai. Buruan cepet jariknya dipake lagi"
Kekacauan berikutnya pun terjadi. Gue sama Tristan sama-sama nggak tau gimana cara make jarik yang baik dan benar. Diburu waktu, kita cuma sembarang iket sana iket sini. Alhasil, jadilah bagian perut gue keliatan mlendung dikarenakan kendit yang asal pasang.
Si Tristan garuk-garuk kepala, "Bos, perut lo kayak orang hamil deh"
Gue liat ke kaca. Sial..! Mana ada tentara punya perut kayak gini. Biarin lah.. udah mepet juga waktunya. Daripada gue gagal nikah cuma karena kendit, mending gue ijab qabul dengan perut mlendung.
Tristan mengedipkan mata untuk beberapa kali sebelum dia menyadari sesuatu, "LO NGELEDEK GUE BOS?" ya bagus deh kalo nyadar.
***
"Qabiltu nikahaha wa tazwijaha Khanza Wala Palesa binti Bakti Wiraguna alal mahril madzkur wa radhiitu bihi, wallahu waliyu taufiq" tepat dengan satu tarikan nafas qabul itu terucap dengan lancar.
"Bagaimana, sah?" penghulu meminta kesaksian dua orang disampingnya.
"Sah" jawab mereka serentak.
"Alhamdulillah" semua hadirin mengucap syukur dengan mengusapkan kedua telapak tangan mereka ke muka. Sementara itu, Papa mertua gue mengeratkan genggamannya sebelum melepas jabat tangan kami. Seolah-olah ingin mengatakan, sudah selesai tugasku, sekarang putriku adalah tanggungjawabmu. Gue membalasnya dengan anggukan mantap dan mata yang berbinar-binar menanti bidadari surga itu diboyong ke pelaminan.
Cantik.. bahkan kata itu tidak cukup untuk mendeskripsikan tulang rusuk yang kini sudah bersatu kembali dengan tulang punggungnya. Dengan balutan kebaya bernuansa putih, wanita yang kini sudah sah gue peristri itu berjalan perlahan menuju sisi tempat dimana gue duduk sekarang. Dia tersenyum, senyum yang sangat indah, membuat waktu gue terasa berhenti sesaat. Binar di wajahnya sungguh kentara menguarkan aura pengantin yang elok mempesona.
Khanza duduk di samping gue. Kepalanya menunduk ketika tangan kami saling bersentuhan. Dia kemudian mencium tangan gue, perlambang bakti seorang istri. Setelah kepalanya kembali mendongak, gue mendekat dan mencium keningnya.
Istriku.. kini kita bersatu dalam arungan biduk rumah tangga. Aku berjanji, hanya akan ada namamu dalam setiap tarikan nafas ini sampai nanti kita sampai di penghujung usia. Hanya kamu... wahai penyempurna agamaku.
Kita saling menarik diri dan melihat satu sama lain. Diantara senyum bahagia wanita itu, gue menemukan titik-titik lembab di sudut matanya, seolah ia tahan agar tidak mengalir turun membasahi riasan sempurnanya. Gue mengusap pungung tangan Khanza pelan, memberikan ketenangan sebelum akhirnya meletakkan satu tangan gue di atas ubun-ubunnya dan melafalkan doa pernikahan. Diiringi untaian doa dan ucapan selamat seluruh hadirin di tempat itu, runtutan ijab qabul ini akhirnya selesai. Tujuan berikutnya adalah tempat resepsi.